
Happy Reading 🥰
"Jangan memanjat, Sayang." Suara lembut sang istri yang memanggilnya dengan sebutan 'Sayang' sungguh membuat jantung Edgar berdegup sangat kencang. Ia mengusap tangan sangat istri yang melingkar di perutnya. Lalu membalikkan badan agar bisa menatap wajah sang istri.
"Kenapa, Sayang? Bukankah kamu menginginkan buah kelapa? Biarkan aku mengambilkannya." Edgar berkata dengan suara lembut.
"Tidak perlu, Mas. Aku sudah tidak menginginkannya."
Edgar mengerutkan keningnya saat mendengar penuturan Elmira. "Kenapa?" tanya Edgar penasaran. Sebab tidak biasanya Elmira tidak jadi mengidam.
"Maafkan aku, Mas." Elmira menundukkan kepala tidak berani menatap mata sang suami.
"Maksud kamu apa, Sayang?"
"Sebenarnya aku tidak mengidam buah kelapa yang di panjat langsung sama kamu."
"Lalu?"
"Aku hanya ingin menguji ketulusan dan kesabaran kamu dalam berjuang untuk memenuhi keinginan anak kamu. Aku juga ingin tahu apakah kamu benar-benar tulus mencintai aku apa nggak," ungkap Elmira panjang-lebar.
Edgar terperangah mendengar penuturan Elmira. Namun, tidak lama setelah itu Edgar mengulas kan sebuah senyuman indah di bibirnya. Ia mengangkat dagu sang istri supaya bisa bertatap muka dengannya.
"Sayang! Apa kamu masih tidak percaya kalau aku benar-benar tulus mencintai kamu, hum?" Edgar berkata pelan tepat di depan wajah sang istri hingga hembusan nafasnya menerpa wajah Elmira yang terasa begitu hangat.
"Aku percaya, Mas! Maaf ya kalau aku sudah keterlaluan."
"Its ok, Sayang."
__ADS_1
"Tapi, kamu tidak marah 'kan sama aku, Mas?"
"Untuk apa aku marah sama kamu. Wajar saja kamu masih belum yakin dengan ketulusan cintaku, El. Karena setelah apa yang aku lakukan di masa lalu pasti akan ada keraguan di dalam lubuk hatimu yang terdalam. Namun, satu hal yang harus kamu tahu, El. Cinta ku hanya untuk mu, Elmira!"
Kedua mata Elmira tampak berkaca-kaca. Ia sangat terharu dengan ungkapan cinta dari sang suami. Namun, ia juga merasa bersalah sudah mengingatkan kelakuan buruk suaminya di masa lalu. "Maafkan aku, Mas. Aku tidak bermaksud untuk menyinggung kamu. Padahal kita sudah sepakat untuk melupakan kejadian di masa lalu."
"Hey! Tidak masalah, Sayang. Aku mengerti." Edgar mengelus pipi sang istri dengan lembut.
"Terimakasih, Mas. Sudah memberikan 'Cinta Untuk Elmira' yang dulu sangat mengharapkan cinta itu. Kini sudah tercapai sudah."
"Karena kamu memang pantas mendapatkannya, El. Aku yang begitu bodoh sudah terlambat menyadari akan perasaan ini."
"Aku sangat mencintaimu, Edgar!" Elmira memeluk tubuh Edgar dengan erat.
"Aku lebih mencintaimu, Elmira!" Edgar membalas pelukan sang istri tidak kalah erat. Bahkan Edgar mengangkat tubuh Elmira lalu memutar tubuhnya hingga membuat tubuh Elmira juga ikut berputar.
"Ini sangat indah, Mas." Elmira menengadahkan kepalanya ke atas lalu merentangkan kedua tangannya untuk menghirup udara segar.
Edgar memeluk tubuh sang istri dari belakang. "Kamu jauh lebih indah dari apapun, Sayang. I love you," bisik Edgar tepat di telinga Elmira.
"Love you to, Mas." Elmira menolehkan kepalanya ke samping guna memperjelas ucapannya ke arah sang suami. Namun, ia di sambut dengan ciuman lembut dari Edgar.
