
Happy Reading๐ฅฐ
Elmira pulang ke rumah tepat jam 5 sore. Ia memarkirkan mobilnya di dalam garasi. Di sana sudah ada mobil Edgar yang telah terparkir rapih di samping mobilnya.
"Tumben Edgar pulang awal, biasanya juga jam sembilan malam baru pulang." ucap Elmira merasa heran.
Elmira memasuki rumah dengan langkah pelan. Melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga, hingga suara bariton menghentikan langkahnya.
"Bagus ya, suami lagi kerja, kamu malah asik keluyuran di luar sana." cetus Edgar dengan tatapan sinis nya.
"Maaf, Mas! Tapi aku tidak keluyuran. Aku juga tahu kalau kamu tidak benar-benar bekerja!"
"Apa maksud kamu, huh?" Edgar menatap nyalang ke arah Elmira. Ia tidak terima dengan ucapan Elmira.
"Sudahlah, Mas. Kamu pasti tahu apa maksud ucapanku. Aku bukan hanya sekedar menuduh, tapi aku membicarakan sebuah fakta." tandas Elmira. Entah dari mana datangnya keberanian itu, hingga Elmira berani berkata tegas di depan Edgar.
Edgar yang ingin mengeluarkan serangan balik, menghentikan aksinya. Sebab Elmira lebih dulu pergi menaiki anak tangga, dan meninggalkan dirinya di sana.
"Sialan! Berani sekali dia berkata seperti itu. Aku terlalu baik kepadanya sampai membuat dia ngelunjak. Aku harus lebih tegas kepada wanita j*lang itu mulai besok." Edgar membulatkan tekadnya untuk memberikan pelajaran kepada Elmira.
Elmira turun dari atas, menuju ke ruang dapur. Ia akan memasak untuk makan malam nanti. Edgar yang berada di ruang tengah merasa penasaran dengan masakan Elmira. Diam-diam Edgar mengintip dari balik tembok demi melihat makanan apa yang Elmira olah.
Wangi masakan itu terdengar menggiurkan di indera penciumannya. Edgar sampai menelan ludahnya kasar. "Tidak! Aku tidak boleh tergoda dengan aroma masakan wanita j*lang itu. Pasti dia sudah menaruh racun di dalamnya. Dia kira aku ini bodoh apa." monolog Edgar dengan segala prasangka buruknya.
Hati Edgar sudah tertutup, tak dapat melihat Elmira dari sisi baiknya. Edgar kembali ke ruang tengah melanjutkan acara menonton televisi, sebab nanti malam akan ada pertandingan sepak bola piala dunia. Edgar memang hobby menonton pertandingan sepak bola. Sesibuk-sibuknya dia bekerja jika ada pertandingan sepak bola pasti Edgar akan menyempatkan waktu untuk menonton tayangan itu.
Pernah juga suatu ketika, Alexa memarahinya karena terlambat menjemputnya untuk pergi ke salon. Itu karena Edgar bangun kesiangan sehabis menonton pertandingan sepak bola. Alexa paling tidak suka dengan pertama sepak bola. Menurutnya tayangan itu sangat membosankan. Maka dari itu Alexa melarang keras agar Edgar tidak menonton pertandingan sepak bola.
__ADS_1
Malam ini saja Edgar harus berbohong kepada Alexa bahwa dirinya tidak bisa datang ke apartemen karena ada acara makan malam bersama dengan keluarga besar Addison. Jika sudah menyangkut keluarganya, Alexa tidak bisa memaksa Edgar untuk datang ke apartemennya.
"Mas! Kita makan malam bersama ya?" ajak Elmira dengan tatapan memohon.
Edgar merasa terganggu dengan kehadiran Elmira yang tiba-tiba berada di sampingnya. "Tidak! Aku tidak lapar! Lebih baik kamu makan saja sendiri." Edgar menolak mentah-mentah niat baik Elmira.
"Mas! Aku masak banyak cuma demi kamu. Makanlah meskipun sedikit, Mas."
"Kamu tuli atau tidak mengerti dengan bahasa manusia sih? Udah di bilangin aku tidak mau masih saja maksa! Emang pada dasarnya kamu itu wanita pemaksa. Seperti kamu yang memaksa untuk menikah dengan aku!"
