
Happy Reading 🥰
"Aaaakh! Sakit!" teriak Elmira saat ujung tongkat berusaha menerobos goa nya.
"Tahan, Sayang. Ini masih belum masuk. Awalnya memang sakit, lama-lama tidak akan sakit kok. Percayalah." Edgar berusaha meyakinkan Elmira supaya dia tidak merasa takut.
Sebenarnya Edgar merasa tidak tega melihat Elmira kesakitan, tapi ia harus melakukannya agar Elmira benar-benar menjadi miliknya dan tidak akan berpaling darinya.
Edgar mendorong lagi senjatanya dengan susah payah. Perjuangan yang sangat sulit untuk menembus dinding pertahanan di dalam goa itu. Dorongan pertama hingga dorongan ketiga, tongkat Edgar selalu meleset. Entah itu karena tongkatnya yang terlalu besar atau goa Elmira yang sangat sem*** hingga menyebabkan serangannya meleset.
Elmira menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit itu. Hingga Edgar benar-benar berhasil menerobos masuk ke dalam goa nya.
Jleb!
"Aaaakh! S-sakit" teriak Elmira dengan keras, lebih keras dari teriakannya yang tadi. Ia merintih menahan sakit di area intinya.
Akhirnya tongkat sakti mandraguna itu sudah tenggelam di sungai surgawi setelah lama menerobos masuk ke dalam goa. Elmira tidak sengaja mencakar punggung Edgar dengan kuku-kuku yang tajam di kedua tangannya. Hingga membuat punggung Edgar berdarah. Namun Edgar tidak perduli dengan luka itu, sebab dirinya merasakan kenikmatan saat tongkatnya seperti di re-mas-re-mas oleh sungai itu.
Edgar meraup bibir Elmira guna menghilangkan rasa sakitnya. Tangannya menghapus air mata yang mengalir di kedua sudut mata Elmira. "Maafkan aku, Sayang. Jika aku menyakiti mu, percayalah setelah ini tidak akan sakit lagi," bisik Edgar tepat di depan wajah Elmira.
Elmira menganggukkan kepala dengan pasrah, ingin berhenti dari permainan ini pun rasanya seperti tanggung. Ia sudah terlanjur memberikan mahkotanya kepada Edgar. Sungguh rasanya sangat sakit, bagian bawahnya seperti terkoyak habis. Namun Elmira menahan rasa sakit itu, ia percaya dengan apa yang Edgar katakan bahwa setelah itu tidak akan sakit lagi.
Edgar mulai menggerakkan pinggulnya secara perlahan, setelah milik Elmira sudah rileks dan siap menerima serangannya. Ia menganga merasakan kenikmatan yang sesungguhnya.
Aahh! Aahh!
Benar yang dikatakan oleh Edgar, hanya awalnya yang sakit. Kini Elmira merasakan miliknya yang penuh dan sesak tidak sakit lagi. Yang ia rasakan saat ini adalah rasa yang sulit dijabarkan. Elmira mulai mengikuti permainan Edgar, membalas serangannya dengan meng-goyangkan pinggulnya. Elmira ikut meresapi apa yang dia rasakan dari permainan itu.
__ADS_1
"Ough! Yeah, Honey."
"Aahh ... Edgar!"
Yang awalnya terdengar suara rintihan kesakitan, kini berubah menjadi de-sa-han kenikmatan. Keduanya saling menyerang satu sama lain. Tidak puas dengan gaya yang itu, mereka ganti dengan gaya baru. Rasanya Edgar tidak ingin berhenti bermain selam-selaman di dalam sungai.
Elmira juga merasakan hal yang sama, ia seperti ingin terus di selami oleh tongkat sakti milik Edgar. Bagaimana tidak sakti, tongkat itu bisa merubah rasa sakit menjadi rasa nikmat. Jika boleh meminta lebih, Elmira ingin terus-menerus merasakan kenikmatan itu.
Aahh! Aahh!
Edgar tidak terlalu menghantam Elmira dengan keras, sebab ini masih pertama kali bagi Elmira yang pastinya akan menimbulkan rasa sakit. Begitu juga dengan dirinya yang baru pertama kali memasuki goa di hutan belantara dan menyelaminya hingga ke dasar terdalam.
