
Happy Reading🥰
Elmira menangis di dalam pelukan Maya ketika sudah berada di dalam mobil. Maya dengan penuh perhatian mengelus punggung Elmira guna menenangkannya.
Hiks ... Hiks ... Hiks ...
"Sudah, tenang ya, Sayang." Maya bingung harus menenangkan Elmira dengan cara apa. Dia dan Evan tidak tahu apa yang menyebabkan Elmira ketakutan. Mereka hanya mengetahui bahwa Elmira tengah di rawat, dan baru pulang dari rumah sakit.
"Mereka semua jahat, Tante. Mereka ... Mereka ... Huu ... Huu ...." Elmira terus menangis, kejadian itu masih membekas di ingatannya.
"Ayo cerita sama Tante, siapa tahu Tante bisa membantu kamu terlepas dari ketakutan yang kamu rasakan, dan lebih nyaman lagi kalau bicara sama Tante jangan terlalu formal. Biar kita semakin dekat, Sayang."
Elmira menghentikan tangisannya, ia menatap manik mata Maya dengan intens. "Tante harus janji tidak akan merasa jijik sama aku," ucap Elmira dengan mata yang berkata-kata. Ia menuruti permintaan Maya untuk tidak berbicara formal lagi.
"Kenapa Tante harus merasa jijik sama kamu, Sayang? Kamu itu wanita yang sangat baik." Maya membenarkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Elmira.
Evan yang duduk di kursi kemudi hanya diam, mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Ingin menyela, takut membuat Elmira histeris lagi.
"Sebenarnya ... A-aku ...." Elmira me-re-mas kedua tangannya karena gugup. Sedangkan Maya dan Evan sudah tidak sabar menunggu Elmira bercerita. "A-aku di--lecehkan oleh em--pat pria." Elmira berkata sambil menundukkan kepala dengan air mata yang membanjiri kedua pipinya.
Evan reflek membalikkan badan, menghadap kearah Elmira yang duduk di kursi belakang. Sedangkan Maya menutup mulutnya merasa tak percaya. "A-apa! Kamu tidak berbohong 'kan?" tanya Maya dan Evan serempak.
__ADS_1
Elmira menggelengkan kepala dengan pelan. Ia tidak berani menatap wajah Maya karena merasa malu. Elmira mulai menceritakan awal mula kejadian itu hingga ia terbaring di atas ranjang rumah sakit. "Bahkan, semua orang mengira kalau aku sudah gila, Tante. Aku tidak gila! A-aku ... Aku hanya takut," lirih Elmira.
"Aku sudah kotor! Aku tidak suci lagi! Bahkan suami aku belum pernah menyentuhku. Tapi ... Mereka berempat sudah menjamah tubuh ini," sambung Elmira dengan tangan memukul-mukul tubuhnya. Membuat Evan langsung pindah ke kursi belakang, dan memegangi tangan Elmira.
Maya tidak kuasa untuk menahan air matanya. Ia menangkup kedua pipi Elmira agar menatapnya. "Dengar, Sayang. Tante percaya kalau kamu tidak gila. Maka dari itu, kamu harus melawan rasa takut itu dengan memberanikan diri masuk ke dalam mall. Kamu tenang saja, Tante sama Evan akan menemani kamu. Percayalah jika kamu masih suci, bukankah ada yang menolong kamu, dan membawa kamu ke rumah sakit. Jadi itu artinya kamu masih suci, Sayang."
"Tapi, aku takut, Tante. Wajah-wajah mereka masih terlihat jelas di ingatanku. Bahkan ketika salah satu di antara mereka me--"
"Elmira! Percaya sama aku dan mama, kita tidak akan membiarkan kamu terluka ataupun dalam bahaya," kali ini Evan yang berbicara. Ia menyela ucapan Elmira yang belum sempat terselesaikan. Evan juga yakin kalau Elmira masih suci.
Elmira hanya diam saja, dia bingung harus bagaimana. Setelah di pikir-pikir, ucapan Maya memang ada benarnya juga. Tapi, Elmira masih belum siap. Dia meminta untuk di antar ke rumahnya, Elmira ingin pulang. Mau tidak mau Evan dan Maya menuruti permintaan Elmira. Mungkin belum saatnya Elmira melawan rasa traumanya itu.
