
Happy Reading🥰
Elmira mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera sampai di rumah, dan menyelesaikan masalahnya bersama Edgar. Elmira tidak akan mengemis cinta lagi, ia sudah menyiapkan diri untuk benar-benar pergi dari kehidupan Edgar. Rasanya sangat sakit ketika mengingat setiap kata yang terlontar dari bibir Edgar.
Padahal baru semalam Edgar bersikap manis terhadapnya. Namun hanya karena salah faham, Edgar kembali ke tabiatnya yang suka berkata pedas. Setelah membuat hati Elmira terbang tinggi, sekarang dengan gampangnya Edgar menghempaskan Elmira ke dasar jurang yang terdalam. Membuat hati Elmira tercabik-cabik, dan terkoyak habis.
Di sepanjang perjalanan pulang, Elmira tiada hentinya meneteskan air mata. Rasanya ia sangat lelah dengan kehidupan ini. Kenapa selalu dirinya yang di salahkan? Padahal Edgar juga bersalah dalam hal ini! Mengingat Alexa yang tengah memprovokasi dirinya di depan Edgar, sungguh rasanya Elmira ingin menghajar mulut wanita ular itu.
Elmira memasuki rumah dengan langkah tergesa-gesa. Tujuannya adalah untuk bertemu dengan sang suami. Elmira memanggil-manggil nama suaminya itu, namun tidak ada jawaban sama sekali. "Apa mungkin Edgar tidak pulang ke rumah? Lalu dia pulang ke mana? Apa jangan-jangan dia ...."
Elmira tidak melanjutkan ucapannya, ia sudah dapat menebak kemana suaminya itu pergi. Kemana lagi kalau bukan ke apartemen Alexa. Elmira tersenyum kecut saat bayangan suaminya yang bermesraan dengan Alexa melintas di pikirannya. Tak ingin membuang waktu, Elmira memasuki kamar lalu mengambil baju-bajunya yang tertata di dalam lemari.
Elmira memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper besar, begitu juga dengan barang-barang yang lain. Ia sudah memutuskan untuk pergi dari kehidupan Edgar, dan bercerai darinya. Tidak ada gunanya mengharapkan masa depan pada laki-laki seperti Edgar yang hanya berlindung di bawah naungan kedua orang tuanya.
Cinta yang dulu bersemayam di lubuk hatinya, kini telah musnah bersamaan dengan rasa kecewa yang Elmira rasakan. Elmira pergi meninggalkan rumah itu dengan linangan air mata. Ia menangis bukan karena takut bercerai dengan Edgar, namun ia menyesal sudah pernah mencintai laki-laki macam Edgar.
Elmira tidak pulang ke kediaman Winata. Ia memilih pulang ke apartemennya. Elmira ingin menenangkan diri tanpa ada orang yang mengganggunya, dan hal itu dapat ia rasakan hanya di apartemen pribadinya yang dia beli dari hasil kerja kerasnya.
Kurang apa Elmira? Dia wanita super komplit dan perfect. Dia tidak akan rugi dan menyesal jika berpisah dengan Edgar. Biarlah Edgar bahagia dengan pilihannya. Saat bercerai pun, Elmira tidak akan mengungkap kejahatan Edgar yang pernah dilakukan terhadap dirinya.
Elmira ingin perceraian berjalan dengan lancar, dan secara baik-baik. Biarkan saja kejahatan Edgar terbongkar dengan sendirinya tanpa campur tangan Elmira. Akhirnya Elmira sudah sampai di apartemen miliknya. Apartemen yang jauh lebih mewah di bandingkan dengan apartemen Alexa yang dibelikan oleh Edgar.
Elmira meletakkan kopernya di dalam kamar yang begitu luas. Dia memilih untuk memasuki bathroom, dan menyegarkan diri di sana dengan cara berendam di bathtub.
__ADS_1
Rasanya sangat fresh, Elmira memejamkan mata guna menikmati acara berendamnya. Untuk sementara masalah rumah tangganya ia lupakan. Tak ingin terus memikirkan laki-laki seperti Edgar. Lebih baik dia berfantasi dengan laki-laki lain yang lebih segala-galanya daripada Edgar. Seperti Evan, contohnya.
