Cinta Yang Dulu,Datang Kembali

Cinta Yang Dulu,Datang Kembali
Eps 23


__ADS_3

" Pak Arga mau kemana ?" tanya Adelya dengan bingung.


" Ke rumah Pak Hasyim." jawab Sekretaris Rio.


" oooh. Yang jawab kok bapak yang duduk di sebelah Pak Supir sih." kata Adelya melihat Sekretaris Rio.


" Dia siapa Pak Arga ?" tanya Adelya ingin tahu.


" Sekretaris saya namanya Pak Rio Efandi." jawab Arga dengan dingin.


" Seperti benalu ya jadi Sekretaris itu. Kemana-mana selalu ikut dan berada di belakangnya atau di sampingnya." seru Adelya sambil tertawa kecil.


" Iya, memang pekerjaannya seperti itu." kata Arga tersenyum dia seperti kakaknya yang banyak omong dan lucu sambil tertawa dalam hati.


Sampai di rumah orang tua Asillya,


Arga, Adelya, dan Sekretaris Rio masuk ke rumah.


" Assalamualaikum Bu, Delya pulang." kata Adelya membuka pintu.


" Wa'alaikumsalam. Loh, pulang sama siapa Del ?" tanya Bu Siti karena melihat Arga di belakang Adelya.


" Nak Arga, masuk nak. Duduklah." suruh Bu Siti pada Arga dan Sekretaris Rio.


" Ada perlu apa nak Arga kesini ?" tanya Bu Siti.


" Saya hanya mampir kesini karena dekat dengan kantor teman saya Bu." jawab Arga


" Dan maaf saya tadi tidak membawa apa-apa, hanya kue saja." tambah Arga sambil memberikan kue ke Bu Siti.


" Repot saja nak Arga, terimakasih kuenya. Kalau kesini tidak usah bawa apa-apa, anggaplah rumah sendiri." kata Bu Siti menerima kue.


Lalu Bu Siti menaruh kue di dapur dan membuatkan teh untuk Arga dan Sekretaris Rio. Setelah selesai Bu Siti ke ruang tamu dengan membawa teh dan jajan tradisional.


" Silahkan nak Arga, diminum tehnya. Ibu tadi teringat jajan kesukaan Asil jadi ibu membelinya." kata Bu Siti.


" iya Bu, Saya datang kesini juga ingin menanyakan kesehatan Asil. Apakah Asil pernah mengalami trauma atau kejadian yang dia simpan ?" tanya Arga.


Bu Siti tersentak kaget karena Arga menanyakan trauma yang dialami Asil saat kecil. Lalu Bu Siti menceritakan saat Asil kecil pernah terpeleset saat bermain dengan Arga ( kecil ) dan tercebur ke sungai yang deras.


Bu Siti pernah membawa Asil ke dokter ternyata saat tercebur ke sungai kepala Asil terbentur. " Dan kalau Asil banyak pikiran atau stres dia tidak sadarkan diri. Kata dokter Demam Psikogenik." imbuh Bu Siti.


Setelah kejadian itu Asil sering sakit kepala ( pusing ).


" Setiap mengingat mendiang mama nak Arga, Asil merasa bersalah karena belum memberikan jawaban dan terimakasih pada mama nak Arga." jelas Bu Siti.


" Kalau boleh tau apa jawaban Asil, Bu ?" tanya Arga ingin tahu.


" Ibu tidak tahu, ibu pernah bertanya namun Asil tidak memberi tahukan." Bu Siti.


Setelah berbincang-bincang Arga pamit untuk kembali ke kantor. Bu Siti membawakan jajan kesukaan Asil pada Arga.


Di perjalanan kembali ke kantor Arga mengingat cerita Bu Siti yang sama dengan masa kecil Arga.

__ADS_1


Jadi benar anak kecil yang cantik itu Asillya.


Aku pun masih mengingat pernah meminta ke mama untuk menganggap Asil sebagai adik kandung. Batin Arga dengan tersenyum juga sedih.


