
Happy Reading 🥰
Elvaro tidak menemukan adanya orang diruang proyektor. Dia hanya melihat para penjaga yang bertugas di sana tengah tak sadarkan diri di atas lantai ruangan. Pasti ada yang dengan sengaja melakukan hal itu, dan juga sepertinya memang telah lama direncanakan hingga kejadian itu berjalan dengan lancar.
Elvaro berpindah ke ruang CCTV, ia ingin memeriksa kejadian tadi. Pasti orang itu sudah tertangkap oleh kamera CCTV yang terdapat di sekitar mall serta di dalamnya. Lagi-lagi Elvaro tidak mendapatkan apa yang dia cari, sebab semua CCTV sudah dimatikan sejak 30 menit sebelum acara pengesahan mall E2 di laksanakan.
Elvaro sangat marah mengetahui hal itu, para petugas di sana sama-sama tidak becus. Sebab petugas di ruang CCTV hilang entah kemana. Elvaro mengacak-acak rambutnya frustasi. "Sial! Kenapa aku sampai kecolongan! Bahkan tidak mengantisipasi keadaan hingga terjadilah hal seperti ini. Semuanya kacau hanya gara-gara orang pecundang yang bermain licik di belakang layar." Ucap Elvaro berapi-api.
Elvaro turun ke lantai bawah tempat diadakannya pesta. Orang-orang masih tampak riuh dengan kejadian yang terjadi di luar nalar. Elvaro tidak menemukan keberadaan Elmira dan kedua orang tuanya di sana. Mungkin mereka sudah membawa Elmira pulang ke rumah untuk menenangkannya. Dengan langkah cepat Elvaro keluar dari dalam mall dan menuju basement lalu menuju kearah mobilnya. Setelah itu Elvaro melajukan mobilnya ke arah kediaman Winata. Ia yakin kalau Elmira pasti dibawa pulang kesana.
Benar saja tebakan Elvaro, Elmira memang pulang ke rumah Winata. Namun dia tidak pernah diam dan terus meronta-ronta seperti orang gila. Elmira sangat tertekan dengan apa terjadi malam ini. Dari video syur sang suami yang menjadi tontonan khalayak umum, hingga video dirinya saat mengalami pelecehan. Membuat mental Elmira semakin down, Edgar terus mendekap tubuh Elmira dengan erat. Ia tidak akan membiarkan Elmira menyakiti dirinya sendiri.
Awalnya Edgar tidak diperbolehkan ikut pulang ke rumah Winata, tapi Edgar bersikeras untuk pulang bersama dengan sang istri. Ia tidak ingin berpisah lagi dengan Elmira apapun yang terjadi. Mulai saat ini Edgar akan menentang keras bagi siapa saja yang melarangnya untuk bertemu dengan Elmira. Lagipula dia sangat berhak atas istrinya itu jadi tidak ada yang bisa memisahkan mereka mulai detik ini.
__ADS_1
Edgar membawa masuk Elmira ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua. Dengan keadaan Elmira yang sudah tertidur lelap sejak berada di mobil tadi mungkin karena kelelahan. Edgar menatap wajah sang istri yang terlihat gelisah dalam tidurnya. Edgar benar-benar marah atas apa yang terjadi.
Edgar yakin kalau dalang di balik semua ini adalah Alexa. Sebab cuma Alexa yang bisa melakukan hal selicik itu agar Elmira pergi dari sisinya. Edgar harus menemuinya sekarang juga ia akan membuat perhitungan terhadap Alexa yang sudah membuat keadaan Elmira tidak baik-baik saja.
Elvaro menerobos masuk ke dalam kamar sang adik. Ia ingin melihat keadaan Elmira apakah sudah membaik atau tidak. Elvaro melayangkan tatapan dingin kearah Edgar, ia sangat membencinya bahkan rasa bencinya yang kemarin masih belum hilang, sekarang sudah bertambah. lagi tingkat kebenciannya. Bukan hanya sekedar benci, tapi lebih ke kata jijik saat melihat adik iparnya tengah menikmati permainan panas di atas ranjang bersama sang kekasih.