Apa! Evan! Mengingat nama Evan membuat perasaan Elmira tak menentu. Entah apa yang dia rasakan. Elmira menggelengkan Kepala supaya tidak memikirkan hal aneh, apalagi memikirkan laki-laki yang baru dia kenal.
...----------------...
Di Apartemen Alexa.
Aa-hh ... Aa-hh ...
Suara de-sa-han memenuhi kamar Alexa. Edgar menengadahkan kepalanya ke atas, merasakan sensasi dari permainan Alexa yang memanjakan Oyongnya.
Sssstt! Alexa! Aa-hh!
Edgar me-nge-ra-ng saat merasakan pe-le-pa-san. Dadanya naik-turun dengan nafas tersengal-sengal. Ya Edgar dengan gilanya bermain li-ar bersama Alexa. Padahal kondisi rumah tangganya sedang tidak baik-baik saja.
"Terimakasih, Sayang." Edgar memeluk tu-buh Alexa yang berada di atas tu-buh-nya.
"Kapan kamu akan me-ma-su-ki aku, Honey? Apa selamanya kita hanya akan bermain seperti ini?" ujar Alexa dengan nada sedih.
"Bukan begitu, Sayang. Aku 'kan sudah bilang kalau aku akan me-ma-su-ki mu ketika kita sudah menikah!"
"Tapi kapan, Edgar! Kapan kamu akan menikahi aku?" Alexa mengeluarkan jurus ampuhnya untuk meluluhkan hati Edgar. Ia menangis terisak-isak dalam pelukan Edgar.
__ADS_1
"Maaf, Sayang. Aku janji secepatnya aku akan menikahi kamu. Tunggu sampai aku resmi bercerai dengan wanita j*lang itu!"
"Sampai kapan aku harus menunggu? Satu tahun aku hanya di berikan harapan palsu oleh kamu Edgar."
"Aku janji, dalam waktu 2 minggu aku akan bercerai dengan dia."
"Serius? Kamu gak bohong 'kan?" Alexa menatap Edgar dengan mata yang berbinar.
"Iya, Sayang. Percayalah." Edgar mengecup puncak kepala Alexa penuh kasih sayang.
Mereka berdua berpelukan dengan mesra, layaknya pasangan suami-istri. Edgar selalu di pu-as-kan oleh Alexa. Dia merasa sangat senang meskipun hanya sekedar menggunakan mu-lut, tapi Edgar sudah sangat puas.
Ya selama menjalin kasih dengan Alexa, Edgar tidak pernah berhubungan intim layaknya pasutri. Dia akan di pu-as-kan menggunakan mu-lut oleh Alexa, sedangkan dirinya me-mu-as-kan Alexa menggunakan kedua jarinya. Walaupun hanya begitu, mereka tetap sama-sama pu-as.
Edgar tetap pada pendiriannya, ia tidak akan melakukan itu sebelum mereka menikah. Cukup waktu di club dulu dirinya melakukan hal terlarang dengan Alexa dalam keadaan mabuk. Edgar melakukan itu di luar kendalinya.
Sebenarnya Edgar masih tidak ingat jelas kejadian dimana dirinya yang tiba-tiba menodai Alexa. Waktu dia tersadar di sampingnya sudah ada Alexa dengan keadaan menangis histeris, dan berkata bahwa dirinya sudah menodai Alexa dengan merenggut kesuciannya.
Edgar awalnya tidak percaya, namun saat melihat bercak merah di atas kasur yang ia tempati, Edgar jadi sadar dan merasa bersalah atas tindakannya. Edgar berjanji akan bertanggungjawab terhadap Alexa dengan menikahinya. Namun saat Edgar membawa Alexa untuk di perkenalkan kepada kedua orang tuanya. Addison malah menentang keras hubungan mereka.
Tentu saja Edgar sangat marah, dia yang tipikal laki-laki bertanggungjawab harus kecewa dengan penolakan kedua orang tuanya, yang mengatakan bahwa Alexa bukan wanita baik-baik, dan hanya seorang j*lang. Edgar tidak terima dengan tuduhan dan hinaan Addison terhadap Alexa. Karena jelas-jelas ia melihat noda merah itu saat berada di salah satu kamar yang tersedia di club. Yang artinya Alexa masih suci, dan dia yang sudah merenggut kesuciannya secara paksa.
...----------------...
__ADS_1
Terimakasih atas dukungan kalian semua para readers 😘😘
Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar 🥰