
"Bi, saya mau bicara sama bibi. Besok saya berangkat menyusul Arga ke Amsterdam. Dan saya minta untuk menjaga Asil dengan baik. Itu saja pesan saya dan tadi saya juga sudah bertemu dan berpamitan pada pak Hasyim dan Bu Siti di kantin rumah sakit." Kata pak Hendra yang duduk di sofa ruang Asil.
"Ada yang terjadi pada mas Arga, tuan?" Tanya bi Ima yang resah dan gelisah.
"Dan saya akan menjaga nona Asil seperti merawat mas Arga, tuan. Tuan, tadi nona Asil sadar memanggil-manggil nama almarhum nyonya Jihan dan mencari seperti kebingungan." Tambah Bi Ima.
"Kenapa memanggil nama almarhumah? Apa bibi sudah memberitahu dokter?" Tanya pak Hendra terheran.
"Belum tuan karena nona Asil tidak mau di periksa oleh dokter lagi." Jawab Bi Ima dengan menunduk.
"Biar saya saja yang ke dokternya, menanyakan hal ini." Kata pak Hendra sambil pergi keluar mencari dokter.
"Iya, tuan!" Jawab Bi Ima lalu memandangi nonanya.
Kenapa Asil memanggil dan mencari almarhum tantenya? Apa yang terjadi saat dia koma.
Aku tadi mendengar dengan samar-samar pembicaraan pak Hasyim dan Bu Siti yang membicarakan Jihan istri ku.
Ada yang di sembunyikan oleh mereka.
Gumam pak Hendra.
Setelah sampai di ruang dokter, seorang perawat menghampiri pak Hendra.
"Permisi pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya perawat itu.
"Saya ingin konsultasi dengan dokter." Jawab pak Hendra.
"Maaf, dokter masih ada pasien. Mohon di tunggu sebentar." Kata perawat itu.
"Iya, katakan kalau saya ada kepentingan." Seru pak Hendra sambil duduk di kursi panjang.
"Baik, pak!" Kata perawat itu kemudian masuk ke ruang dokter sambil membawa berkas di tangannya.
Perawat itu keluar dari ruang dokter bersama pasien yang berkonsultasi.
"Silahkan masuk pak Hendra!" Kata perawat menyuruh masuk pak Hendra.
"Iya, Mbak!" Jawab pak Hendra berdiri dan masuk ke ruang dokter.
Di sana dokter menyambut pak Hendra dengan baik. Siapa yang tidak kenal dengan keluarga pak Hendra yang terkenal dengan sebutan "MALAIKAT", berbeda dengan Arga Diksananda sang anak yang di juluki "MONSTER BERDARAH DINGIN".
"Selamat sore pak Hen!" Sambut dokter dengan tersenyum.
__ADS_1
"Silahkan duduk!" Tambah dokter.
"Selamat sore Dok!" Jawab pak Hendra sambil duduk.
"Sepertinya ada hal penting yang mau di bicarakan." Kata dokter tertawa kecil.
"Iya, dok. Ini mengenai calon menantu saya... Asil. Apa yang di alami saat koma, dok? Kenapa dia memanggil almarhum istri saya?" Tanya pak Hendra ingin tahu.
"Saat koma pasien berada di alam bawah sadarnya sehingga pasien bisa bertemu dengan orang yang sudah meninggal atau berkelana. Ya... Seperti arwah yang berkelana kemana-mana." Kata dokter menjelaskan.
"Itu hal biasa, pak Hen. Setelah sadar kebanyakan pasien akan mengalami hilang ingatan sementara dan ada juga sebagian hilang ingatan total. Itu tergantung kecelakaan atau sakit yang di alami pasien." Tambah dokter sambil tersenyum.
"Jadi seperti itu, dok. Dan dokter tahu penjelasan ini dari siapa?" Tanya pak Hendra sambil tertawa.
"Apa pak Hen tidak memercayai saya sebagai dokter pribadi anda? Saya sudah menanyakan ke setiap pasien yang pernah mengalami koma.
Dan saya juga mau meminta pada pak Hen untuk memindahkan saya ke rumah sakit yang dahulu." Kata dokter itu memelas.
