
"Rumahnya dimana, Asillya?" Tanya Sekretaris Rio.
"Di Perumahan Jingga Jl. Duku, Pak." Jawabnya sumringah dengan wajah terpesona pada Sekretaris Rio.
Setelah sampai depan rumah, Asil mengucapkan terimakasih dan turun dari mobil.
Rio dan Sopir pribadi Arga belum pulang masih melihat punggung Asil semakin jauh dan masuk kedalam rumah.
"Sudah sampai, Pak." Kata Sekretaris Rio menelpon seseorang. Lalu menutup telfon tersebut.
Sepertinya Arga mulai perhatian sama calon istrinya. Gumam Sekretaris Rio gembira.
"Mari Pak pulang, sudah malam waktunya istirahat." Ajak Rio ke Pak Sopir. Lalu pergi meninggalkan rumah Asil.
*Fla**sh Back to Arga*.
Tiba di rumah pribadi, Arga merebahkan tubuhnya di sofa kamarnya.
Ponsel Arga berdering dan bergetar.
Drrrt ... Drrrt ... Drrrt ...
Arga melihat nama panggilan dari ponselnya, "ada apa lagi sih, Papa?" Gumam Arga kesal.
"Hallo, Pa." Arga mengangkat panggilan dari papanya.
"Kamu sudah pulang, Ga. Sudah melihat email yang papa kirim kemarin?" Tanya Pak Hendra.
"Iya sudah, Pa." Jawab Arga.
"Putri Pak Hasyim bekerja di perusahaan kamu, apa kamu tidak mengantar pulang Asillya?" Tanya lagi Pak Hendra ingin tau anaknya sudah berkenalan dengan Asillya atau belum.
"Iya Pa, Arga tahu. Ngapain Arga ngantar pulang Asil, Pa." Jawab Arga kesal.
"Loh, kamu ini gimana? Asillya itu calon istri kamu, anaknya baik, cantik, penurut. Kamu mau cari yang gimana lagi, Ga. Papa sudah menjodohkan kamu dengan anak teman papa kamu tidak mau. Antar Asillya pulang, sekarang, Ga." Suruh Pak Hendra pada Arga dengan tegas dan lantang. Bak singa yang mentitahkan anak buahnya.
"Iya, iya." Arga menjawab lalu memutuskan sambungan telepon dari papanya.
Lalu Arga menghubungi Rio meminta mengantarkan Asil pulang dan Arga juga ingin tahu rumah Asil dimana.
*F**lash Back Off*.
*R**umah Pak Hendra*.
( POV ).
"Anak ini benar-benar keras kepala seperti mendiang mamanya dulu." Gumam Pak Hendra.
Sebelum mama Arga meninggal, pernah menitipkan pesan pada Pak Hendra kalau Arga harus dijodohkan dengan putri Pak Hasyim. Mendiang mama Arga sangat menyayangi Asil seperti putrinya sendiri.
Saat Asil berusia 5 tahun pernah di ajak Pak Hasyim dan Bu Siti datang ke acara ulang tahun Arga yang ke-10 tahun.
Keakraban mama Arga dan Bu Siti seperti saudara sendiri dan Asil sudah di anggap sebagai putrinya mama Arga.
Di saat Arga berusia 15 tahun, mama Arga meninggal karena penyakit leukimia (kanker darah) yang di derita saat Arga berumur 13 tahun dan mama Arga menitipkan pesan ke Pak Hendra. (Kabar yang diceritakan ke Arga yang ternyata tidak benar).
__ADS_1
Semenjak mama Arga meninggal, Arga sering mengurung dirinya sendiri yang menjadikan Arga pendiam yang tidak suka bergaul dan menjadi sangat dingin kepada siapapun.
Teman yang selalu berada disisinya hanya Rio yang sekarang menjadi Sekretaris Pribadinya.
( POV End ).
Rumah Asil.
Asil langsung menuju kamarnya untuk merebahkan tubuhnya di ranjang, sambil menatap langit-langit kamar.
"Aku ingin ngekos dekat kantor deh!"
"Ingin tahu jadi anak kos itu enak tidak, ya?"
"Tapi bapak sama ibu boleh apa tidak, ya."
"Repot nih kalau tidak di bolehkan." Gumam Asil.
Tak terasa Asil yang ngomel-ngomel sendiri, langsung tertidur pulas dan belum sempat berganti pakaian.
*Ke Es**okan Hari*.
Asil sudah bersiap diri langsung duduk dimeja makan, "Pak, Bu. Asil ingin ngekos boleh, tidak?" Tanya Asil.
"Ada apa, Nak? Tidak ada angin, tidak ada hujan anak ibu tiba-tiba pengen ngekos." balasnya, "apa... Ingin melarikan diri dari perjodohan ?" Tanya Bu Siti menggoda Asil dan tertawa pelan.
"Jelaskan ke bapak, kenapa tiba-tiba mau ngekos?" sahut Pak Hasyim mempertanyakan.
"Jarak rumah ke kantor itu jauh, Pak. Dan butuh waktu kurang lebih 1 jam. Asil juga pengen mandiri." seru Asil merayu Pak Hasyim.
"Tidak kabur dari perjodohan kan?" Tanya Pak Hasyim lagi mengintimidasi.
"La kata siapa toh, Asil. Perjodohan ini tetap di laksanakan, Pak Hendra mau kamu jadi istri anaknya itu." Pak Hasyim menjelaskan dengan nada tegas.
"Baiklah, Pak, aku terima perjodohan ini tapi... Asil boleh ngekos ya, Pak, Bu." Asil memohon di depan Pak Hasyim dan Bu Siti dengan mata berbinar-binar seakan merayu dengan meyakinkan kedua orang tuanya.
