
Happy Reading🥰
Ratna terus terngiang-ngiang dengan ucapan Evan yang mengaku sebagai calon suaminya di depan Reza, hanya untuk melindungi dirinya dari serangan kakak tirinya itu. Namun meskipun begitu tetap saja membuat hati Ratna merasa tak tenang. Sebab ia sangat berharap Evan mengatakannya secara bersungguh-sungguh.
Ah, Ratna jadi menyesal sudah pernah mengatakan tidak ingin bertemu lagi dengan Evan cuma gara-gara tidak sengaja merobek kemeja Evan. Sekarang Ratna jadi tidak tenang, ia terus berperang dengan batinnya.
Ratna sulit sekali untuk memejamkan mata. Hingga dini hari ia baru terlelap akibat terus memikirkan Evan. Ratna sampai terlambat berangkat ke butik EMI. Semoga saja Elmira tidak memarahinya, meskipun itu adalah hal yang sangat mustahil. Sebab mulai dari pertama kali mengenal Elmira hingga ia bekerja di butik nya, satu kali pun Elmira tidak pernah memarahinya dan juga para karyawan yang lain.
Ratna berjalan dengan langkah tergesa-gesa di halte bus. Ia memang selalu naik angkutan umum, bukan karena Ratna tidak mampu membeli mobil. Hanya saja ia lebih suka naik bus daripada harus menyetir mobil sendiri.
Namun sayangnya dia ketinggalan oleh bus yang akan membawanya ke arah butik EMI. "Yah, yah yah ... Ketinggalan deh," seru Ratna putus asa.
Mungkin besok Ratna harus membeli mobil agar tidak terus-menerus terlambat ke butik. Meskipun Elmira sangat baik dan tidak akan pernah mempermasalahkan keterlambatannya, tapi Ratna tidak ingin memanfaatkan kebaikan itu.
Terpaksa Ratna harus menunggu taksi yang lewat. Berjalan kaki pun tidak mungkin, sebab jarak rumah ke butik EMI lumayan jauh. Jadi harus naik kendaraan biar cepat sampai. Elmira berjalan di trotoar sambil memainkan ponselnya untuk memesan taksi online. Namun, tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara klakson.
Tin! Tin! Tin!
Ratna terlonjak kaget, ponsel yang berada di genggamannya hampir terjatuh ke atas aspal. Ia melihat sang pengendara mobil yang berani sekali membuatnya senam jantung di pagi hari.
"Tante Maya?" seru Ratna tak percaya melihat seseorang yang turun dari dalam mobil hitam di depannya.
"Kamu kenapa jalan kaki?" tanya Maya menghampiri Ratna. Ini adalah kali pertama mereka bertemu sejak terjadinya kesalahpahaman.
"Saya sedang menunggu taksi, Tante."
__ADS_1
"Kalau begitu ikut Tante saja. Kamu mau kerja 'kan?
"Iya, Tante. Tapi, tidak perlu repot-repot. Saya sudah memesan taksi online," tolak Ratna dengan halus.
"Sudah ikut saja." Mata menarik tangan Ratna dan memasukkan ke dalam mobil di kursi bagian depan. Sedangkan dirinya duduk di kursi belakang. Sama seperti saat bersama Elmira dulu, Maya berusaha mendekatkan Ratna kepada Evan.
Ratna jadi salah tingkah ketika bertemu kembali dengan Evan. "Selamat pagi, Pak," sapa Ratna dengan kikuk.
"Pagi, calon istri," bisik Evan tepat di telinga Maya. Membuat Maya membulatkan kedua matanya.
Ucapan Evan berhasil memporak-porandakan jantung Ratna. Wajahnya terasa panas, sepertinya wajah Ratna sudah seperti kepiting rebus.
Evan tersenyum jahil kearah Ratna, entah mengapa ia suka sekali melihat wajah Ratna yang bersemu merah. Menurutnya Ratna adalah wanita yang sangat polos, meskipun sedikit bar-bar.
Maya penasaran dengan apa yang di bisikin Evan di telinga Ratna. Tapi, Maya merasa cukup senang. Sebab Evan sudah bisa melupakan Elmira sejak kenal dengan Ratna. Maya juga mendukung jika Evan ingin menjalin hubungan yang serius dengan Ratna. Karena Ratna adalah wanita baik-baik, sama seperti Elmira. Namun, bukan maksud Maya untuk membandingkan Ratna dan Elmira. Hanya saja mereka sama-sama wanita baik.
