
Happy Reading 🥰
Buuk!
Elvaro memberikan bogeman mentah kepada Edgar yang mendarat sempurna di sudut bibirnya. Beruntung pukulan Elvaro tidak terlalu keras, jadi Edgar masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh. Sebab dia masih menggendong Elmira.
Elvaro menatap Edgar dengan tajam. Ia mengambil alih Elmira dari gendongan Edgar, lalu membawanya memasuki mobilnya sendiri. Tanpa memperdulikan Edgar yang masih terkejut dengan kehadirannya.
Elvaro segera melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. Ia sangat khawatir dengan keadaan Elmira. "Emi! Bertahanlah." Elvaro menggenggam tangan sang adik dengan begitu erat. Ia benar-benar takut kehilangan Elmira.
Awalnya Elvaro merasa heran kenapa Elmira tidak menghubunginya selama beberapa hari ini, bahkan sekedar mengirimkan pesan untuk menanyakan kabar pun tidak ada. Elvaro berencana mendatangi Elmira ke rumah suaminya, namun ketika sampai di sana rumah itu tampak sepi tak berpenghuni.
Elvaro kemudian menghubungi pihak butik untuk menanyakan keberadaan Elmira apakah ada di sana, namun sang adik juga tidak ada di sana. Dengan iseng Elvaro mendatangi apartemen Elmira, siapa tahu orang yang dia cari ada di sana, sebab biasanya setiap hari senin adiknya itu akan menghabiskan waktu di apartemennya.
Benar saja Elmira ada di apartemennya, namun sesuatu yang tak terduga malah terjadi di depan matanya. Elvaro sangat marah melihat Elmira dalam keadaan pingsan dengan kepala berdarah.
Jika sampai hal buruk terjadi kepada Elmira. Elvaro tidak akan memaafkan Edgar. Ia akan memberikan perhitungan kepadanya. Mungkin setelah ini Elvaro harus menyelidiki hubungan rumah tangga sang adik. Karena ia merasa ada yang tidak beres dengan rumah tangganya.
Elmira terbaring di atas ranjang rumah sakit yang berada di ruang VVIP. Setelah dokter memeriksa keadaannya, Elmira langsung di pindahkan ke ruang VVIP. Pihak rumah sakit harus ekstra hati-hati dalam melayani pasien yang satu ini. Sebab mereka sudah tahu kalau Elmira dan Elvaro bukan orang sembarangan.
Bahkan rumah sakit yang di tempati oleh Elmira berada di bawah kuasa keluarga Winata. Jadi, para dokter memberikan pelayanan yang terbaik untuk Elmira. Beruntung keadaan Elmira baik-baik saja, dan tidak ada yang serius dengan luka di kepalanya. Jadi Elvaro merasa lega. Hanya saja Elmira mengalami shock dan sedikit tekanan. Karena itu ia masih belum sadar sampai sekarang.
Elvaro masih penasaran, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Elmira sampai seperti itu, apalagi menurut keterangan dari dokter, kepala Elmira terluka di sebabkan oleh kaca yang mengakibatkan pendarahan. Kulit kepala sangatlah tipis, luka sedikit saja maka akan mengeluarkan darah yang lumayan banyak.
__ADS_1
Seperti yang terjadi terhadap Elmira. Luka di kepalanya tidak terlalu besar dan dalam, namun darah yang keluar tetap banyak. Wajar saja Elvaro merasa sangat cemas.
Elvaro sengaja tidak menghubungi mama dan papanya, karena takut mereka khawatir dengan keadaan Elmira. Biarkan saja dia yang menemani Elmira seorang diri. Elvaro menelpon salah satu orang kepercayaannya untuk ditugaskan menyelidiki keadaan rumah tangga sang adik dan suaminya.
"Eungh!" Suara lenguhan terdengar dari bibir mungil milik Elmira. Ia mengerjapkan matanya untuk menetralkan cahaya yang masuk ke netranya. Bau obat menyengat di indera penciuman nya, ia mengedarkan pandangannya ke ruangan yang bernuansa putih itu.
Kepalanya masih terasa pening, Elmira menyandarkan punggungnya ke head bord. "Kenapa aku ada di sini?" Elmira mengingat-ingat kejadian sebelum ia tak sadarkan diri. "Apakah Edgar yang membawaku kemari?"
"Emi! Kamu sudah sadar!" Elvaro menghampiri Elmira yang masih terlihat pucat.
