
Happy Reading🥰
"Sssst! Aahh! Pelan-pelan Pak, sakit," ucap Ratna sambil meringis.
"Iya, ini sudah pelan. Tahan sebentar, awalnya memang sedikit sakit dan perih. Tapi setelah ini akan baikan,"
"Aduh, ini sakit sekali Pak. Jangan di tekan!"
"Maaf, maaf, dikit lagi ini sudah selesai." Evan meniup-niup luka itu supaya sakitnya mereda.
Sementara di luar apartemen, seorang wanita paruh baya menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dia dengar. "Evan, kenapa kamu melakukan itu, nak. Mama tidak pernah mengajarkan hal seperti itu sama kamu. Apa karena kamu merasa patah hati, sehingga kamu melampiaskan dengan wanita lain?" monolog Maya dengan perasaan kecewa.
Maya yang berencana mengambil barang peninggalan suaminya yang berada di apartemen Evan malah dibuat kecewa dengan apa yang dia dengar. Putra satu-satunya sedang melakukan hal terlarang di dalam sana. Maya tidak berani melabrak Evan dan wanita itu, ia hanya bisa menunggu di depan apartemen meskipun Maya tahu password pintu itu.
Maya jadi teringat dengan mantan suaminya, ayah kandung Evan yang suka bermain wanita. Maya tidak ingin sifat buruk suaminya menurun kepada Evan. Siapapun wanita yang ada di dalam sana harus menikah dengan Evan. Maya tidak mau kalau Evan merusak anak gadis orang. Apalagi ia mendengar suara rintihan dari dalam yang pastinya adalah pengalaman pertama bagi wanita itu. Semoga saja itu juga yang pertama bagi Evan.
Evan berganti posisi, ia duduk di samping Ratna untuk mengobati luka di tangannya. Ratna menatap wajah Evan yang terlihat serius mengobati lukanya. Jantung Ratna berdegup sangat kencang saat jemari Evan menyentuh kulitnya. Aura ketampanan Evan semakin meningkat ketika dalam mode serius. Tak terasa Ratna menyunggingkan sebuah senyuman tipis.
"Sudah!" Ucap Evan setelah memberikan hansaplast di luka yang terdapat di tangan Ratna setelah diberikan obat merah.
Ratna langsung tersadar dari lamunannya. Ia terlihat kikuk dan salah tingkah ketika Evan menatapnya. "Terimakasih, Pak. Kalau begitu saya permisi." Ratna beranjak dari duduknya lalu menuju ke pintu apartemen dengan langkah tertatih-tatih, sebab luka di lututnya masih terasa sakit.
Evan tidak langsung mengantarkan Ratna, ia lebih dulu mengembalikan kotak p3k ketempat semula dan mematikan semua lampu di sana. Jadi dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Ratna di luar sana.
__ADS_1
Ceklek!
Ratna membuka pintu apartemen dengan pelan. Namun langsung di kejutkan dengan kehadiran mamanya Evan. "T-tante!" Sapa Ratna dengan wajah cemas. Dia seperti maling ketahuan mencuri, pasti mamanya Evan akan salah faham terhadapnya yang sudah berani memasuki apartemen anaknya.
Maya menatap Ratna dengan tatapan yang sulit di artikan. Tatapannya menyiratkan sebuah kekecewaan dan rasa bersalah. Maya memindai tubuh Ratna dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Kemarilah, Nak!" Panggil Maya dengan suara bergetar. Ia harus memastikan kegelisahan di dalam hatinya.
Ratna berjalan dengan pelan, langkahnya sedikit mengangkang karena luka di lututnya masih sakit. Membuat jantung Maya berdegup dengan kencang. Ternyata dugaannya memang benar, Evan dan Ratna sudah melakukan hubungan itu. Melihat cara jalan Ratna seperti itu membuat Maya sangat yakin tentang dugaannya.
Maya tidak akan menunggu lagi, ia harus menikahkan Evan dengan Ratna. Dia harus mengantisipasi kemungkinan buruk yang akan terjadi ke depannya. Bagaimana jika Ratna hamil? Maya tidak mau Evan menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Bahkan saat ini pun Evan tidak mengantarkan Ratna pulang dalam keadaan kesakitan.