Nyes!
Nyeri yang Elmira rasakan di hatinya. Niat hati untuk mengajak Edgar makan malam bersama, namun lagi-lagi cacian yang dia dapatkan. Perih! Sangat perih luka di hati Elmira. Tidak bisakah Edgar menghargainya barang sedikit saja? Kenapa harus menolak dengan cara kasar jika dia bisa berkata dengan baik?
"Dasar! Cengeng! Nangis terus bisanya! Aku muak melihat tangisan buaya, kamu!"
"Diam! Jangan pernah menyalahkan aku! Semua masalah itu datangnya dari kamu wanita j*lang!"
Tangis Elmira semakin pecah, hatinya begitu hancur. Kata-kata yang terlontar dari bibir Edgar bagaikan ribuan tombak yang menghantam hatinya. Rasanya seperti di remas-remas, dada Elmira terasa sesak karenanya.
"Baiklah, Mas. Jika kamu benar-benar tidak bisa menerima aku sebagai istri kamu. Baik, aku akan kabulkan keinginan kamu. Tapi, dengan satu syarat."
"Apa syaratnya? Jangan terlalu berbelit-belit deh. Kamu mau uang berada dariku, huh? Biar aku tulis nominalnya."
"Jangan sombong, Mas. Semua harta yang kamu miliki itu adalah milik papa kamu, bukan milik mu sendiri, dan juga apa kamu lupa? Aku bukan wanita dari kalangan tidak mampu! Jadi aku tidak akan mengemis uang dari kamu!"
"Cepat katakan apa syaratnya! Jangan banyak bacot!"
__ADS_1
"Berikan aku waktu 1 bulan untuk bisa mendapatkan cinta kamu, Mas. Jika dalam waktu itu aku tidak bisa membuat mu jatuh cinta sama aku, maka aku akan melepaskanmu, dan juga akan mengurus surat perceraian kita. Tapi ... Jika dalam waktu 1 bulan ternyata kamu mencintai aku, maka aku akan mempertimbangkan perceraian itu. Bagaimana?"
"Hahahaa ... Hahahaa ...." Edgar tertawa sangat nyaring, hingga memenuhi ruangan itu.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Hey, wanita j*lang! Kamu fikir aku akan jatuh cinta sama wanita murahan seperti kamu? Cih! Mimpi!"
"Kamu setuju atau tidak, Mas!" Elmira tidak menggubris ucapan Edgar. Ia kembali menanyakan syarat yang dia buat.
"Oke, aku setuju! Karena aku yakin, kamu tidak akan pernah mendapatkan cinta dariku!"
"Oke! Kita lihat saja nanti, Mas!"
Kesepakatan itu akhirnya terjadi juga. Membuat keduanya saling tatap, menyiratkan aura permusuhan di sana.
"Aku akan pastikan dalam satu bulan ke depan, kamu akan jatuh cinta sama aku, Mas!"
"Sampai kapanpun, cintaku hanya untuk Alexa! Tidak akan berpaling kepada wanita j*lang sepertimu!"
Elmira terpaksa makan malam sendirian di ruang makan. Meninggalkan Edgar yang masih setia duduk di ruang tengah. Semoga keputusan yang Elmira ambil adalah keputusan yang tepat.
Edgar terbayang dengan tatapan mata Elmira yang menyiratkan rasa cinta. Baru tadi ia bertatap muka secara lama bersama Elmira. Ia melihat wajah cantik Elmira dari jarak dekat. "Elmira ternyata cantik juga, sepertinya kecantikannya sangat alami." gumam Edo manggut-manggut.
"Tidak! Kenapa mulut ku bisa memuji wanita j*lang itu? Dasar, mulut tidak tahu diri." Edgar memukul pelan bibirnya. Ia tak habis pikir dengan apa dia ucapkan. Edgar sangat menyesal mengeluarkan pujian itu. Seharusnya ia terus mencaci maki Elmira bukannya membayangkan wajah ayu sang istri. Jika Alexa tahu pasti dia akan sangat marah.
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak si kolom komentar ๐ค๐๐๐