Cinta Untuk Elmira

Cinta Untuk Elmira
Bab 61. Terpesona Dengan Ingus.


__ADS_3

Happy Reading 🥰


"Jangan menangis lagi, ada aku di sini." Evan menghapus air mata Ratna. Hatinya terasa nyeri saat mendengar cerita Ratna yang begitu menyayat hati. Ternyata kisah kehidupannya jauh lebih baik di bandingkan dengan kisah Ratna. Evan kira dirinya adalah orang yang paling menderita ketika kedua orang tuanya bercerai. Namun, ternyata ada yang lebih menderita dari dirinya.


Ratna masih tergugu dengan tangisannya, dia reflek memeluk tubuh kekar Evan yang begitu nyaman di sandarannya. Membuat kemeja Evan basah akan air matanya. Evan yang awalnya terkejut dengan tindakan Ratna, kini dia mendekap tubuh Ratna untuk menenangkannya.


Pasti Ratna sangat berat menjalani hari-harinya seorang diri tanpa ada yang menemani. Bahkan papanya sendiri malah ikut menelantarkannya. Ratna benar-benar wanita yang sangat kuat. Hidup dalam kekurangan selama beberapa tahun lamanya. Namun ia berhasil menjadi wanita sukses dengan hasil kerja kerasnya sendiri.


Evan merasa kagum dan bangga terhadap perjuangan Ratna. Dia merasa malu sudah pernah mengeluh atas apa yang dia alami di masa lalu. Sedangkan Ratna yang kehidupannya jauh lebih buruk malah sangat kuat menjalaninya. Evan sebagai laki-laki sangat minder jika bersanding dengan wanita seperti Ratna.


Pasti Ratna akan menertawakannya jika tahu dirinya begitu lemah. Evan harus banyak belajar dari Ratna agar dirinya juga kuat. Ratna masih sesenggukan di dalam dekapannya. Ia merasakan dadanya basah, entah itu karena air mata atau karena ingus yang keluar dari dalam hidung Ratna.


Ratna melepaskan pelukannya ketika merasa sedikit tenang. "M-maaf, Pak. S-sya sudah l-lancang," ucap Ratna terbata karena masih sesenggukan sehabis menangis. Tangannya mengelap ingus yang menempel di kedua pipinya.


Evan melongo melihat tingkah jorok, Ratna. Namun, tak lama setelah itu Evan marasa terpesona dengan penampilan Ratna yang acak-acakan, dan terlihat begitu cantik di matanya. Hingga membuat jantungnya berdetak tak beraturan.


Deg ... Deg ... Deg ...


Evan memegang dadanya yang seperti akan meledak akibat getaran dari detak jantungnya. "Ada apa dengan jantungku? Kenapa rasanya sangat aneh? Apa jangan-jangan aku mempunyai riwayat lemah jantung? Ini tidak bisa dibiarkan. Sepertinya aku membutuhkan resusitasi jantung untuk memulihkan jantungku yang sangat berharga ini," gumam Evan dalam hati.


Shruuut!

__ADS_1


Ratna menghirup udara sebanyak-banyaknya hingga menimbulkan suara yang begitu indah dari kedua lubang hidungnya, dan ternyata masih ada sisa ingus di sana. Jika orang lain yang mendengarnya pasti akan langsung muntah di tempat. Namun, hanya Evan yang mendengar, jadi Suara itu bagaikan alunan musik yang begitu syahdu.


"Maaf, Pak. Saya jorok ya?" bisa-bisanya Ratna bertanya dengan begitu polosnya. Suatu pertanyaan yang tak perlu di jawab.


"Ah, t-tidak sama sekali. Kamu terlihat lucu seperti itu. Hahahaaa." Evan merutuki dirinya sendiri, kenapa dia bisa berkata seperti itu? Sepertinya hari ini Evan sangat tidak waras.


"Itu kemeja Bapak jadi kotor gara-gara saya."


"Tidak masalah. Hanya kotor sedikit, nanti juga ada bibi yang mencucinya."


"Biar saya saja yang mencuci kemeja Bapak." Ratna mengulurkan tangannya untuk membuka kancing kemeja, Evan.


"Kamu mau apa?" Evan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia takut Ratna berbuat macam-macam terhadap dirinya.


