
Happy Reading🥰
Sreeet!
Bruk!
Ratna tersentak kaget manakala tubuhnya menubruk dada bidang milik seorang laki-laki yang ternyata adalah Evan. Jantungnya kembali berdebar ketika Evan tersenyum kepadanya. Sebuah senyuman manis dan tulus yang Evan tunjukkan. Sungguh jantung Ratna berdebar tak karuan.
"Pak! Apa yang anda lakukan?" tanya Ratna setengah berbisik, sebab takut terdengar oleh orang-orang yang ada di butik EMI.
"Aku hanya ingin berduaan dengan calon istriku!"
Wajah Ratna seketika memanas saat mendengar ucapan Evan. "M-maksud bapak apa?"
"Evan! Panggil namaku saja. Masa sama calon suami manggilnya bapak? Memangnya saya sudah tua?"
Ratna hanya bisa melongo dengan apa yang diucapkan oleh Evan. Ratna merasa kalau Evan bukan lah Evan yang dia kenal. Karena yang Ratna tahu Evan itu irit bicara, sangat berbeda dengan sekarang yang cerewet, dan sedikit aneh.
Namun dalam hati Ratna merasa senang melihat perubahan dari Evan yang menurutnya sangat lucu. Ia suka dengan sikap Evan yang sekarang. Kalau sudah begini tidak ada gunanya ingin menjauh dari Evan. Lebih baik Ratna ikuti saja permainan Evan terhadapnya. Ya, Ratna menganggap semua ucapan Evan hanya sebuah lelucon saja. Sebab tidak mungkin Evan akan menikahi wanita seperti dirinya.
"Baiklah, Mas. Ada apa ya menarik saya ke sini? Apa yang anda butuhkan, Mas?" ujar Ratna dengan sopan, tapi dengan nada mengejek.
Sekarang giliran Evan yang di buat merona oleh Ratna dengan kata-katanya yang begitu indah. 'Mas' sebuah panggilan yang membuat jantung Evan bertedak sangat kencang.
"Ekhem!" Evan berdehem untuk menetralkan suasana hatinya yang telah diobrak-abrik oleh Ratna. "Carikan aku jas terbaru yang cocok di pakai untuk acara lamaran."
__ADS_1
Ratna menurut saja, dia tidak banyak tanya. Ia memberikan Evan satu jas berwarna hitam keluaran terbaru. Meminta Evan untuk mencobanya di ruang ganti. Sedangkan dirinya menunggu di luar.
Ratna begitu takjub melihat Evan memakai jas yang dia pilihkan. Evan terlihat sangat tampan, bahkan jasnya begitu pas di tubuh Evan. Hingga Evan menegurnya karena ketahuan menganga saat melihat Evan yang begitu sempurna di matanya.
Tak!
Evan menjentikkan jari di depan wajah Ratna. Membuat wanita itu terkejut, dan gelapan. "Bagaimana, apakah aku cocok memakai jas ini?" Evan berdiri dengan begitu gagahnya di depan Ratna. Jadi, tidak ada alasan bagi Ratna untuk mengatakan ketidak cocokan itu.
"Anda terlihat sangat tampan jika memakai jas ini, Mas. Pasti istri anda akan senang mempunyai suami seperti anda," tanpa sadar Ratna telah memuji Evan dengan mata yang berbinar.
"Benarkah? Apa kamu juga akan merasa senang jika menjadi istriku?"
"Tentu saja!" Ratna menutup mulutnya saat keceplosan mengakui perasaannya di depan Evan. "Maksud saya, saya akan merasa senang jika suami saya kelak memakai jas seperti ini," kilah Ratna dengan wajah yang semerah tomat.
Evan tersenyum melihat Ratna yang tampak merona dan salah tingkah. Ia jadi bersemangat untuk menikahi Ratna. "Kalau begitu carikan juga gaun yang serasi dengan jas ini."
"Seperti kamu!" Evan tersenyum lembut kearah Ratna. Entah mengapa ia suka sekali melihat Ratna salah tingkah. Ia yakin kalau Ratna juga ada rasa kepadanya. Hanya saja, Ratna sangat pemalu.
...----------------...