Akan tetapi, untuk yang kedua kalinya nanti, Edgar tidak akan memberikan ampun dan akan terus menghajar Elmira dengan tongkat saktinya. Hingga 2 jam kemudian suara era-ngan memenuhi kamar itu.
Aahh! Aahh!
Edgar!
Mereka saling menyebutkan nama saat merasakan pe-le-pa-san. Tubuh Edgar ambruk di atas tubuh sang istri. Tubuh keduanya tampak mengkilap oleh keringat. Edgar menggulingkan tubuhnya berada di samping Elmira lalu mendekap nya dengan erat.
"Terimakasih, Sayang. I love you," bisik Edgar tepat di daun telinga sang istri.
"Love you too," jawab Elmira dengan suara lemahnya akibat kelelahan. Tak berselang lama akhirnya Elmira memejamkan mata, hingga terdengar dengkuran halus dari bibirnya.
Edgar tersenyum melihat sang istri yang langsung terlelap setelah dia menggempurnya habis-habisan. Padahal dirinya masih belum puas hanya melakukannya selama dua jam. Rasanya seperti lima menit saja permainan itu. Ah, Edgar jadi ingin melakukannya lagi. Namun ia harus bersabar menunggu sang istri hingga terbangun. Belum lagi kalau dia merasakan sakit setelah melakukan itu. Hatinya berbunga-bunga setelah menyadari bahwa dirinya sudah bukan perjaka lagi. Edgar terus membayangkan permainannya.
Pagi harinya ...
__ADS_1
Edgar bangun lebih dulu dari istrinya. Ia menatap wajah sang istri yang masih terlelap dengan damai. Edgar membenarkan anak rambut yang menutupi wajah Elmira dengan begitu pelan, karena takut membangunkan sang istri.
"El, maafkan aku sudah pernah menampar pipi kamu sebanyak tiga kali," gumam Edgar sambil mengusap pipi Elmira yang pernah dibuat memar olehnya. "Bibir ini ...." Edgar mengusap sudut bibir Elmira yang sebelah kanan. Hatinya begitu sakit mengingat perlakuan buruknya hingga membuat sudut bibir Elmira terluka dan mengeluarkan darah. Tak terasa Edgar meneteskan air mata, ia benar-benar menyesal sudah melakukan hal jahat itu tanpa mau mendengarkan penjelasan Elmira.
Elmira terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara isak tangis. Ia terkejut mana kala melihat sang suami tengah menangis di hadapannya. "Mas, kenapa menangis?" tanya Elmira panik. Tangannya terulur menghapus air mata yang masih mengalir dari sudut mata Edgar.
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku menangis karena merasa bahagia bisa menikah dengan wanita secantik dan sebaik kamu." Edgar tersenyum lembut kepada Elmira. Ia tidak berbohong mengenai apa yang dia ucapkan. Semua itu berasal dari lubuk hatinya yang terdalam.
Elmira membalas senyuman Edgar dengan sebuah pelukan hangat. Ia membenamkan kepalanya di dada bidang sang suami yang begitu nyaman. "Aku juga bahagia, Mas. Akhirnya impian ku menikah dengan laki-laki yang aku cintai tercapai sudah."
Cup!
Edgar memberikan kecupan lembut di puncak kepala sang istri. Membuat Elmira semakin jatuh cinta kepada Edgar. Elmira semakin mengecangkan pelukannya yang tanpa sadar membangunkan adik kecil sang suami.
"Sayang, kamu membangunkan adik kecilku," ucap Edgar dengan suara serak karena menahan hasratnya yang telah terpancing.
Elmira yang mengerti dengan maksud dari ucapan Edgar, semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan dengan nakalnya, Elmira menggesekkan pa-ha-nya ke tongkat sakti yang sudah mengeras.
"Aahh! Sayang." Edgar men-desah saat merasakan gesekan bumi di pagi hari. Tanpa ba-bi-bu Edgar langsung menyerang Elmira, hingga terjadi peperangan kedua.
Pagi itu mereka melakukan kembali kegiatan panas yang menjadi candu bagi keduanya. Hingga mereka tidak pernah bosan, dan terus mengulangnya hingga hari menjelang siang.
Aahh! Aahh!
...----------------...
Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar😘
__ADS_1