
Happy Readingπ₯°
Evan mendatangi butik EMI untuk memastikan perasaan Elmira terhadapnya. Evan masih berharap kalau Elmira akan bercerai dengan Edgar, dengan begitu ia bisa mendekati Elmira.
Evan mendatangi meja bagian kasir untuk mencari Ratna. "Hai, Ra. Apa Elmira ada di sini?" tanya Evan ketika sudah bertemu dengan Ratna. Orang yang sering ia temui hanya untuk menanyakan keberadaan Elmira.
"Ah, i-iya, Pak. Bu Elmira ada di ruangannya," Ratna tampak gugup dan salah tingkah saat berhadapan dengan Evan. Entah mengapa jantungnya selalu berdetak tak beraturan jika berdekatan dengan Evan. Ratna rasa jantungnya sedikit bermasalah, sebab selama ini dirinya tidak pernah merasakan hal seperti itu.
"Ruangannya di sebelah mana, Ra?"
"Mari saya antar, Pak."
Evan mengikuti langkah Ratna yang menuju ke sebuah ruangan khusus di butik itu. Ratna hendak mengetuk pintu, namun lagi-lagi kejadian tadi terulang kembali. Membuat tangannya melayang di udara yang hanya tinggal beberapa senti akan mengenai daun pintu.
"Ssst! Aahh! Edgar!"
"Tahan sebentar sedikit lagi."
"Aduh, sakit! Aw!"
"Ini sudah mau keluar, Sayang."
"Aku sudah tidak tahan, Edgar. Rasanya sangat sakit."
"Aku sudah pelan-pelan, kok."
Wajah Ratna memerah layaknya kepiting rebus. Ia membulatkan kedua mata sempurna, merasa sangat malu mendengar suara-suara erotis itu. Apalagi di sampingnya ada Evan sungguh Ratna ingin lari dari dari sana. Jika hanya dirinya sendiri yang mendengar suara itu mungkin dia akan pura-pura tuli dengan apa yang dia dengar.
__ADS_1
Akan tetapi, saat ini dirinya bersama dengan seorang laki-laki yang berhasil memporak-porandakan hatinya. Ratna sangat bingung ingin bereaksi seperti apa di depan Evan.
Berbeda dengan Ratna yang merasa malu, Evan tengah menahan amarah di dalam dirinya. Ia tidak menyangka bahwa Elmira begitu cepat memaafkan Edgar. Evan mengepalkan kedua tangannya untuk meredam amarahnya, sungguh miris nasib Evan. Pertama kali merasakan jatuh cinta, tapi langsung dibuat patah hati karenanya.
Lebih tragisnya lagi, dia harus mendengar secara langsung percintaan Elmira dan Edgar dari balik pintu. Sungguh hatinya terasa nyeri, bahkan Evan tidak bisa berbuat apapun dengan statusnya yang bukan siapa-siapa bagi Elmira. Evan mencoba untuk menerima kenyataan bahwa dirinya tidak berjodoh dengan Elmira.
Evan sudah berjanji tidak akan merusak rumah tangga Elmira jika Edgar bisa membahagiakannya. Namun jika Edgar berani menyakiti Elmira lagi, maka Evan akan terang-terangan merebut Elmira dari tangan Edgar.
"P-pak, sepertinya Bu Elmira sedang sibuk," lirih Ratna sambil menundukkan wajahnya karena malu. Padahal bukan dirinya yang melakukan hal seperti itu, tapi dia sendiri yang merasa malu.
Evan tersadar bahwa dia sedang bersama dengan Ratna. "Sepertinya begitu, lain kali saja aku menemuinya. Maaf sudah mengganggu waktu kamu bekerja, Ra."
"Tidak apa-apa, Pak. Sudah tugas saya melayani para pengunjung dan tamu dari Bu Elmira."
"Terimakasih," setelah mengatakan itu, Evan langsung pergi meninggalkan butik EMI. Sepertinya dia butuh refreshing untuk merelaksasi pikiran.
