
Happy Reading🥰
Evan menunggu sang istri di atas ranjang. Kebetulan ia sudah membersihkan diri di kamar sebelah agar tidak terlalu lama menuju ke acara malam pertama jika harus bergantian dengan Ratna mandinya. Sebenarnya meskipun tidak mandi juga tidak masalah, sebab setelah acara malam pertama selesai mereka pasti mandi lagi.
Akan tetapi, Evan ingin terlihat fresh dan terdengar wangi di indera penciuman sang istri tercinta. Ia jadi gelisah karena Ratna tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi. Evan berencana mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan keadaan Ratna baik-baik saja. Belum sempat Evan turun dari atas ranjang, pintu kamar mandi terbuka dari dalam sana menampilkan sosok wanita cantik dengan rambut yang di sanggul tanpa berkeramas.
Ceklek!
Ratna nampak malu-malu begitu keluar dari dalam kamar mandi. Ia hanya menggunakan bath robe sebagai penutup tubuhnya. Netranya bersirubuk dengan netra Evan yang juga menatapnya. Tatapan keduanya terkunci, mereka menatap penuh damba, dan penuh cinta. Evan sangat memuja kecantikan Ratna yang begitu alami. Sedangkan Ratna memuja ketampanan Evan yang begitu rupawan.
Ratna menundukkan kepala karena merasa malu terhadap suaminya. Ia berjalan dengan pelan menuju kearah lemari untuk mengambil piyama. Dengan cepat Evan melarangnya. "Sayang, kamu ngapain?" Seru Evan yang berhasil menghentikan langkah Ratna yang sedikit lagi sampai di depan lemari pakaian.
"Aku mau ganti baju, M-mas," jawab Ratna dengan suara lirih. Ia begitu canggung memanggil Evan dengan panggilan 'Mas'.
Evan membulatkan kedua mata sempurna. Ini adalah kali pertama di malam pengantin baru sang istri memanggilnya dengan nama itu. Membuat hatinya berbunga-bunga. "Kamu bilang apa Sayang? Coba ulangi lagi," pinta Evan sambil beranjak dari posisi tidurnya, dan berjalan kearah sang istri.
Ratna menundukkan kepala saat Evan semakin mendekat kearahnya. Jantungnya seakan ingin melompat dari tempatnya kala tangan Evan meraih dagunya lalu mengangkatnya. Membuat tatapan mereka bertemu. "Panggil aku dengan nama itu setiap waktu, Sayang," pinta Evan dengan suara lembut.
Ibu jarinya mengusap bibir seksi milik sang istri yang begitu menggoda. Perlahan Evan mendekatkan wajahnya lalu menempelkan bibirnya di bibir Ratna. Kedua mata Ratna membulat sempurna saat mendapatkan ciuman mendadak di bibirnya. Ia begitu terkejut sekaligus takut. Sebab setelah ini Evan pasti akan meminta haknya. Menolak pun tidak bisa karena Ratna tidak mungkin tega melakukan itu.
Akan tetapi, jika dilanjutkan Ratna takut seperti teman-temannya yang bercerita kalau pertama kali melakukan itu akan sangat sakit. Ratna bergidik ngeri membayangkan itu terjadi.
Evan mulai me-lu-mat bibir seksi milik sang istri dengan begitu lembut. Me-nye-sap serta mengabsen setiap inci di dalam rongga mulut Ratna yang begitu memabukkan. Hingga sebuah lenguhan keluar dari bibir seksi itu.
__ADS_1
Eungh! Aahh!
Evan menekan tengkuk Ratna guna memperdalam ciumannya. Ciuman yang semakin dalam dan penuh tuntutan. Evan menarik tali bath robe yg terdapat di bagian perut Ratna. Hingga terpampang lah tubuh indah sang istri. Evan melepas pagutannya lalu menempelkan keningnya dan kening Ratna. Nafas keduanya memburu saling berkejaran.
"Bolehkah?" tanya Evan dengan suara berat.
Ratna tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan. Dengan ragu Ratna menganggukkan kepala sebagai bentuk jawaban. Meskipun ia takut, tapi tetap saja Ratna harus melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia juga menginginkan Evan menjadi miliknya seutuhnya.
