Cinta Yang Dulu,Datang Kembali

Cinta Yang Dulu,Datang Kembali
Eps 35


__ADS_3

Asil yang merasa heran dan juga penasaran ikut duduk di samping Arga dan menanyakan kepadanya.


" hal penting apa pak?" tanya Asil penasaran.


" Kurang satu bulan saya pergi ke Amsterdam untuk membuka toko baru di sana. Apa lebih baik di percepat saja pernikahan kita ini?" tanya Arga menatap ke Asil.


" Saya tidak masalah kalau bapak pergi ke Amsterdam. Tapi saya tetap tidak mau mempercepat pernikahan kita." jawab Asil bertekad tidak mau pernikahannya di percepat.


" Kamu mau hubungan kita seperti apa?" tanya Arga dengan tegas pada Asil.


" Maksud bapak, hubungan kita seperti apa? Kita saja belum mengenal satu sama lain. Tapi bapak sudah mau hubungan kita lebih dekat. Bapak tahu kan saya seperti apa. Sejak kecil bapak tahu kan sifat saya." jawab Asil yang sangat kesal dan marah karena mencoba menghalangi Asil yang masih ingin bekerja.


" Saya tahu semuanya tentang kamu. Apa kamu ingin bersama dengannya? Gosip kamu sudah meluas Asil." kata Arga dengan keras dan tegas.


" Dengan mas Angga. Hah. Dia itu cuma teman dan sahabat saya saja pak." jawab Asil sangat marah pada Arga.


" Ikut denganku. Jangan sampai orangtuamu tahu semua ini." ajak Arga berdiri dari duduknya dan berjalan ke dalam rumah. Dalam keadaan marah Asil pun menurut pada Arga dan tidak mau sampai orang tuanya tahu kalau mereka sedang di timpa pertengkaran.


Arga yang masuk terlebih dulu berpamitan meminta ijin pada pak Hasyim dan Bu Siti untuk mengajak Asil jalan-jalan.


Pak Hasyim dan Bu Siti memperbolehkan mereka berdua. Sedangkan Sekretaris Rio dan novi berpamitan untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.


Arga yang masuk terlebih dulu dan di ikuti Asil masuk mobil dengan wajah kesalnya. Arga melajukan mobilnya dan fokus berkendara sedangkan Asil hanya diam dengan rasa kesal dan marah dalam dirinya.


Setelah sampai di dekat sebuah jembatan penghubung antar kota, Arga memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu Arga turun dan membanting pintu mobil.


Asil tersentak kaget karena Arga.


" Maunya dia apa sih? Pernikahan yang di percepat. Kenapa egois sekali dia?" gumam Asil kesal melihat Arga yang mendekat di pagar teralis jembatan penghubung itu.


Arga mencoba menenangkan pikirannya yang kesal itu agar tidak meluap dan melakukan hal yang sama pada saat bahu Asil di cengkeram oleh Arga.


Beberapa saat kemudian Arga berjalan dan mendekat ke pintu mobil. Ia mengetuk pintu kaca mobil.

__ADS_1


Knock... Knock


Arga mengisyaratkan dengan jari tangannya agar Asil keluar dari mobil tersebut. Asil yang menoleh ke arah Arga dan mengerti maksud isyarat tersebut keluar dari mobil dan mendekat ke Arga yang berada di samping mobil.


" Bapak mau bicara apa lagi?" tanya Asil masih kesal pada Arga.


" Dengarkan dan cerna dengan baik. Berhentilah bekerja di perusahaan saya. Pindahlah di toko dekat dengan kota. Jauhi teman atau sahabat kamu yang bernama Angga. Buang jauh-jauh ucapan saya yang meminta mempercepat pernikahan kita. Jaga baik-baik nama keluarga besar saya dan orang tua kamu." Kata Arga dengan jelas pada Asil dengan menatap serius padanya karena Arga ingin melindungi Asil dan keluarganya.


" Baik. Saya akan menuruti permintaan bapak. Saya butuh alasan bapak." kata Asil menatap ke dua bola mata Arga yang indah itu.