Tidak dapat dibayangkan seberapa sakitnya melakukan hubungan seperti itu, jika mendengar suara Elmira yang terus berkata sakit. Ratna jadi takut untuk menikah, pasti rasanya akan sakit. Apalagi teman-temannya sering bercerita tentang pertama kali melakukan hubungan itu dengan pasangannya, yang mengatakan bahwa rasanya memang sakit.
Ratna tidak ingin memikirkan itu, lebih baik dia fokus bekerja karena masih banyak yang harus ia tanggung. Ratna sangat bersyukur bisa bekerja di butik EMI dan memiliki bos sebaik Elmira. Semenjak Ratna bekerja di sana, hidupnya menjadi lebih baik bahkan jauh lebih dari kata baik. Sebab Elmira menggaji nya dengan nominal yang sangat tinggi.
Sedangkan di dalam ruang kerja, Elmira sedang berusaha melepaskan anak rambutnya yang menyangkut pada kancing kemeja, Edgar. Entah kenapa kejadiannya bisa begitu. Intinya Elmira merasakan sakit di kepalanya, sebab rambutnya tidak bisa terlepas.
"Ayo, Mas. Cepat lepasin rambutnya!" sentak Elmira yang merasa geram terhadap Edgar karena terlalu lama melepaskan lilitan rambutnya di kancing itu.
"Sabar, Sayang. Aku masih berusaha, tapi rambut kamu terlalu erat melilit kancing kemeja aku."
"Terus bagaimana, Mas? Kepala aku sakit gara-gara rambutku di tarik-tarik dari tadi."
__ADS_1
Edgar berpikir sejenak untuk mencari ide melepaskan rambut Elmira dari kancingnya. Merasa tidak tega dengan sang istri, Edgar terpaksa mengorbankan dua kancing kemejanya yang menyangkut di rambut Elmira.
Sraaak!
Edgar menarik kemejanya hingga dua kancing itu terlepas dan rambut Elmira juga terlepas dari lilitannya. Membuat Elmira terkejut dengan tindakan Edgar. Ia tidak menyangka bahwa Edgar akan melakukan itu, padahal masih ada cara lain tanpa membuat kancing kemeja Edgar terlepas.
"Mas!" pekik Elmira dengan mata melebar.
"Sudahlah, jangan protes. Cuma dua kancing baju yang terlepas."
"Tapi, Mas ...."
"Aku sudah lapar, kita makan siang diluar ya." Edgar berdiri dari posisi duduknya lalu membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakan. Edgar menarik pergelangan tangan Elmira dengan lembut, membawanya keluar dari dalam ruangan dan menuju ke tempat parkir.
Elmira menurut saja dengan apa yang Edgar lakukan. Ingin protes pun tidak bisa, sebab Edgar tidak memberikan kesempatan untuknya berbicara. Hingga Edgar membawanya ke sebuah restoran yang jaraknya dekat dengan butik EMI.
"Ayo turun." Edgar membukakan pintu mobil untuk sang istri tercinta.
"Terimakasih, Mas." Elmira tersenyum manis kepada Edgar. Ia sangat tersentuh dengan perlakuan manis dari Edgar.
Mereka memasuki restoran dengan bergandengan tangan layaknya pasangan suami-istri. Karena pada kenyataannya mereka memang begitu. Banyak pasang mata yang menatap iri terhadap mereka berdua. Siapa yang tidak tahu dengan wajah dari anak pengusaha terkaya nomor satu dan nomor dua di kota itu. Elmira dan Edgar tidak perduli dengan tatapan kagum yang dilayangkan kearahnya dari orang-orang yang berada di dalam restoran itu.
Edgar memesan ruang VIP di restoran itu supaya acara makan siangnya tidak terganggu oleh orang-orang. Edgar ingin makan siangnya kali ini menjadi berkesan untuk Elmira dan dirinya. Suatu hal yang tidak pernah mereka lakukan setelah menikah. Karena Edgar selalu sibuk dengan dunianya dan tidak menghiraukan keberadaan Elmira di sisinya.
"Hari ini adalah hari teristimewa buat aku, El," batin Edgar penuh kebahagiaan.
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa tekan like dan tinggalkan jejak di kolom komentar ππππ