"Kenapa kamu ada di sini? Seharusnya kamu pergi yang jauh dari kehidupan adikku yang bisanya hanya membuat dia terluka!" ketus Elvaro di sertai tatapan tajamnya yang seperti perisai.
Namun Edgar tidak mengindahkan ucapan Elvaro yang terang-terangan mengusirnya. "Aku suaminya, jadi aku berhak atas dirinya. Sudah tugasku menjaga dan melindunginya, Kak," tandas Edgar penuh penekan. Ia sudah tidak perduli akan semakin di benci oleh kakak iparnya itu.
Jika saja Elmira belum menikah, Elvaro sudah menjodohkannya dengan Evan. Laki-laki yang sangat baik di matanya, kemarin Evan juga menemuinya ke perusahaan Winata. Entah Evan tahu dari mana tentang status dirinya. Padahal sejak pertama kali bertemu dan membantu Evan, Elvaro lebih dulu menyembunyikan identitasnya.
"Eungh!" Elmira melenguh saat terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa sangat berat, mungkin karena terlalu banyak tekanan hingga membuatnya seperti itu.
__ADS_1
"Emi! Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Elvaro begitu khawatir. Membiarkan Edgar tetap berdiri di sambil ranjang sambil menatap interaksi keduanya.
Elmira mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya sampai dirinya terbaring di atas ranjang. Elmira berharap semua itu hanya mimpi, tapi nyatanya itu adalah fakta. Seketika itu juga air mata Elmira luruh membasahi kedua pipinya. Ia terisak merasakan dadanya yang terasa begitu sesak. Hingga atensinya bertabrakan dengan netra Edgar yang juga menatap dengan sendu.
"El!" Edgar berusaha meraih tangan Elmira, namun di tepis kasar olehnya. Tatapan Elmira menyiratkan sebuah kebencian terhadapnya. Membuat hati Edgar meringis. Ia tahu Elmira tidak akan percaya begitu saja dengan ucapannya jika tidak di sertai dengan bukti. Maka dari itu sebelum Edgar membuktikan kalau dirinya tidak bersalah, ia tidak akan terlalu banyak bicara terhadap Elmira. Jika tidak maka Elmira akan semakin membencinya.
"Tega kamu, Mas! Di saat aku mulai mempercayai mu, dan disaat aku sudah memberikan segalanya untuk mu, lalu ini balasannya, huh!" sentak Elmira dengan mata menyala. Keadaannya sudah jauh lebih tenang daripada sebelumnya. Ia sudah bisa mengontrol emosi di dalam dirinya. Sekuat tenaga Elmira menahan rasa trauma yang kembali hadir di dalam dirinya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Edgar dan semua orang yang ada di sana.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak dengan ucapan ku tadi, El. Membela diri pun kamu tetap tidak akan percaya. Baiklah, untuk saat ini kamu tinggallah di rumah ini hingga keadaan sudah tidak lagi memanas. Aku akan pergi dan memberikan waktu untuk kamu sendiri. Aku akan kembali jika aku sudah membuktikan bahwa aku tidak bersalah dalam hal ini. Semua yang aku katakan waktu itu bukanlah sebuah kebohongan, El. Kamu bisa melihatnya dari mataku, seseorang mungkin bisa berbohong dengan bibirnya, tapi tidak dengan matanya. Sebab mata akan menunjukkan apa yang ada di dalam hatinya bukan apa yang di ucapkan oleh bibir," tutur Edgar panjang-lebar.
Setelah mengatakan itu Edgar mengecup kening Elmira sangat dalam, lalu keluar dari dalam kamar dan pergi meninggalkan kediaman Winata. Ia tidak menghiraukan tatapan sinis dari papa mertuanya, dan hanya fokus dengan apa yang sudah dirinya rencanakan.
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar 😘😘