"Jangan!" teriak Evan tak terima. Ia tidak rela jika ada yang melihat tubuh indahnya. Hingga akhirnya terjadilah aksi tarik-menarik. Ratna dan Evan sama-sama tidak mau mengalah. Tiba-tiba ...


Sreek!


"Pak!" pekik Ratna dengan kedua mata yang membulat sempurna. Ia tidak menyangka bahwa niat baiknya malah membuat Evan celaka. Bagaimana tidak celaka, kemeja yang awalnya sempurna telah di buat kotor oleh Ratna, dan sekarang kemeja itu sudah robek gara-gara kelakuannya.


Wajah Evan berubah menjadi merah tomat. Ia marah, kesal, dan juga malu atas apa yang menimpa dirinya. Kepalanya seperti berasap hingga keluar dari telinganya. Ingin marah juga tidak bisa, sebab Ratna pasti tidak sengaja melakukan itu. Evan hanya diam saja tanpa mau berbicara sedikitpun.

__ADS_1


"Maaf, Pak," lirih Ratna dengan sejuta perasaan bersalah.


Evan merapikan bagian kemejanya yang robek. Menutupnya menggunakannya jas yang dia pakai, karena tadi jas itu sempat terbuka akibat kelakuan Ratna yang menurutnya sangat bar-bar. Setelah itu ia melajukan kembali mobilnya ketika tadi sempat berhenti saat Ratna menangis pilu.


Tak berselang lama mobil yang di tumpangi oleh Evan dan Ratna kini telah tiba di sebuah gang rumah yang berasa di kalangan orang-orang elite. Evan berdecak kagum, rumah yang di tempati Ratna sekarang ini pasti hasil dari jeri payahnya.


Ratna turun dari dalam mobil sambil menatap Evan yang enggan menatapnya. Mungkin karena dia sedang marah terhadap dirinya. Ratna sangat merasa bersalah, tapi ia benar-benar tidak sengaja. Jika Evan tidak bisa memaafkannya maka Ratna akan menjauh dari Evan, yang penting dia sudah meminta maaf dengan tulus.


"Sekali lagi saya minta maaf, Pak. Niat saya baik, semua itu terjadi di luar kehendak saya. Saya harap setelah ini kita tidak bertemu lagi. Karena saya tidak ingin terlibat masalah lagi dengan anda. Terimakasih atas tumpangannya," ucap telak Ratna.


Evan tercengang mendengar penuturan Ratna. Ia tidak menyangka bahwa sikapnya akan membuat Ratna merasa bersalah separah itu. Hingga berharap tidak ingin bertemu lagi dengan dirinya. Evan terlalu sibuk dengan pikirannya, ia tidak sadar kalau Ratna sudah keluar dari dalam mobilnya.


"Oooh ... Di sini rupanya tempat tinggal kamu yang sekarang. Hebat ya, sudah bisa hidup mewah," celetuk Reza yang tiba-tiba ada di depan rumah Ratna. Entah dia tahu dari mana alamat rumah Ratna, yang jelas keberadaannya membuat Ratna merasa tidak nyaman.


Ratna mengurungkan niatnya untuk membuka gerbang rumahnya. Ia menatap kakak tirinya dengan malas. "Maaf, Kak. Aku lagi capek, ingin segera istirahat. Jika kedatangan Kak Reza hanya ingin mencari gara-gara lebih baik kakak pulang saja," usir Ratna blak-blakan. Ia sangat muak melihat wajah kaka tirinya itu.


"Cih! Sombong sekali kamu! Pasti kemewahan yang kamu dapatkan adalah hasil dari menjual diri 'kan!" sentak Reza dengan suara meninggi.


"Tutup mulut mu itu, brengsek! Jangan berani-berani menghina calon istriku!" teriak Evan yang berdiri tepat di samping Ratna. membuat Ratna terkejut dengan kehadirannya.


Evan menatap tajam ke arah Reza, seperti ingin menguliti dirinya. Reza menelan saliva nya dengan susan payah. Nyalinya menciut saat mendapatkan tatapan mematikan dari Evan. Ia jadi teringat dengan kejadian waktu itu saat dirinya dibuat babak belur oleh Evan.

__ADS_1


...----------------...


Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar😘


__ADS_2