
Happy Reading🥰
"Sayang, mama tidak mungkin membenci mu dalam hal ini. Tidak ada yang salah, takdir lah yang salah. Berhentilah menyalahkan diri kamu sendiri, Sayang," ucap Maya kepada calon menantunya itu.
Maya bukanlah wanita jahat yang akan menyalahkan orang lain dalam masa lalunya. Apalagi menyalahkan wanita sebaik Ratna yang jelas-jelas juga korban dalam hal ini. Mana tega Maya melakukan semua itu. Apalagi Maya sudah mendengar kisah kehidupan Ratna dari Evan yang begitu menyayat hati.
"Tapi ...."
"Tidak ada tapi-tapian, Ra. Kamu percaya sama aku dan mama. Kita akan menyayangi kamu lebih dari apapun. Bahkan aku sangat beruntung bisa mendapatkan istri sesempurna kamu," tutur Evan meyakinkan.
Ratna sangat terharu dengan penuturan Calon suami serta mertuanya. Jika seperti ini menolak pun tak ada gunanya. Ratna hanya bisa pasrah dan mengiyakan ucapan Evan.
"Terimakasih, Mas, Ma. Aku beruntung memiliki kalian di sisiku," ucap Ratna tulus. Ia menangis haru di dalam pelukan mertuanya. Pelukan yang ia rindukan dari sosok seorang ibu. Bahkan sampai saat ini Ratna sangat merindukan pelukan mamanya terlepas dari kesalahan di masa lalu.
Evan tersenyum melihat keharuan di depan matanya. Ia tidak sabar ingin segera menikahi Ratna, pasti rumah tangganya akan sempurna. Karena mama dan istrinya terlihat saling menyayangi. Evan berharap rumah tangganya kelak akan selalu bahagia.
Evan akan mencintai istri dan anak-anaknya kelak. Ia tidak ingin seperti papanya yang tega meninggalkan istri dan anaknya hanya demi wanita lain. Namun, Evan juga akan tetap mencintai sang mama, cinta pertamanya. Wanita terhebat dalam hidupnya.
"Ekhem! Aku berasa jadi nyamuk di sini," gerutu Evan tak terima karena diabaikan oleh kedua wanita yang sangat dia cintai.
__ADS_1
"Apaan sih, Mas. Ganggu aja deh," protes Ratna yang seketika membuat Maya tertawa.
"Sudah, lebih baik kita makan siang bersama. Kebetulan tadi mama masak yang banyak," ajak Maya kepada putra dan menantu kesayangannya.
"Ayo Ma, aku bantu menatanya di meja." Ratna beranjak dari tempat duduknya lalu menuju kearah dapur untuk menyajikan hasil masakan mertuanya.
Setelah semuanya siap, mereka bertiga langsung bersiap di meja makan untuk melaksanakan acara makan siang. Mereka makan dengan tenang yang diselingi perbincangan hangat. Maya merasakan kebahagiaan di dalam hatinya karena sebentar lagi putra semata wayangnya yang dia cintai dengan sepenuh hati akan segera menikah.
Maya berdoa agar pernikahan putranya berjalan dengan lancar. Serta rumah tangga anaknya diberikan kebahagiaan yang sempurna tidak seperti rumah tangganya dulu. Maya yakin Evan bukanlah tipe pria seperti mantan suaminya dulu, yang gampang tergoda dengan wanita lain.
Jika sampai Evan melakukan kesalahan itu, maka Maya tidak akan pernah memaafkannya. Sebab Maya sangat membenci sebuah perselingkuhan. Ia sudah merasakan bagaimana tersiksanya di khianati oleh orang yang dia cintai. Jadi, Maya tidak akan membiarkan Evan menyakiti istrinya apapun yang terjadi. Evan harus menjadi suami serta ayah yang bertanggung jawab terhadap anak dan istrinya.
Selesai makan siang, mereka bertiga mengobrol bersama di ruang tengah. Bercanda tawa, sungguh keluarga yang sangat hangat. Kebahagiaan terpancar di wajah Ratna. Sudah bertahun-tahun Ratna tidak merasakan kehangatan dalam keluarganya. Sekarang ia mendapatkan apa yang dia butuhkan.