" Pertama, saya mau kamu menjadi CEO di toko kamu sendiri.


Kedua, jagalah martabat keluarga saya dan kamu. Gosip kamu sudah tersebar kalau kamu berselingkuh di belakang saya.


Ketiga, raihlah cita-cita kamu menjadi pemilik butik yang sukses." jawab Arga memberikan alasan yang jelas pada Asil.


Tanpa menjawab satu kata pun Asil mengerti maksud dari alasan Arga. Dan tak terasa butiran air mata Asil jatuh dengan perlahan. Rasa bahagia, senang dan bangga yang bercampur aduk, mempunyai sosok calon suami yang sangat pengertian dan sayang padanya. Asil dengan segera memeluk Arga dengan sangat erat.


" Iya, Asil. Aku juga sangat berterimakasih telah memiliki calon istri seperti kamu yang cantik dan manis. Tapi.... Juga menyebalkan." kata Arga yang menggoda Asil dan tertawa bahagia. Arga juga memeluk tubuh Asil dan mengusap-usap kepala Asil.


" Menyebalkan. Siapa yang menyebalkan?" tanya Asil melepas pelukannya dari Arga dan mengusap air mata yang jatuh di pipinya.


" Ha-ha-ha. Kamu, siapa lagi?" jawab Arga lalu tersenyum melihat tingkah lucunya Asil.


" Ish. Kau ini." seru Asil mencubit perut Arga karena malu. Merah merona di pipi Asil yang terlihat oleh Arga membuatnya tertawa.


Perlahan Arga mengusap pipi Asil dan mendekatkan wajahnya sampai bibir mereka saling bersentuhan dan terjadi ciuman antara Asil dan Arga.


" Em... Mas... Lepas... " kata Asil ingin menyudahi ciumannya dan mendorong Arga.


" Ada apa?" tanya Arga yang menyudahi ciumannya.


" Ini di tempat umum. Banyak orang dan mobil lewat." jawab Asil ragu dan malu sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


" Ha-ha-ha. Iya saya tahu. Ayo kita pulang saja." kata Arga mengajak pulang.


Siang yang menjelang sore Asil dan Arga sedang perjalanan pulang ke rumah orang tua Asil.


Terdengar suara keroncongan dari dalam perut Asil.


Arga yang tidak sengaja mendengar perut Asil berbunyi karena lapar sesekali tersenyum dan fokus mengendarai mobilnya dan mencari tempat makan.


Setelah sampai di sebuah kedai makanan Arga memberhentikan mobilnya tepat di depannya. Lalu mengajak dan menyuruh Asil untuk turun dari mobil. Lalu Asil turun dari mobil.


" Ini kedai mie Ramyun kah." seru Asil yang masih ingat dengan nama kedai yang khas namun sudah banyak yang berubah.


" Hm." kata Arga berdehem dan mulai masuk ke kedai mie yang di ikuti Asil.


" Selamat datang di kedai Ramyun." sambut pelayan membuka pintu masuk kedai.


" Iya." jawab Asil dengan tersenyum, Arga hanya diam saja.


Arga dan Asil mencari duduk dekat jendela. Dan memesan menu di kedai tersebut sambil mengobrol dan menunggu makanan jadi.


***Flash Back to Sekretaris Rio.


Setelah berpamitan pulang, Rio menawarkan diri untuk mengantar Novi pulang. Karena mobil yang di kendarainya dengan Arga dan di bawa oleh bos besarnya bersama Asil. Dengan terpaksa Rio mengantar Novi dengan berjalan kaki. Memang perjalanan rumah Asil dan Novi tidak cukup jauh hanya berjarak beberapa meter saja.


Sambil mengobrol bersama, tak terasa sudah sampai depan rumah Novi.


" Terimakasih sudah mengantar saya pulang pak!" kata Novi dengan tersenyum.


" Sama-sama" jawab Sekretaris Rio sambil memegang ponselnya.


" Mampir dulu pak. Silahkan" ajak novi pada Sekretaris Rio.


" Sudah, terimakasih banyak atas ajakannya." jawab Sekretaris Rio***

__ADS_1


__ADS_2