Cinta Yang Dulu,Datang Kembali

Cinta Yang Dulu,Datang Kembali
Eps 48


__ADS_3

Bi Ima menghubungi keluarga pak Hasyim dan pak Hendra.


Beberapa jam, Bu Ima menunggu kedatangan pak Hendra dan keluarga pak Hasyim sambil memandang ke nona Asil.


"Non, mas Arga dari tadi tidak dapat dj hubungi. Saya merasa khawatir dengan mas Arga." Gumam pelan Bu Ima setelah menghubungi pak Hendra dan pak Hasyim.


"Bu, Asil sudah siuman?" Tanya Bu Siti mendekat ke arah Bu Ima.


"Eh, bu Siti. Iya... Sudah Bu!" Jawab Bi Ima dengan gugup.


"Bi, kenapa jawabnya gugup begitu?" Tanya pak Hendra dari belakang pak Hasyim.


"Tidak, tuan. Anu... Mas Arga tidak bisa di hubungi." Jawab Bi Ima.


"Ada apa ini anak?" Tanya pak Hendra dengan kesal dan bingung.


"Saya coba hubungi sekretarisnya saja." Kata pak Hendra lalu menghubungi Rio.


"Tidak ada yang mengangkat ponselnya."


"Kenapa mereka tiba-tiba tidak bisa di hubungi?" Tanya pak Hendra pada dirinya sendiri.


"Masih belum bisa pak Hendra?" Tanya pak Hasyim khawatir.


"Iya, ini sudah berkali-kali masih belum bisa di hubungi juga. Tidak biasanya mereka berdua begini." Jawab pak Hendra dengan mengerutkan kedua alisnya.


"Lebih baik kita lihat kondisi Asil saja pak Hendra!" Ajak pak Hasyim untuk pergi melihat keadaan Asil.


Pak Hasyim dan pak Hendra masuk ke ruang Asil dan melihat keadaan Asil yang masih terbaring.


Disana sudah ada Bu Siti dan Bi Ima yang berdiri di samping Asil.


Bu Siti yang melihat kondisi putrinya yang masih terbaring merasa sangat sedih.


"Bi, kapan dokter akan datang? Saya tidak sabar melihat kondisi Asil sekarang dan kejelasan dokter." Tanya Bu Siti pada bibi Ima.

__ADS_1


"Perawat tadi bilang kalau sebentar lagi dokter akan datang. Perawat tadi juga bilang kalau nona Asil sudah sadar tapi masih belum stabil." Jawab bibi Ima dengan nada serak.


"Kalau bibi lelah istirahat saja, biar saya yang menunggu dokter dan pak Hasyim, Bu Siti." Kata pak Hendra pada bibi Ima.


"Sudah tanggung jawab saya atas perintah mas Arga, Tuan." Jawab Bi Ima.


"Bi Ima, nggak apa-apa bi Ima istirahat saja. Disini sudah ada kita bertiga, jadi gantian menjaga Asil!" Ucap Bu Siti menyuruh Bu Ima istirahat karena kasian.


Memang selama Asil terbaring di rumah sakit dan di tinggal Arga, bi Ima tidak pernah beristirahat penuh. Lelah dan capek memang pasti, namun bi Ima selalu mengelak dengan lembut karena ini sudah tanggung jawab yang di berikan Arga pada bibi Ima. Saya sebagai ibunya Asil saja hanya bisa menemani dan menjaga bersama dengan bi Ima hanya sebentar. Semoga bibi Ima ini di berikan kesehatan lebih pada Allah. Gumam dalam hati bu Siti tak kuasa melihat betapa besarnya tanggung jawab dan kasih sayang pada perintah Arga.


Selang beberapa waktu, dokter tiba bersama perawat dan langsung mengecek kondisi Asil.


"Permisi, minta waktu sebentar untuk melihat kondisi pasien!" Kata dokter tersebut dengan perawat menyuruh keluarga Asil untuk keluar sebentar. Lalu mereka keluar sambil menunggu di luar ruang.


"Sudah kamu cek semua?" Tanya dokter pada perawat itu sambil mengecek kondisi tubuh Asil.


"Sudah, dok." Jawab perawat itu.