Ratna mengucap syukur senantiasa juga berdoa kepada Tuhan atas kebahagiaan yang dia rasakan saat ini. Jika boleh memilih, Ratna akan memilih tidak bertemu lagi dengan orang-orang di masa lalunya yang hanya menyisakan luka kepadanya. Bahkan orang itu adalah kedua orang tuanya sendiri. Sungguh miris sekali nasib Ratna yang sudah merasakan apa arti sakit dalam kehidupan sejak usianya masih belia.
"Sayang! Kenapa kamu bengong? Kamu melamun?" tanya Evan saat menyadari calon istrinya diam mematung.
"Ah t-tidak, Mas. Maaf aku terlalu bahagia bersama kalian hingga pikiran ku melayang," tutur Ratna jujur. Ia tidak berbohong dengan apa yang dia ucapkan.
__ADS_1
"Sama, aku pun juga bahagia bersama mu, Ra," balas Evan sambil menggenggam tangan Ratna lalu menciumnya dengan lembut. Membuat Ratna tersipu malu di depan calon mertuanya.
"Jangan lupa, mama juga bahagia bersama kalian. Dengar sayang! Kita harus selalu bersama. Mama gak mau ada orang ketiga di dalam rumah tangga kalian nanti. Mama akan membasmi orang itu jika berani mengusik ketenangan dan kebahagiaan kalian," terang Maya menggebu.
"Ya ampun, aku bersyukur sekali mendapatkan mertua sebaik mama." Ratna memeluk Maya dengan erat. Ia sangat menyayangi calon mertuanya itu. Sangat jarang mendapatkan mertua idaman seperti Maya. Hanya wanita beruntung yang mendapatkan mertua idaman seperti Maya.
Jangan lupa, Ratna salah satu contoh menantu idaman sama seperti Elmira. Dua wanita hebat dan tanggu yang hanya laki-laki beruntung bisa mendapatkan istri seperti mereka. Maya termasuk mertua beruntung yang mendapatkan menantu sehebat Ratna. Ternyata di balik masa lalu kelam yang mereka alami, Tuhan telah menyiapkan masa depan yang indah untuk mereka bertiga.
Masa lalu tidak menjadikan mereka sebagai orang-orang yang lemah. Namun, mereka menjadikan masa lalu sebagai cambukan yang keras agar mereka tetap semangat menjalani kerasnya kehidupan tanpa seseorang yang sangat berarti di sisinya. Hingga mereka berhasil menjadi orang tangguh dan mendapatkan kebahagiaan yang mereka rindukan sejak dulu.
"Setelah aku sama Evan menikah, Mama ikut pindah ke rumah baru yang Evan belikan untuk hadiah pernikahan kami. Agar kita bertiga tidak lagi berjauhan, Ma," pinta Ratna dengan tatapan memohon.
"Masalah itu kita bicarakan lagi setelah pernikahan kalian. Soalnya mama masih betah tinggal di sini. Apalagi banyak kenangan di rumah ini bersama suami mama yang paling mama cintai," tutur Maya sambil mengenang masa lalu bersama almarhum suaminya.
Maya sangat mencintai suaminya itu, bahkan ia tidak pernah mengubah bahkan mengganti barang-barang di rumah peninggalan suaminya itu. Agar Maya selalu bisa mengingat saat-saat bersama dengan mendiang sang suami ketika dia merindukannya.
"Aku harap mama mau tinggal satu rumah dengan kami," sambung Evan menimpali. Ia tidak ingin pisah rumah dengan sang mama, dan Evan juga tidak ingin pindah dari rumah itu.
Namun, Evan juga tidak bisa tinggal terus-menerus di rumah itu. Evan ingin tinggal di rumah yang dia beli dengan hasil jerih payahnya, karena itu adalah impiannya sejak dulu. Bahkan Evan menabung uang itu sejak ia bekerjanya di perusahaan ayah sambungnya sebelum dirinya menjadi CEO di sana, dan sebelum perusahaan itu bangkrut hingga berdiri kembali atas bantuan Elvaro.
__ADS_1
...----------------...
Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar 😘