"Ada apa, Tante?" tanya Ratna dengan sopan ketika berada di hadapan Maya.
"Maafin Evan ya, Nak. Kamu jangan bersedih, Tante akan membuat Evan bertanggung jawab atas apa yang sudah dia perbuat terhadap mu," ujar Maya sambil memeluk Ratna. Ia masih tidak tahu kalau Ratna terluka yang menyebabkan cara jalannya sedikit mengangkang dan tertatih-tatih.
"Luka sedikit bagaimana? Kamu sampai kesulitan berjalan, Nak. Luka itu tidak akan kembali seperti semula, bahkan akan membekas. Bagaimana jika tidak ada laki-laki yang mau menikahi mu dengan keadaan kamu yang sekarang."
"Tante terlalu berlebihan, nanti di kasih obat atau salep juga sudah sembuh. Saya yakin lukanya tidak akan membekas. Tante tidak usah khawatir, saya tidak akan meminta pertanggung jawaban dari Pak Evan. Saya juga tidak akan menuntutnya, Tante."
"Kenapa gadis ini sangat baik sekali. Bahkan setelah apa yang Evan lakukan terhadapnya, dia masih bisa tersenyum dan berlapang dada tidak akan meminta pertanggung jawaban dari Evan." batin Maya merasa prihatin.
Ceklek!
Evan terlihat buru-buru menutup pintu apartemen, ia ingin menyusul Ratna yang keluar lebih dulu. Namun ia juga dikejutkan dengan keadaan mamanya di sana yang sedang berbicara serius dengan Ratna. "Mama!" Seru Evan yang berhasil mengalihkan tatapan Maya kepadanya.
__ADS_1
Maya menatap Evan dengan tatapan kecewa. "Evan, bawa dia masuk ke dalam. Ada yang ingin mama bicarakan sama kalian," perintah Maya sambil memasuki apartemen.
Evan menatap Ratna sambil menaikkan satu alisnya sebagai bentuk tanda tanya. Ratna hanya menggelengkan kepala untuk menjawab rasa penasaran dari Evan. Ia juga tidak tahu kenapa Maya memintanya masuk kedalam. Sepertinya Maya terlihat sangat serius, membuat Ratna sedikit takut.
Mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu. Maya menatap Evan dan Ratna secara bergantian dengan tatapan mengintimidasi. "Secepatnya kalian harus menikah," cetus Maya dengan nada serius.
"Apa! Menikah!" pekik Evan dan Ratna bersamaan. Mereka saling tatap satu sama lain, mereka sangat terkejut dengan ucapan Maya.
"Maksud Mama apa?" tanya Evan tak mengerti kenapa mamanya tiba-tiba memintanya untuk menikah dengan Ratna.
"Iya, maksud Tante apa? Kenapa kami harus menikah?" sambung Ratna.
"Huf!" Maya menghembuskan nafas kasar. "Kalian tahu 'kan apa yang sudah kalian lakukan itu sebuah kesalahan besar!" tandas Maya penuh penekanan.
"Maksud Tante apa? Saya benar-benar tidak mengerti! Kesalahan apa yang Tante maksud?" desak Ratna penasaran dengan ucapan telak dari mamanya Evan.
"Kalian jangan mengelak, Evan kamu jangan membuat mama kecewa. Mama tadi mendengar sendiri waktu kalian melakukan hubungan terlarang di dalam sini. Bahkan mama melihat Ratna kesulitan dalam berjalan. Tega sekali kamu Evan sudah menodai kepercayaan mama. Apa selama ini kelakuan kamu seperti itu di belakang mama? Mama tidak pernah mendidik kamu agar menjadi laki-laki seperti itu, Van." Maya menangis tersedu-sedu.
Ratna dan Evan sama-sama menganga mendengar penuturan Maya yang ternyata sudah salah faham.
...----------------...
Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar 😘
__ADS_1