
Happy Reading 🥰
Niat hati ingin segera pulang, namun harus tertunda karena Maya memaksa Elmira untuk makan bersama di restoran yang kebetulan tempat favorit Elmira.
"Ayo, Sayang. Kamu pilih aja mau pesan apa. Biar Evan yang traktir." ucap Maya seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah sang putra.
"Iya, Tante." Elmira memesan makanan kesukaannya, yaitu kepiting goreng mentega.
"Sayang, kamu sekolah di mana?" tanya Maya antusias. Dia mengira bahwa Elmira masih anak sekolah. Maya gak tahu saja kalau Elmira sudah menikah.
Elmira terkejut dengan pertanyaan Maya, apakah wajahnya terlihat seperti anak remaja? Padahal dia sudah dewasa.
"Tante mengira kalau saya masih sekolah?"
"Memang kamu masih sekolah 'kan?"
"Saya sudah menikah, Tante."
"Jangan bercanda, Elmira." Maya malah tertawa, ia rasa Elmira sedang mengerjainya.
"Umur saya sudah 22 tahun, Tante. Saya menikah 3 minggu yang lalu." Elmira memperlihatkan cincin pernikahannya yang tersemat di jari manis.
Seketika itu juga tawa yang terdengar dari bibir Maya langsung senyap. Evan juga tercengang dengan penuturan Elmira. Sedari tadi ia hanya mendengarkan obrolan Elmira dan mamanya.
"Jadi ... Kamu beneran sudah menikah?" Maya terlihat putus asa. Harapannya untuk mendapatkan menantu seperti Elmira sudah gagal.
"Iya, Tante." Elmira tersenyum menatap Maya. Ia tidak tahu bahwa Maya mengharapkan dirinya sebagai menantunya.
Nyali Evan langsung menciut, ia benar-benar hilang harapan. Padahal ini kali pertama bagi dirinya merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Makanan pun datang, mereka menyantap makanan dengan sesekali berbincang. Meskipun Maya tidak bisa menjadikan Elmira sebagai menantunya, namun ia masih bisa menjadikan Elmira sebagai temannya ketika pergi ke salon.
Sedangkan di meja yang tak jauh dari sana. Sepasang mata tengah mengawasi pergerakan Elmira. Ia menatap Elmira dengan tatapan yang sulit di artikan.
__ADS_1
"Edgar, kamu lihat apa?" Alexa mengikuti arah pandang Edgar. Atensinya menangkap sosok istri dari kekasihnya itu yang tengah bercanda tawa dengan laki-laki lain. Seketika itu juga terlintas ide jahat di dalam benak Alexa.
"Itu 'kan istri kamu, Edgar! Wah ternyata dia tengah asik bersama laki-laki lain di belakang kamu. Benar apa kataku 'kan! Kalau dia itu bukan wanita baik-baik. Kamu lihat sendiri 'kan bagaimana kelakuan dia di belakang kamu!" Alexa seolah memprovokasi Edgar supaya Edgar semakin membenci istrinya.
Edgar mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras, ia terlihat sangat marah. Edgar sudah termakan oleh hasutan Alexa. Tanpa ba-bi-bu Edgar beranjak dari duduknya lalu menuju ke arah Elmira.
Brak!
Edgar menggebrak meja yang masih penuh dengan tatanan makanan Elmira, Maya dan juga Evan di sana. Mereka semua terkejut dengan kehadiran Edgar. Terutama Elmira, ia sangat terkejut sang suami tiba-tiba ada di sana dengan wajah yang terlihat marah.
"E-edgar! Kamu ada di sini juga?" tanya Elmira terbata. Ia sangat takut melihat wajah menyeramkan sang suami.
Maya dan Evan yang awalnya ingin memarahi Edgar karena sudah tidak sopan menggebrak meja di sana, mengurungkan niatnya sebab melihat Elmira ternyata mengenal laki-laki tersebut.
"Jadi begini kelakuan kamu di belakang aku, huh! Suami kerja kamu malah asik-asikan jalan sama laki-laki lain." teriak Edgar memarahi Elmira. Untung saja mereka berada di ruang VIP yang hanya ditempati oleh orang-orang kalangan atas, dan sana hanya ada mereka berlima. Elmira, Evan, Maya, Edgar, dan juga Alexa.
"Kamu salah faham, Edgar. Aku sama Evan gak ada hubungan apa-apa. Lagipula di sini ada Tante Maya, mamanya Evan." terang Elmira menjelaskan.