"Kak Elan! Kenapa kakak ada disini?"
"Kakak yang membawa kamu kesini."
"Kakak tadi ke apartemen kamu. Sudahlah lebih baik kamu istirahat saja. Nanti ada yang harus kakak tanyakan sama kamu."
"Mau bertanya apa, Kak?" Elmira menatap kakaknya dengan penasaran. Sebab tidak biasanya Elvaro akan seserius itu jika tidak ada hal yang benar-benar penting.
Melihat tatapan memohon dari sang adik, membuat Elvaro tidak tega. Akhirnya ia menanyakan sesuatu yang membuat dia penasaran. Elvaro menarik nafas terlebih dahulu sebelum memulai percakapannya.
"Jujur sama kakak! Apa Edgar selalu menyakiti kamu? Bagaimana keadaan rumah tangga kalian? Kenapa kamu bisa ada di apartemen, sedangkan kamu sudah mempunyai suami yang seharusnya tinggal di rumah suami kamu?" Elvaro memberondong Elmira dengan berbagai macam pertanyaan.
Elmira menelan ludahnya dengan susah payah. Ia tidak menyangka jika kakaknya akan curiga dengan keadaan rumah tangganya. Elmira benar-benar bingung, apa yang harus dia katakan? Tidak mungkin Elmira jujur kepada kakaknya itu.
__ADS_1
"Rumah tangga Emi baik-baik saja, Kak. Bahkan Edgar tidak pernah menyakiti Emi." Elmira berusaha untuk tersenyum di depan Elvaro, agar kakaknya itu tidak merasa curiga.
Elvaro tahu kalau Elmira tengah berbohong kepadanya. Sebab Elmira tidak pandai berbohong, dilihat dari sorot matanya saja Elvaro sudah tahu jika adiknya itu sedang berbohong. Ia tidak akan memaksa Elmira untuk jujur, lagipula Elvaro sudah memerintah orang kepercayaannya untuk menyelidiki rumah tangga Elmira.
Bahkan yang membuat Elvaro merasa semakin curiga adalah, sampai detik ini Edgar tidak datang menemui Elmira. Suami macam apa yang tega meninggalkan istrinya di rumah sakit. Padahal bisa saja Edgar mengikuti dirinya saat pergi tadi.
Elvaro memilih percaya saja dengan ucapan Elmira. Dia tidak ingin membuat Elmira tertekan. "Ya sudah lebih baik kamu istirahat saja. Kakak mau keluar sebentar." Elvaro mengusap kepala Elmira sebelum meninggalnya.
"Bahkan bekas tamparan di wajahmu masih terlihat jelas, Elmira. Lalu untuk apa kamu menutupinya dengan berbohong kepada kakak? Apa yang kamu takutkan?" gumam Elvaro dalam hati.
"Maafin Emi, Kak! Emi terpaksa harus berbohong. Sebelum Emi resmi bercerai dengan Edgar, Emi tidak akan menceritakan masalah dalam rumah tangga Emi. Biarkan saja semua kebohongan Edgar terbongkar dengan sendirinya." batin Elmira merasa bersalah.
Di sisi lain, Edgar malah bingung apakah dia harus menyusul Elmira ke rumah sakit atau tidak. Mengingat tatapan Elvaro yang sangat tajam membuat nyali Edgar menciut. Namun jika dia tidak datang pasti Edgar akan semakin marah kepadanya. Apalagi Edgar sangat mengkhawatirkan keadaan Elmira.
Edgar sudah berada di depan rumah sakit tempat Elmira di rawat. Namun ia tidak berani masuk ke dalam. Bagaimana jika Elvaro menuntutnya karena sudah membuat Elmira terluka? Lalu bagaimana kalau Elmira sudah menceritakan perilaku buruknya selama mereka menikah? Edgar tidak bisa membayangkan semua itu.
Apalagi kalau Elvaro juga mengadukannya kepada Addison, pasti papanya itu akan semakin membencinya. Jika hanya selingkuh mungkin bisa dimaklumi, namun kalau sudah bersangkutan dengan kekerasan dalam rumah tangga, Edgar yakin keluarga Winata dan juga papanya akan marah besar.
"Apa yang harus aku lakukan?" Edgar memijit pangkal hidungnya karena merasa pusing.
...----------------...
Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar 😘😘😘
__ADS_1