...----------------...
Alexa menangis sejadi-jadinya, saat Edgar memutuskan dirinya. Alexa tidak terima di putuskan oleh Edgar begitu saja, ia akan melakukan apapun agar Edgar tetap menjadi miliknya dan menjadi ATM berjalan untuknya.
"Edgar! Kenapa kamu tega mencampakkan aku setelah kamu merenggut kesucianku! Laki-laki mana yang akan menerima kekuranganku?" teriak Alexa tepat di depan wajah Edgar.
Edgar memutar bola matanya malas. Ia benar-benar muak melihat sandiwara dari Alexa. Ingin rasanya Edgar membongkar kebusukan Alexa saat itu juga. Namun, saat mengingat Alexa yang tidak mempunyai siapa-siapa membuat Edgar tidak tega untuk melanjutkan rencananya.
Edgar sudah memiliki bukti kuat untuk membuat kehidupan Alexa hancur. Tapi, untuk saat ini, bukti itu ia simpan rapi di tempat rahasianya. Suatu saat jika Alexa berulah maka Edgar akan memberikan pelajaran kepadanya.
__ADS_1
"Masih ada Jack yang akan menerima kamu apa adanya. Sebab sejak awal, kamu itu memang miliknya," desis Edgar disertai tatapan tajamnya.
Alexa terbelalak mendengar jawaban dari Edgar. Bagaimana Edgar bisa tahu tentang Jack? Mungkinkah kebohongan Alexa sudah terbongkar? Tapi sejak kapan? Apakah ini alasan Edgar ingin memutuskan hubungan dengan Alexa? Jawabannya tentu saja 'iya'. Mana mungkin Edgar tetap berhubungan dengan wanita j*lang seperti Alexa. Hidupnya pasti akan hancur jika semua itu terjadi.
Akan tetapi, bukan hanya karena itu Edgar ingin berpisah dengan Alexa. Hatinya sudah berpaling kepada wanita lain, yang saat ini masih sah menjadi istrinya. Meskipun pernikahan mereka berada di ujung tanduk, Edgar akan berusaha supaya Elmira mau memberikan satu kesempatan untuknya, dan menggagalkan gugatan cerainya.
Rasa bersalah menyelimuti hatinya, bahkan Edgar tidak bisa untuk sekedar memejamkan mata ketika malam menjelang. Bayangan Elmira yang menangis, selalu berkelebat di benaknya. Ingin rasanya Edgar memutar waktu, dimana saat dirinya akan dijodohkan dengan Elmira. Edgar akan menerima perjodohan itu dengan senang hati, dan akan memberikan cintanya untuk Elmira. Namun semua itu hanyalah mimpi baginya.
Edgar sudah menuai apa yang dia tanam, dan hasilnya penyesalan yang dia rasakan. Kredibilitas yang dimiliki oleh Edgar sangatlah buruk, pikirannya sudah terkontaminasi dengan hasutan Alexa. Sehingga eksistensi Elmira pun tidak pernah Edgar perduli kan.
Mungkin takdir sedang menertawakan kebodohannya. Sungguh miris sekali nasib Edgar, saat bertemu dengan keluarganya pun, dia akan mendapatkan tatapan dingin yang seolah mengintimidasi nya.
"Jack siapa yang kamu maksud, Edgar?" tanya Alexa berpura-pura tidak tahu. Walaupun sebenarnya Ia sangat gugup. Jantungnya berdetak begitu kencang, membuat wajah Alexa mendadak pucat pasih.
"Sudahlah! Aku yakin, kamu pasti tahu apa maksud dari ucapan ku. Aku tegaskan sekali lagi, bahwa kita sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi. Jangan ganggu aku, dan jangan pernah muncul di hadapan ku," sentak Edgar penuh amarah.
"Sialan! Edgar sialan! Awas saja, aku akan memberikan perhitungan terhadapmu dan juga wanita ****** itu." gumam Alexa dalam hati.
...----------------...
Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar 😘
__ADS_1