
Happy Reading🥰
Ketika sampai di kediaman Winata, Elmira turun dari dalam mobil dengan wajah yang terlihat kusut. Keinginan untuk terlepas dari rasa trauma, berakhir dengan perasaan yang sama. Rasa trauma itu masih melekat dengan sempurna di dalam diri Elmira. Saat akan memasuki rumah, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Elmira dari luar gerbang di depan rumahnya.
"Elmira! Tunggu! Aku ingin berbicara sama kamu! Aku mohon, izinkan aku masuk ke dalam! Aku janji tidak akan melakukan hal jahat!" pinta Edgar dengan teriakan kencangnya. Membuat sang istri langsung menghentikan langkahnya. Bahkan Evan dan Maya yang ingin pergi dari rumah Elmira langsung menghentikan gerakannya.
Edgar terus memohon agar ia di izinkan masuk ke dalam. Ia benar-benar merindukan Elmira, rasanya tubuhnya tidak bertenaga setelah lama tidak bertemu dengan Elmira. Sedangkan Elmira menatap Edgar dengan nanar. Sebenarnya jauh dari lubuk hatinya yang terdalam, Elmira masih mencintai Edgar. Namun ia merasa tidak pantas bersanding dengan siapapun, termasuk dengan Edgar. Elmira masih merasa jijik dengan tubuhnya.
Elmira menatap petugas yang berjaga di dekat gerbang, lalu menganggukkan kepala kepadanya. Yang mengisyaratkan untuk membuka gerbang itu supaya Edgar bisa masuk ke dalam rumah. Edgar tersenyum senang, sebab mendapatkan izin dari Elmira. Edgar berlari dengan kencang guna mempercepat langkahnya untuk menemui Elmira.
Grep!
Edgar mendekap tubuh Elmira dengan hangat. Rasanya Edgar tak ingin melepaskan pelukan itu. Apalagi Elmira tidak menolak pelukan darinya. "Aku sangat merindukanmu, Elmira. Kamu baik-baik saja 'kan?" ucap Edgar dengan posisi yang sama.
"Aku baik-baik saja. Terimakasih sudah mencemaskan ku," jawab Elmira dengan suara lembut. Sikap Elmira sudah tidak dingin lagi terhadap Edgar. Ia sudah tahu bahwa Edgar lah yang menolongnya dari keempat pria yang hampir melecehkannya. Elvaro yang bercerita kepadanya, bahwa Elmira masih suci.
Akan tetapi, Elmira tetap merasa jijik dengan tubuhnya yang sudah dia anggap kotor. Hati Elmira sedikit mencair mengetahui fakta itu. Pahlawannya di masa lalu datang kembali pada keadaan yang sama. Rasanya Elmira ingin membalas memeluk Edgar, namun ia tak kuasa. Sebab selalu merasa dirinya tidak pantas untuk melakukan kontak fisik dengan seorang laki-laki.
Untuk kali ini, Elmira mengizinkan Edgar memeluknya. Mungkin bisa di katakan pelukan perpisahan. Karena setelah ini Elmira benar-benar akan pergi dari kehidupan Edgar.
Evan merasa tidak rela Edgar memeluk Elmira dengan begitu erat. Laki-laki yang sudah berani menyakiti wanita yang dia cintai di depan matanya. Namun saat melihat respon Elmira, hati Evan seakan tercubit. Ia berpikir bahwa Elmira masih mencintai Edgar, dan mereka tidak jadi berpisah. Baru juga merasakan apa itu cinta, tapi langsung di patahkan oleh sebuah fakta.
__ADS_1
Evan bergegas pergi dari rumah Elmira bersama dengan mamanya. Hatinya tidak sanggup melihat pemandangan di depan matanya. Rasa cemburu bergejolak di dalam hatinya. Namun apalah daya, Elmira dan Edgar masih sah menjadi pasangan suami-istri. Jadi, Evan tidak pantas untuk mencegah mereka bermesraan. Hanya saja Evan kecewa dengan perjuangan yang ia lakukan untuk mendapatkan hati Elmira.
Edgar sangat senang mendengar jawaban dari Elmira yang begitu menyejukkan hati. Istrinya sudah kembali seperti dulu lagi. Mereka berdua masuk ke dalam rumah lalu duduk di ruang tamu.