Evan tersenyum senang. Ia kembali me-lu-mat bibir Ratna dengan lembut. Mereka berciuman sambil berjalan kearah ranjang. Evan berhasil meloloskan semua kain yang melekat ditubuh Ratna. Setelah itu ia membimbing tangan Ratna untuk membuka pakaiannya seperti dirinya yang membuka pakaian Ratna.
Ratna mengikuti arahan Evan, tangannya mulai membuka kancing piyama yang dikenakan oleh Evan sejak selesai mandi tadi. Tubuh mereka kini telah sama-sama polos tanpa sehelai benang pun. Evan membaringkan tubuh Ratna secara perlahan. menghujani kecu-pan di seluruh wajah sang istri dengan lembut. Meng-gigit kecil daun telinganya hingga membuat Ratna merasakan gelenyar aneh di dalam tubuhnya.
Ciuman Evan turun ke leher, memberikan beberapa tanda kepemilikan di sana. Evan melihat dua gundukan kenyal yang begitu menantang di depan matanya. Bentuknya sangat indah, ujungnya berwarna pink jambu sangat sintal dan padat. Evan meneguk saliva nya dengan susah payah sebelum akhirnya ia me-la-hap dua buah kenyal itu secara bergantian.
Aahh!
Bibirnya turun menyusuri setiap inci tubuh Ratna. Memberikan kecupan-kecupan lembut untuk merang-sang gai-rah sang istri. Hingga ciumannya berhenti tepat di hutan belantara milik Ratna yang tercipta begitu indah. Evan menatap kagum terhadap hutan serta goa yang ada di dalamnya. Tak terasa Evan sampai menitikkan air liur saat menatap goa itu.
Ratna menutup asetnya dengan cara menyilangkan kedua tangannya. Namun dibuka kembali oleh Evan. "Jangan ditutup, Sayang. Ini sangat indah." Ucap Evan menatap penuh binar.
"Aku malu," lirih Ratna memalingkan wajah tak berani menatap sang suami karena malu.
Evan tersenyum melihat tingkah sang istri yang begitu menggemaskan. Ia membuka kedua pa-ha Ratna dengan lebar lalu menenggelamkan wajahnya di sana. Menelusup kan bibirnya di lembah surgawi itu. Membuat Ratna semakin kalang kabut.
__ADS_1
Aahh! Evan!
Ratna memanggil nama Evan saat merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Evan berhasil mengobrak-abrik aset miliknya yang gak pernah disentuh oleh orang lain. Tubuhnya seakan menegang kala Evan mempercepat gerakan li-dahnya yang keluar masuk di lembah surgawi itu.
Pyur!
Aahh!
Anggaplah itu adalah suara banjir yang terjadi di sungai yang terdapat dalam hutan belantara milik Ratna. Cairan itu memenuhi mu-lut Evan, membuatnya tersenyum senang karena telah berhasil membuat Ratna mengalami pele-pasan untuk yang pertama kalinya. Nafas Ratna tersengal-sengal saat merasakan miliknya ba-sah.
Evan memposisikan dirinya di tengah-tengah milik Ratna hingga terong jumbo nya siap menerobos masuk. Ratna menatap Evan dengan tatapan sayu dan takut. "Aku takut," ucap Ratna menatap Evan yang juga menatapnya penuh damba.
"Aku akan pelan-pelan. Kamu jangan tegang ya." Evan mengecup singkat bibir Ratna untuk mentransfer kekuatan kepadanya.
Ratna mengangguk, ia percaya bahwa Evan tidak akan pernah menyakitinya. Hingga sesuatu yang keras mencoba menerobos masuk membuat dirinya sedikit meringis.
Evan terus mendorong terong jumbonya sekuat tenaga. Rasanya begitu sem-pit dan sulit untuk mencapai ke dalam sana. Hingga dorongan ketiga Evan baru bisa memasuki lembah surgawi itu dengan sempurna.
Jleb!
Aaakh! S-sakit!
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar 😘