Awalnya Edgar hanya menempelkan bibirnya saja. Namun lama-lama ia menggi*** dan melum** bibir sang istri yang begitu manis. Elmira menyambut ciuman Edgar dengan posisi yang sama. Berpelukan dari arah belakang, dan berciuman dari arah samping. Mereka sudah seperti pemain sinetron yang menayangkan adegan romantis. Sangat cocok dengan suasana di pinggir pantai, dan di cahayai oleh sinarnya senja.
"Aku berharap, rasa sakit yang dulu aku rasakan hilang bersama tenggelamnya senja. Hingga hari esok akan tergantikan oleh mentari pagi yang begitu indah menyinari bumi, serta membawa kebahagiaan untuk ku. Tuhan! Terimakasih sudah mengabulkan doaku dan memberikan cinta yang begitu besar kepadaku. Sungguh hidupku terasa sempurna dengan hadirnya cinta yang menyambut perasaan ini walaupun sedikit terlambat."
"Skenario Tuhan memang begitu rumit. Namun, akan indah jika kita mau bersabar menunggu hari dimana kita akan merasakan sebuah kebahagiaan yang tiada tara. Dulu, aku sempat putus asa dengan takdir yang Tuhan garisnya di dalam hidupku. Akan tetapi, takdir itu tidak berhenti begitu saja. Nyatanya ada takdir lain yang menyambut raga ini dengan sebuah cinta yang tiada batas. Hingga sekarang, aku tidak pernah mengeluh sedikitpun tentang sebuah kesengsaraan. Karena Tuhan telah memberikan segalanya untuk diriku."
__ADS_1
Elmira tiada hentinya mengucapkan syukur kepada Tuhan yang telah mengabulkan semua doa-doanya. Tuhan memang maha membolak-balikkan hati, hingga hati yang dulunya mati kini telah bersemi dengan sebuah cinta yang menjalar di dalam jiwa.
"Tuhan! Terimakasih sudah mengirimkan seorang istri yang begitu sempurna di mataku. Beruntungnya diriku bisa mendapatkannya, dan bodohnya aku sudah pernah menyia-nyiakan dirinya. Takdir mu sunggu membuat ku tak bisa berkata-kata. Hanya satu yang aku harapkan, Tuhan. Jangan pisahkan aku dengan istriku tercinta. Aku tidak bisa membayangkan hidupku jika tanpa dirinya. Terimakasih juga, telah memberikan kami karunia yang begitu indah."
Edgar pun juga bersyukur di dalam hati, seperti apa yang Elmira ucapkan. Mereka seolah mengungkapkan isi hati masing-masing yang di saksikan oleh senja. Sangat indah bukan? Bahkan dulu cinta Elmira bertepuk sebelah tangan. Namun, sekarang Edgar lah yang lebih mencintai Elmira, dan takut kehilangannya.
Ciuman mereka terlepas bersamaan dengan tenggelamnya senja. Hembusan angin yang menerpa wajah Elmira membuat anak rambutnya sedikit berantakan. Namun aura kecantikannya tidak sedikitpun memudar. Membuat Edgar semakin tergila-gila dengan wanita cantik yang berada di dalam dekapannya. Rasanya Edgar tidak ingin melepas pelukan itu agar dirinya tidak takut kehilangan Elmira.
Cup!
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu! Elmira!" Edgar kembali melum** bibir sang istri dengan sangat dalam. Membuat Elmira terhanyut dengan ciuman itu.
Elmira membalikkan badan agar lebih leluasa berciuman dengan Edgar. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher sanga suami. Membuat Edgar dengan reflek mengangkat tubuh Elmira hingha kedua kaki sang istri melingkar di pinggangnya.
Dengan perlahan Edgar melangkahkan kaki membawa Elmira menuju kearah mobilnya yang terletak tidak jauh dari bibir pantai. Tidak butuh waktu lama, akhirnya Edgar berhasil sampai di depan mobil dengan posisi yang sama.
Edgar mendudukkan Elmira di atas mobil bagian depan lalu merebahkan. Dengan posisi menggantung ke bawah. Edgar menindih tubuh Elmira sambil lalu tangannya mulai melucuti pakaian di tubuh sang istri. Membuat Elmira terkesiap kaget, dan langsung melepaskan ciumannya.
"Mas! Jangan di--Emph."
Edgar tidak memberikan kesempatan untuk Elmira berbicara. Ia terus melancarkan aksinya hingga lupa jika dirinya ada dimana.
"Eungh! Aahh!"
...----------------...
Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar 😘
__ADS_1