Amanda terkejut melihat Edgar ada di dalam rumahnya. Padahal selama beberapa hari ini keluarga Winata melarang keras Edgar memasuki rumah itu apalagi untuk menemui Elmira. Jika ada Elvaro di sana pasti dia akan menghajar Edgar habis-habisan. Walaupun Edgar yang menyelamatkan Elmira saat kejadian di pantai. Namun Keluarga Winata tidak serta-merta memaafkan perilaku buruk Edgar sebelumnya.
"Ngapain kamu kesini, huh!" bentak Amanda kepada sang menantu yang sudah tidak dianggap.
"Aku yang mengizinkan dia masuk ke dalam rumah, Ma. Jadi, biarkan kami bicara empat mata." Elmira berkata dengan nada memohon kepada mamanya.
"Tapi, Sayang. Jika dia berbuat jahat lagi sama kamu, bagaimana?"
"Ma, percaya sama aku. Edgar tidak akan melakukan kesalahan yang sama dengan mengulang kesalahan di masa lalu."
Edgar hanya diam saja, ia benar-benar malu terhadap keluarga Winata. Namun ia akan membuktikan kepada keluarga Winata, bahwa dirinya telah berubah.
"Mau minum apa, biar aku ambilkan?" tanya Elmira dengan sopan. Bahkan ia memperlihatkan senyuman indahnya.
"Tidak perlu repot-repot, Sayang. Aku hanya ingin melepas rindu bersamamu. Duduklah!" Edgar menarik pergelangan tangan Elmira dengan pelan supaya kembali duduk di sampingnya.
"Baiklah! Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."
__ADS_1
"Bicaralah, Sayang. Aku siap mendengarkan." Edgar tersenyum manis kearah Elmira.
"Huf!" Elmira menghembuskan nafas kasar sebelum memulai percakapannya. "Pertama-tama, aku mengucapkan terimakasih sama kamu, karena sudah menolong aku waktu itu."
"Sayang! Kenapa harus bilang terimakasih? Memang tugas ku untuk menjaga kamu sebagai istri aku."
Elmira hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Edgar. "Aku mohon, tolong tanda tangani surat perceraian kita, Edgar," tutur Elmira dengan tatapan memohon.
Deg.
Edgar terhenyak dengan permohonan Elmira. Ia kira Elmira sudah melupakan surat gugatan cerainya. Ternyata Edgar salah, istrinya tetap bersikukuh ingin bercerai dengannya. Pupus sudah harapan Edgar untuk mempertahankan rumah tangganya. Lidahnya seakan keluh untuk sekedar menjawab perkataan Elmira.
"Sayang, aku mohon, berikan satu kesempatan lagi buat aku untuk mempertahankan rumah tangga kita. Aku janji tidak akan mengulang kesalahan yang sama, yang pernah aku lakukan sama kamu." Edgar menggenggam tangan Elmira dengan lembut. Matanya menyiratkan kesungguhan dan kesedihan atas apa dia ucapkan.
"Maaf, Edgar. Tapi, aku rasa memang lebih baik jika kita berpisah saja. Tidak ada gunanya mempertahankan rumah tangga yang tidak ada cinta di dalamnya. Jujur, aku masih mencintai kamu. Sebab kamu adalah laki-laki pertama yang sudah membuat ku jatuh cinta."
"Aku akan belajar mencintaimu, Elmira. Bahkan sekarang sudah ada getaran di hatiku ketika aku berdekatan denganmu. Bahkan saat berjauhan pun aku merasakan rindu yang teramat dalam. Jadi, aku mohon beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya dari nol. Tidak! Bukan satu kesempatan, tapi berikan lah aku kesempatan terakhir. Jika aku mengulangi kesalahan yang sama, maka kamu bebas mau menggugat cerai aku lagi." Edgar sangat bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Sehingga membuat Elmira merasa dilema.
"Seandainya dari dulu kamu menawarkan cinta untuk ku, pasti aku akan menjadi wanita yang paling bahagia, Edgar! Tapi ... Bukankah sekarang sudah terlambat kamu mengatakan ingin belajar mencintaiku?" batin Elmira penuh dilema.
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar 😘