Selama dalam perjalanan hanya suasana hening yang di rasakan. Sebab mereka bingung mau membicarakan apa. Hingga mereka tiba di butik EMI, baru Ratna membuka suara untuk mengatakan terimakasih.
"Terimakasih Pak, Tante," ucap Ratna dengan tulus. Tidak lupa ia mengulaskan sebuah senyuman indah di bibirnya.
"Sama-sama, kebetulan aku sama mama memang mau belanja di sini," dusta Evan. Padahal Maya tidak ada rencana buat shopping di butik EMI. Kenapa tiba-tiba Evan berkata seperti itu?
Maya menatap Evan yang juga menatapnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Pertanda ia sedang mengkode mamanya untuk mengiyakan ucapan Evan. Maya menurut saja, mungkin Evan lagi memulai PDKT (Pendekatan) terhadap Ratna.
"Ya sudah mari kita masuk bersama, Pak, Tante." Ratna turun lebih dulu dari dalam mobil. Ia menunggu Maya dan Evan di luar mobil.
__ADS_1
Maya menggandeng tangan Ratna saat memasuki butik EMI. Membuat Ratna kembali merasakan debaran di jantungnya. Seperti sedang berjalan dengan mertua saja. Walaupun dalam hati, Ratna memang mengharapkan hal itu terjadi.
Evan hanya mengikuti mereka dari belakang, seperti biasa ketika menemani mamanya shopping. Evan melihat sekeliling netranya menangkap sosok wanita cantik yang tengah membantu pelanggan memilih pakaian.
Evan ingin menghampirinya, tapi entah mengapa hatinya merasa bimbang. Ia takut menyakiti hati seseorang jika dirinya berdekatan dengan Elmira. Evan melirik Ratna yang ternyata sedang menatapnya. Namun, Ratna langsung mengalihkan tatapan itu ke arah lain.
Kenapa rasanya hati Evan terasa nyeri saat akan pergi meninggalkan Ratna untuk menemui Elmira? Evan tidak mengerti dengan perasaannya itu. Biasanya dia tidak pernah merasakan seperti itu.
Evan memilih diam saja, biarkan Elmira yang menyapanya lebih dulu. Dia tidak ingin membuat Ratna salah faham atas tindakannya itu. Apalagi Elmira sudah bahagia bersama Edgar. Jadi, Evan tidak ingin di sangka menjadi pebinor. Meskipun awalnya Evan memang ingin merebut Elmira dari tangan Edgar. Namun, sekarang sudah tidak lagi. Asalkan Edgar bisa membahagiakan Elmira.
"Hai, Van. Kamu sama siapa? Tante Maya mana?" sapa Elmira menghampiri Evan.
"Itu di sana." Evan menunjukkan keberadaan mamanya yang lagi sibuk memilah baju bersama Ratna. Yang mungkin suatu saat akan menjadi menantunya.
Elmira menghampiri Maya dan Ratna. Ia tidak menegur Ratna karena datang terlambat. Sebab Elmira sudah tahu kebiasaan Ratna yang sering menggunakan angkutan umum jika ingin berangkat ke butik. Jadi, Elmira memaklumi itu.
Lagipula meskipun Ratna sering datang terlambat ke butik, tapi dia adalah karyawan yang sangat rajin, dan selalu bisa di andalkan. Yang paling utama, Ratna orangnya sangat jujur. Dia juga sangat telaten, penyabar, baik terhadap pelanggan. Itulah yang membuat Elmira menyukai sifat dan semangat Ratna dalam bekerja.
"Tante!" sapa Ratna begitu sampai di tempat Maya. Ia tersenyum manis kearah Maya yang terlihat senang dengan kehadirannya.
"Elmira! Tante merindukan kamu, Nak." Maya memeluk tubuh Elmira dengan erat. Ia sangat merindukan mantan calon menantunya itu.
Ratna langsung pergi meninggalkan Maya bersama dengan Maya di sana. Mungkin keberadaannya sudah tidak diinginkan. Jadi, ia memilih pergi saja. Namun, tiba-tiba ...
Sreeet!
__ADS_1
...----------------...
Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar 😘