
Happy Readingš„°
Setelah melewati perdebatan yang cukup sengit, akhirnya Elmira mendapatkan izin dari Elvaro dan juga mama, papanya untuk tinggal satu rumah bersama Edgar. Dengan satu syarat, Edgar tidak boleh menyakiti Elmira walau seujung kuku. Tentu saja Edgar menyetujui syarat itu, sebab ia sudah berjanji tidak akan menyakiti Elmira lagi, dan juga Elmira sudah berusaha keras dalam meyakinkan kakak dan kedua orang tuanya supaya mereka percaya terhadap Edgar. Jadi, Edgar tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan itu.
Elmira dan Edgar sudah sampai di rumah baru mereka. Rumah yang akan diisi dengan cinta dan kasih sayang keduanya. Sebab mereka sudah saling mencintai satu sama lain. Meskipun rumah itu di beli secara dadakan, namun hasilnya tidak mengecewakan. Edgar tidak sia-sia mempekerjakan Roy sebagai asisten pribadinya yang selalu bisa di andalan.
Bahkan seleranya dalam memilih rumah baru miliknya sama sekali tidak mengecewakan. Semuanya sesuai dengan perintahnya yang menginginkan lokasi rumah dengan jarak tidak terlalu jauh dari butik EMI, agar Elmira tidak kelelahan ketika mengendarai mobil ke sana.
Tidak! Edgar tidak akan membiarkan Elmira menyetir mobil sendiri, ia akan mengantarkan Elmira ke butik setiap hari. Rasanya hidup Edgar akan kembali berwarna setelah sekian lama menghitam gara-gara terkena tipu oleh Alexa. Edgar hanya bisa berharap semoga Alexa tidak membuat onar.
"Mas, makasih sudah mau mengabulkan keinginan ku," ucap Elmira dengan tulus.
"Keinginan kita, bukan cuma keinginan kamu, Sayang. Jadi, stop bilang makasih."
"iya, iya, bawel," ucap Elmira terkekeh kecil.
"Apa! Berani sekali kamu mengatakan aku bawel. Awas ya aku balas kamu." Edgar menangkap tubuh Elmira lalu menyerangnya dengan menggelitiki pinggang sang istri. Membuat Elmira tertawa terbahak-bahak merasa geli.
"Hahahaaa ... Mas, ampun. Hentikan, geli. Hahahaaa ...." Elmira mencoba untuk melepaskan diri. Rasanya ia ingin pi-pis karena gelitikan itu.
Edgar menghentikan aksinya saat melihat wajah Elmira yang memerah. Ia jadi tidak tega membuat istrinya kegelian. Setelah Elmira terbebas dari serangan Edgar, ia tidak sengaja menginjak kaki Edgar sehingga membuatnya terjatuh ke atas sofa dengan posisi terlentang, membuat dirinya ikut terjatuh di atas tubuh Edgar.
Tatapan keduanya bertemu dan saling mengunci. Tatapan penuh dengan binar cinta di dalamnya. Entah siapa yang memulainya, kini bibir mereka sudah menempel. Hingga ciuman yang awalnya sekedar se-sa-pan, kini berubah menjadi lu-ma-tan dan juga menuntut agar lebih dari sekedar itu.
__ADS_1
Suara de-ca-pan menjadi nyanyian di ruangan itu, ruang tengah yang sangat luas, tapi udara di sana terasa panas di tubuh kedua insan yang tengah memadu kasih. Edgar terus me-lu-mat, meng-gigit dan menye-sap telaga madu yang menjadi candu baginya. Suara-suara erotis memenuhi ruangan itu, Edgar semakin bersemangat karenanya.
Edgar melepaskan pagutannya saat menyadari Elmira tidak bisa bernafas. Ia menatap Elmira yang juga menatapnya dengan tatapan dalam. Jarak keduanya sangat dekat, bahkan deru nafas mereka terdengar saling bersahutan. Edgar menyatukan keningnya dengan kening Elmira.
"Sayang, bolehkah malam ini?" tanya Edgar dengan suara serak akan kabut gairah.
Elmira menganggukkan kepala dengan pasti. Membuat Edgar tersenyum dengan jawaban itu. Elmira juga menginginkan hal lebih dari itu, jadi ia sudah siap melakukannya dengan Edgar. Elmira menangkup kedua pipi Edgar, lalu memberanikan dirinya mengecup bibirnya. Ia yang belum mahir dalam hal berciuman hanya bisa menggunakan cara yang dia tahu saja, itupun hasil bimbingan Edgar tadi pagi di ruang kerjanya.