Lalu dokter dan perawat keluar dan memanggil salah satu keluarga Asil untuk di berikan kejelasan. Bu Siti yang ikut ke ruang dokter dengan rasa khawatir serta penasaran langsung duduk dan menanyakan kondisi anaknya.


"Sudah sadar dan sudah melewati fase kritis. Di saran kan untuk tidak bertanya kecuali pasien yang bertanya. Dan keluarga hanya menjawab seperlunya saja karena setelah pasien terbangun nanti akan hilang ingatan sementara. Jadi ibu dan keluarga mengembalikan ingatannya secara perlahan saja. Jangan di paksa nanti pasien akan mengalami penurunan dalam fase penyembuhan." Jelas dokter tersebut.


"Iya, dok. Terimakasih banyak dan sarannya. Saya permisi dulu!" Jawab Bu Siti dengan senang.


Bu Siti keluar dari ruang dokter merasa senang akhirnya putrinya yang kurang lebih koma selama 5 bulan sudah terbangun.


Setelah sampai di kamar Asil, Bu Siti segera berbicara pada pak Hendra, pak Hasyim dan bibi Ima tentang penjelasan dokter.


"Kita sebagai orang tua juga harus sabar. Dan yang lebih penting keadaan Asil dalam fase penyembuhan ini saja." Ucap pak Hendra sambil tersenyum lega dan senang.


"Saya bersyukur Asil bisa kembali dan sudah melewati masa kritisnya. Saya takut terjadi apa-apa sama Asil, Pak." Kata Bu Siti sambil megang tangan Asil.


"Oh ya, sebentar saya coba hubungi Arga dulu. Kenapa dari tadi tidak bisa di hubungi sama sekali." Kata pak Hendra dan berlalu keluar dari kamar Asil.


"iya, pak Hendra!" Jawab Bu Siti dan pak Hasyim secara bersamaan.

__ADS_1


"Pak!" Seru Bu Siti sambil melihat ke arah Asil.


"Iya, Bu. Ada apa?" Tanya pak Hasyim mendekat pada Bu Siti.


"Asil, meneteskan air matanya. Dia sudah sadar pak." Jawab Bu Siti dengan senang.


"Iya, Bu. Tapi kenapa Asil meneteskan air matanya. Apa dia sedih dan menangis Bu?" Kata pak Hasyim memegang tangan Asil.


"Maaf, Bu Siti dan pak Hasyim saya tadi juga melihat nona Asil sadar dari koma itu batuk dan meneteskan air matanya." Ucap bibi Ima dari belakang Bu Siti.


"Apa dia merasa kesakitan ya?" Tanya Bu Siti dengan panik dan sedih.


"Tenang Bu. Asil dalam fase penyembuhan pasti dia merasa ada yang sakit. Kan Asil habis siuman dan sadar dari koma." Jawab pak Hasyim menghibur istrinya.


"Apa bapak pernah mengalami koma? Bapak ini sok tahu saja. Bi Ima tolong panggilkan dokter sekarang, saya merasa sangat khawatir sekali." Kata Bu Siti menyuruh Bi Ima.


"Iya, Bu." Jawab Bi Ima yang akan pergi memanggil dokter. Namun terhentikan oleh pak Hasyim agar tidak memanggil dokter.


"Jangan panggil dokter. Tadi sudah berpesan kan pada ibu." Kata pak Hasyim sambil menoleh ke bi Ima dan Bu Siti secara bergantian.


"Bapak ini kenapa? Asil..." Kata-kata Bu Siti terhenti karena Asil memanggil nama Tante Jihan.


Seketika Bu Siti, pak Hasyim, dan Bu Ima menoleh dan mendekat ke sebelah Asil.


"Tante... Tante Jihan!" Seru Asil pelan dan lirih nadanya yang tak kuat memanggil lagi nama Tante Jihan.


Seketika Asil terdiam lalu meneteskan air mata yang mengalir deras.


"Tante..."


"Dimana?"


Hiks hiks hiks


Asil memanggil seseorang yang di sebut Tante Jihan dengan menangis sesenggukan. Ya, seperti kenyataan namun itu mimpi dan tersadar dari koma. Asil segera membelalakkan kedua matanya dengan lantang menyebut nama mamanya Arga.

__ADS_1


"Tante Jihan!" Teriak Asil yang sadar dari komanya.


__ADS_2