Edgar buru-buru pulang dari kantor, ia tidak sabar ingin bertemu dengan Elmira. Setelah sampai di butik EMI, Edgar langsung mencari Elmira di ruang kerjanya. Ia menghampiri sang istri yang tengah sibuk di depan laptopnya.
"Mas, kamu sudah datang?" Elmira menutup laptopnya lalu menghampiri Edgar.
"Iya, Sayang. Pekerjaan aku tidak terlalu banyak, jadi aku bisa pulang lebih cepat. Karena aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kamu.
__ADS_1
Elmira tersenyum bahagia, ia mengecup singkat bibir sang suami. Yang selalu bisa membuat hatinya berbunga-bunga. Namun, tanpa di sangka, Edgar justru menekan tengkuknya saat Elmira akan melepaskan ciuman itu.
Edgar menye-sap bibir Elmira yang terasa semakin manis dan memabukkan. Edgar tidak pernah bosan dengan apa yang ada di tubuh sang istri. Edgar melepaskan ciumannya sebentar untuk mengambil oksigen. Setelah itu Edgar kembali melu-mat bibir sang istri dengan sangat rakus.
Edgar menyusupkan li-dahnya ke rongga mulut Elmira. Mengabsen setiap inci di dalamnya, membuat Elmira melenguh karenanya. Tangan Edgar mulai melu-cuti pakaian Elmira dan juga pakaiannya sendiri.
Edgar sangat begitu lihai memainkan li-dahnya. Ia menggiring tubuh Elmira ke dekat meja kerjanya. Mengangkat tubuh sang istri lalu mendudukkannya di atas meja tanpa melepaskan tautan bibirnya. Keduanya sudah di penuhi oleh naf-su dan tak sabar untuk memasuki senjata milik Edgar ke goa Elmira.
Edgar menurunkan ciumannya ke leher, da-da, dan perut. Ia terus mengabsen setiap lekuk tubuh Elmira. Memberikan stempel mahakarya nya di sana. Hingga tubuh Elmira penuh dengan tanda gigitan semut raksasa. Edgar sangat mengagumi tubuh indah sang istri yang selalu membuat susah move on. Hingga ingin terus mengulang permainannya yang begitu memabukkan.
Edgar membuka lebar-lebar kedua pa-ha Elmira, lalu menenggelamkan wajahnya di hutan belantara yang begitu wangi. Edgar sangat menyukai aroma khas itu. Ia memainkan li-dahnya di sana, mengobrak-abrik isi di dalam hutan belantara. Menggi-git, menye-sap, bahkan menj**** hutan itu layaknya makanan favoritnya.
Elmira menopangkan tangannya ke belakang hingga tubuhnya sedikit terlentang. Ia terus menga-nga merasakan li-dah Edgar yang terasa begitu dingin di goanya. Elmira tidak bisa menahan lagi, ia menekan kepala Edgar untuk memperdalam ciumannya. Hingga tubuhnya menegang saat merasakan sesuatu mengalir di bawah sana.
Edgar menghi-sap habis cairan itu, ia sangat menyukai rasa dan aromanya. Edgar memposisikan tongkat saktinya berada tepat di hutan belantara. Sebelum memasukkan tongkat itu ke dalam goa, Edgar lebih dulu menggesek-gesekkannya di dinding goa.
Elmira yang merasa tidak tahan, ia menekan pinggul Edgar hingga tongkat itu masuk ke dalam goanya hanya dengan sekali tusukan. Mereka sama-sama memejamkan mata, merasakan hangatnya milik mereka ketika saling bertemu.
Edgar menggerakkan pinggulnya dengan ritme sedang. Tidak cepat dan tidak lambat, tapi tusukannya sangat pasti. Bahkan tusukan itu selalu dalam. Membuat Elmira merasakan kenikmatan yang tiada tara.
Elmira melingkarkan kedua kakinya di pinggang Edgar, membuat Edgar mengerang saat merasakan tongkat saktinya seperti dire-mas-re-mas. Edgar mela-hap salah satu dua bukit kenyal milik Elmira yang begitu menggoda. Hingga keduanya sama-sama men-desah merasakan sensasi baru dengan gaya baru lagi.
Aahh! Aahh!
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar 😘