"Ha-ha-ha... Dokter silahkan meminta kepada anak saya saja. Karena yang memindahkan anda bukan saya melainkan Arga anak saya yang baik hati." Kata pak Hendra sambil tertawa melihat wajah dokter pribadinya yang memelas seperti anak kecil.
"Kesalahan saya ini apa pak Hen? Kenapa saya di pindahkan ke rumah sakit yang sederhana dan gaji saya juga di potong? Haduh... Membuat saya jadi pusing karenanya." Tambah dokter itu sambil memijit keningnya.
"Sudah, sudah dok. Nanti saya akan berbicara padanya, dan saya meminta untuk tetap mengawasi kondisi Asil karena saya nanti malam akan berangkat menyusul Arga ke Amsterdam. Jadi,mohon bantuannya dokter." Kata pak Hendra sambil tersenyum.
"Tunggu kabar dari saya, dok." Ucap pak Hendra beranjak pergi dari ruang dokter.
"Baik, terimakasih banyak!" Seru dokter itu.
Flashback to pak Hasyim dan Bu Siti.
"Pak, ibu merasa ada sesuatu yang mengganjal dan tidak enak dengan pak Hendra yang akan pergi menyusul Arga ke Amsterdam." Kata Bu Siti khawatir.
"Ibu tidak perlu khawatir, mungkin ada beberapa tugas atau mengenai pekerjaan disana. Ibu jangan berpikir yang negatif. Setiap orang pasti ada ujian untuk lebih bersabar dan ikhlas. Ibu ingat tidak, saat ibu dan bapak akan menikah kurang 1 bulan?" Tanya pak Hasyim sambil tersenyum menghibur hati istrinya.
"Ingat pak tapi bapak mau bernostalgia. Bukan saatnya kita mengingat masa-masa pacaran." Jawab Bu Siti mengerutkan keningnya sambil menyuap makanan.
"Ibu habiskan dulu makanannya nanti kita lanjutkan ngobrol kita." Kata pak Hasyim selesai makan.
"Bapak sudah selesai makannya? Kenapa di piring bapak masih banyak." Seru Bu Siti terheran.
"Mana sih Bu, mana yang masih banyak. Ini sudah habis tanpa sisa dan piringnya bersih seperti sudah di cuci. Ha-ha-ha!" Kata pak Hasyim sambil tertawa melihat Bu Siti.
"He-he-he... Sudah, sudah pak. Ibu habiskan dulu makanannya." Kata Bu Siti mulai menghabiskan makan.
__ADS_1
"Ibu masih sama seperti dulu!" Seru pak Hasyim menggoda istrinya.
Bu Siti menghiraukan ucapan pak Hasyim karena takut tersedak. Ia tetap melanjutkan makan.
Setelah selesai makan Bu Siti meminta untuk segera kembali ke kamar Asil.
Pak Hasyim mengiyakan ajakan Bu Siti dan membayar semua makanan tadi.
Flashback off.
Ceklek...
Pak Hendra kembali ke ruang Asil, membuka pintu kamar.
"Bi, saya ingin pamit dan bersiap untuk pergi ke Amsterdam." Kata pak Hendra yang fokus dengan ponselnya tanpa melihat di depannya.
"Iya, tuan." Jawab Bi Ima menyuapi Asil.
Pak Hendra melihat Asil yang duduk dan sedang di bantu makan oleh Bi Ima menghampirinya.
"Nak Asil, sudah sehat?" Tanya pak Hendra.
"I-ya sudah." Jawab Asil pelan.
"Anda siapa?" Tanya Asil memandang wajah pak Hendra.
Sepertinya aku pernah melihat orang ini, tapi siapa dia? Gumam di hati Asil.
"Saya pak Hendra, suami Tante Jihan." Jawab pak Hendra sambil tersenyum.
**Deg...
Suami Tante Jihan**...
Asil tersentak kaget mendengar jawaban pak Hendra seketika ia mengingat Tante Jihan nya.
**Kira-kira apa yang akan terjadi dengan Asil setelah mendengar jawaban pak Hendra.
Yuk simak kelanjutannya...
Di tunggu ya**...
Jangan lupa like setiap baca perbabnya, view, kritik, dan saran readers, klik favoritnya💓💓💓 dan follow Author ya. Jangan lupa memberi vote ya...
__ADS_1
Terimakasih banyak🙏***