"Iya, Asil. Bapak sama ibu membolehkan kamu ngekos tapi tetap dalam perjodohan ini ya, Nak." sambung Bu Siti mempercayai putrinya.
"Siap, Pak, Bu. Terimakasih banyak!" Seru Asil dengan senang langsung memeluk Bu Siti dan Pak Hasyim secara bergantian.
Adel yang melihat tingkah kakaknya itu tersenyum gemas. *K**akak ini kalau minta apapun seperti anak kecil* saja. Batin Adel dan berpamitan untuk berangkat sekolah.
****
Usai sarapan Asil menunggu Novi untuk berangkat kerja bersama di rumahnya. Beberapa detik Novi menyusul Asil lalu mereka berjalan menuju halte sambil duduk menunggu busway tiba.
Dari seberang terlihat mobil mewah sedang berhenti di pinggir jalan.
Ternyata... Mobil Pak Hendra yang sedang melintasi jalan dekat perumahan, melihat Asil dari kejauhan duduk bersama wanita seumuran dengan Asil. Pak Hendra segera menghampirinya dengan mobil mewahnya seraya membuka kaca mobil.
Seketika Asil tersentak kaget melihat mobil berhenti di depannya yang di tumpangi oleh Pak Hendra.
"Pak Hendra!" panggilnya heran.
"Nak Asil, berangkat kerja bareng saya saja." Ajak Pak Hendra.
__ADS_1
"Tidak, Pak, terimakasih. Saya naik busway saja." Tolak Asil dengan senyum manis diwajahnya.
"Masuklah Asil, saya mau ke perusahaan anak saya." kekeuh Pak Hendra menyuruh Asil masuk.
"Baik, Pak." balasnya menurut. Lalu Novi juga ikut masuk mobil Pak Hendra dan duduk di samping Pak Sopir karena ajakan Asil. Biasanya yang menyopiri Pak Hasyim. Namun hari ini Pak Hasyim ijin tidak masuk karena ada keperluan keluarga ke luar kota.
Didalam mobil terasa hening, Pak Hendra memulai pembicaraan terlebih dahulu, "Nak Asil, kamu mau jadi menantu saya." Tanya Pak Hendra serius tanpa berbelit.
Rasanya hari itu Asil seperti tersedak biji salak yang membuat sejenak tak bisa bernapas. Yang dia rasakan sekarang bingung bercampur kaget apa yang harus di jawab oleh Asil. Dan saat pak Hendra menanyakan hal itu seperti terkena "Sambaran Petir Di Siang Bolong." akunya.
"I... Iya, Pak." Jawabnya gagap dan gugup. 'harus jawab apa aku, menolak pun rasanya tak enak pada Pak Hendra'
"Baiklah, Nak Asil. Kalau begitu, lusa bapak akan ke rumah kamu sambil menunggu Pak Hasyim pulang dari luar kota." Pak Hendra tersenyum puas mendengar jawaban Asil yang keluar dengan tulus walau gugup.
Tak bisa keluar lagi sebuah jawaban penolakan dengan suara dan ucapan. Hanya sebuah anggukan saja yang bisa terlontarkan saat ini yaitu jawaban "IYA"
*B**eberapa menit* ...
Sampai di depan Perusahaan Ritel, dimana tempat Asil dan Novi bekerja, mereka turun terlebih dahulu sedangkan Pak Hendra masih di dalam mobil.
"Terimakasih banyak, Pak Hendra, atas tumpangannya." ucap Asil dan Novi tersenyum seraya menganggukkan kepala macam hormat dan sopan pada atasan.
"Iya, sama-sama, Nak." Jawab Pak Hendra membalas anggukan.
Lalu Asil dan Novi berjalan masuk melewati pintu keluar masuk orang.
Sedangkan Pak Hendra turun di tempat parkir. Di depan lift utama khusus Bos Besar, Pak Hendra masuk dan lift mulai naik sampai ke ruangan Arga.
Sampai di ruangan Arga, Pak Hendra masuk tanpa mengetuk pintu dan duduk di sofa dengan wajah tenangnya.
Pak Hendra sama sekali belum melihat putra tunggalnya datang. Menunggu hingga si Arga datang ke kantornya.
****
"Happy working yes, Nov!" Kata Asil melambaikan tangan rampingnya pada sahabatnya.
"Happy work too, Asil." Balas Novi pada Asil.
Dia menaiki lift menuju ruang atasannya yang hipertensi menurut Asil. Lift terbuka dia berjalan lebih cepat dari biasanya, sampai di depan pintu ruangan Arga. Dia baru teringat ada sesuatu yang tertinggal yaitu membuatkan kopi untuk Bos Besarnya. Lalu Asil kembali pergi membuatkan kopi robusta ala Meksiko.
Arga pun datang dengan Sekretaris Rio melihat Pak Hendra yang sedang duduk di sofa ruangannya.
"Ada apa Papa kesini?" Tanya Arga dingin.
"Papa tidak boleh kesini, Ga. Papa sudah kangen sama kamu, Nak. Kamu tidak pernah pulang ke rumah Papa." Pak Hendra terlihat begitu sangat rindu pada putranya.
"Tidak ada peker..." belum sempat menyelesaikan bicaranya suara barang jatuh ke lantai.
*Br**uk* ...
Semua orang di dalam ruangan seketika menoleh ke arah ambang pintu. Arga, Sekretaris Rio, dan Pak Hendra tersentak kaget melihat kopi terjatuh di depan Asil. 'yah... karyawan barunya'
*K**aget karena apa ya, Asil sampai menumpahkan kopi yang dibawanya*?
Jangan lupa vote readers tercinta tersayang.😍😍😘😘
__ADS_1
Klik favorit ♥️♥️♥️♥️ readers dan like ya.
Author tunggu.