Elmira mengepalkan tangannya, tak terima dengan tuduhan Alexa. "Kamu dengan teganya nuduh aku selingkuh, tapi kamu sendiri sedang jalan berdua sama selingkuhan kamu, Edgar!" Elmira menatap Edgar dengan mata menyala.
"Siapa yang kamu bilang selingkuhan, huh! Alexa memang kekasih aku sejak kita belum menikah! Jadi jaga ucapan kamu!"
"Tapi sekarang aku ini istri sah kamu, Edgar. Apa kamu sudah melupakan janji kamu semalam?"
"Aku tarik janji aku itu. Aku menyesal sudah mengatakan hal itu terhadap mu! Dasar wanita sialan!"
Hati Elmira seperti di sayat-sayat. Ucapan pedas dari Edgar membuatnya kembali terluka. Apalagi dengan terang-terangan Edgar lebih membela Alexa ketimbang dirinya. Air mata mulai membanjiri kedua pipi Elmira.
Edgar meninggalkan Elmira begitu saja disana, dia memilih pergi dengan Alexa. Ia sudah tidak berselera makan lagi setelah berdebat dengan Elmira. Alexa tersenyum puas melihat Edgar marah dan mempermalukan Elmira di depan Maya dan Evan.
Elmira terduduk di kursi sambil menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Ia menangis sesenggukan di sana. Maya yang melihat itu menjadi tidak tega, ia memeluk Elmira dengan penuh kasih sayang untuk mentransfer kekuatan agar Elmira tidak bersedih.
"Sudah, Sayang. Jangan menangis, oke." Maya berusaha menenangkan Elmira. Ia menatap Evan yang juga tengah menatapnya.
__ADS_1
Evan sangat marah melihat Elmira di perlakukan semena-mena oleh suaminya. "Kurang ajar! Suami macam apa dia, memarahi istrinya di depan umum hanya demi membela kekasihnya! Awas saja, akan aku rebut istri kamu, laki-laki sialan!" batin Evan penuh tekad dan amarah. Ia berencana merebut Elmira dari suaminya karena tidak tega melihat Elmira terus-menerus di sakiti.
Hiks ... Hiks ...
"Maaf, Tante. Sudah mengacaukan acara makan bersama, kita." ucap Elmira sesenggukan. Ia sangat malu kepada Maya dan Evan. Keadaan rumah tangganya yang memang tidak baik-baik saja sudah di ketahui oleh orang lain.
"Tidak apa-apa, Sayang. Lain kali kita makan bersama lagi."
"Maaf, sudah membuat kalian menyaksikan hal yang tidak mengenakkan." Elmira melerai pelukan Maya. Ia menatap Maya dengan wajah menyesal.
"Its ok, Sayang. Sudahlah kamu jangan bersedih. Jika butuh teman curhat, Tante siap kok jadi pendengar yang baik buat kamu."
"Makasih, Tante. Kalau begitu saya pamit pulang duluan ya, Tente, Evan."
"Maaf juga, gara-gara aku suami kamu jadi salah faham." Evan menatap Elmira dengan rasa bersalahnya.
"Gak apa-apa kok. Ini memang salah aku yang tidak izin dulu sama suami aku, jadi wajar kalau dia marah." Elmira memaksakan diri untuk tersenyum di hadapan Maya dan Evan. Walaupun keadaan hatinya sangat hancur.
Setelah kepergian Elmira. Maya dan Evan menghembuskan nafas kasar. Mereka sangat kasihan kepada Elmira yang diperlakukan tidak baik oleh suaminya.
"Mama kasian sekali sama Elmira. Dia pasti sangat sulit menjalani hari-harinya. Hidup dengan seorang suami yang tidak mencintainya sangatlah sakit."
"Evan juga kasian Ma. Evan berencana untuk merebut Elmira dari suami yang tak tahu di untung seperti dia!"
"Apa! Kamu mau jadi pebinor?" Maya membulatkan kedua matanya. Dia tak percaya dengan ucapan Evan.
"Aku serius, Ma. Aku bisa memberikan cinta yang besar untuk Elmira." Evan menatap Maya dengan serius.
Maya hanya diam mendengarkan penuturan sang putra. Ia akan mendukung anaknya jika tujuannya untuk membahagiakan wanita sebaik Elmira.
...----------------...
Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar 😘😘😘
__ADS_1