Edgar membalas ciuman Elmira dengan lembut, ciuman yang lama kelamaan menjadi ciuman panas. Edgar meraup bibir Elmira dengan brutal, ia sudah dikuasai dengan kabut gairah.
"Eungh! Aahh!" Sebuah de-sa-han lolos dari bibir Elmira. Ia selalu terbuai dengan sentuhan Edgar yang begitu memabukkan.
Edgar mengangkat tubuh Elmira menggunakan kedua tangannya. Ia membawanya menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar mereka yang berada di lantai dua. Bibir mereka tetap menyatu, seolah tak ingin lepas barang sedikitpun.
Nafas keduanya semakin memburu ketika kulit mereka bersentuhan. Ciuman Edgar turun dari bibir menuju ke leher jenjang sang istri. Meninggalkan jejak kepemilikannya di sana. Edgar terus menyusuri setiap inci tubuh Elmira. Memberikan kecupan cinta di sana hingga Elmira merasa terbang ke atas awan.
Edgar me-la-hap satu buah gundukan kenyal yang berwarna pink dengan rakus. Menggi***, memi***, menji***, menye***, dan menyed***** dengan kuat, membuat Elmira menggeli***** tak karuan.
Aahh ... Edgar ...
Elmira meliuk-liukkan tubuhnya seperti cacing kepanasan. Tangannya mencengkram sprei dengan erat, melampiaskan rasa yang teramat nik-mat di tubuhnya. Sebuah rasa yang akan membawa dia ke alam surga.
Setelah puas bermain di area dua buah kenyal, li-dah Edgar turun ke perut hingga berhenti tepat di hutan belantara. Edgar menyusuri goa surgawi dengan lincah nya. Li-dahnya terus menari-nari di sungai itu, dan mengobrak-abrik isinya. Tidak puas hanya dengan li-dah, Edgar mulai memasukkan salah satu ja**nya untuk memporak-porandakan hutan belantara itu.
__ADS_1
Suara-suara aneh yang berada dari hutan belantara yang diiringi dengan suara de-sa-han dari bibir Elmira, membuat Edgar semakin menggila. Ia mempercepat gerakan tangan dan li-dahnya hingga Elmira berteriak menyerukan namanya tiada henti.
"Ough! Aahh! Edgar! A-aku--" Elmira tidak bisa melanjutkan ucapannya, sebab permainan Edgar seperti menghipnotis pikirannya yang membuat dirinya tak bisa berkata-kata.
"Yeah, Honey! Keluarkan saja, aku menunggu!" Edgar menjawab perkataan Elmira di tengah-tengah aktivitasnya.
Edgar merasakan tubuh Elmira menegang, ia menambah laku kecepatannya hinggan Elmira men-jerit saat merasakan sebuah pe-le-pa-san.
Aahh ... Edgar ...
Tubuh Elmira bergetar setelah sungainya terasa banjir. Nafasnya tersengal-sengal, ia merasakan lega ketika sesuatu yang ba-sah mengalir di bawah sana. Edgar memang pandai membuat dirinya melayang.
Edgar tersenyum puas melihat Elmira begitu menikmati permainannya. Setelah cukup melakukan foreplay, sekarang waktunya bagi Edgar memulai permainan ke intinya. Edgar membuka lebar-lebar ka-ki Elmira lalu memposisikan tongkat saktinya ke arah goa yang terlihat begitu indah.
Elmira meringis menatap tongkat sakti mandraguna milik suaminya yang begitu perkasa. Elmira sangat takut, tapi ia harus melawan rasa takut itu demi menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri kepada suaminya.
Edgar yang melihat ketegangan di wajah Elmira langsung berkata. "Sayang, jangan takut, jangan tegang. Rileks! Aku janji akan bermain dengan pelan," ucap Edgar menenangkan. Setelah mendapatkan persetujuan dari Elmira, Edgar langsung memasukkan tongkatnya ke dalam goa yang terasa sangat sem***.
Aaaakh! Sakit!
...----------------...
Jangan lupa tekan like dan tinggalkan jejak di kolom komentarš
__ADS_1