" Pak, antar saya ke apartemen." kata Arga.


" Baik, Pak." jawab pak supir. Lalu memutar balik arah ke apartemen.


Sekretaris Rio yang merasa bingung karena tidak pernah Arga pulang ke apartemen saat jam kerja, akhirnya bertanya pada Arga " Apakah anda cemas pada nona Asil ?"


" Sedikit, Sekretaris Rio." jawab Arga cemas.


Sampai di apartemen Arga segera masuk dan melihat Asil yang sedang duduk menonton tv romantis.


" Asil, bagaimana keadaanmu ?" tanya Arga menghampiri Asil.


" Pak Arga, jam berapa nih ?"


" Kenapa bapak pulang saat jam kerja ?" Asil.


" Jawab saja pertanyaan saya." kata Arga tegas.


" Saya sudah baik-baik saja, Pak." jawab Asil masih memakai selimut.


" Sudah baik, kenapa kamu masih memakai selimut. Hah ?" tanya Arga dengan sinis.


" Oh, ini...." Asil dengan terbata-bata segera melipat selimut dan pergi ke kamar.


Dasar anak ini. Gumam Arga mengikuti Asil ke kamar.


Jantungku berdegup kencang lagi....


Perasaan apa ini....


Oh jantung yang berdebar, berhentilah....


Ku mohon....


Gumam Asil yang terdengar oleh Arga yang sudah duduk di hadapan Asil.


" Kenapa jantungmu ?"


" Apa kamu punya sakit jantung ?" tanya Arga sambil tersenyum.


" Aaaaaarrrrgggghhh ..... " teriak Asil yang kaget.


" Bapak ngapain disini ?" tanya Asil.


" Melihat keadaanmu." jawab Arga semakin mendekat.


Asil diam membeku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Arga semakin mendekat, wajah keduanya begitu sangat dekat. Asil segera memejamkan matanya dan detak jantung mereka sama-sama tak beraturan.


" Istirahatlah." kata Arga yang berbisik di telinga Asil. Arga menjauh dan melihat wajah Asil tersenyum seakan-akan ingin tertawa senang sudah menjahili Asil.

__ADS_1


" Kenapa memejamkan mata. Hah?" tanya Arga, dalam hati Arga tersenyum girang.


Asil dengan segera membuka matanya, menatap Arga dengan malu wajahnya pun merah merona.


" Apa kamu masih sakit?" Arga tanya sekali lagi sambil menempelkan telapak tangannya ke dahi Asil.


" Saya sudah baikan." jawab Asil kesal dan menepis tangan Arga. Asil merasa kalau dirinya di goda oleh Arga.


Asil mendorong Arga agar menjauh dan beranjak pergi dari tempat duduknya.


Lalu Arga menarik tangan Asil.


" Mau kemana Asil ?" kata Arga memberhentikan langkah Asil.


Asil terdiam dan terpaku oleh tingkah Arga yang begitu perhatian padanya.


" Duduklah, saya banyak pertanyaan buatmu !!!" menyuruh Asil duduk di sebelah Arga.


" Bapak mau tanya apa ? " tanya Asil ingin tahu.


Jantungku πŸ’“ tolong berhentilah sebentar saja...


Batin Asil.


" Saat masih kecil , apa kamu pernah terjatuh ?" tanya Arga dengan tatapan tajam.


" Jawablah dengan jujur. Saya ingin tahu masa lalu kamu." imbuh Arga menyakinkan agar Asil bercerita tentang masa kecilnya.


" Per ..... Pernah Pak, tapi saya tidak mau mengingat itu." kata Asil dengan gugup.


" Baiklah, saya tidak akan menanyakan ini lagi. Tapi cobalah terbuka dengan saya tentang masa kecil kamu." kata Arga beranjak pergi.


" Pak Arga !!!!" seru Asil.


Arga menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.


" Saya ingin menceritakan masa kecil saya dan kejadian saya lalu." kata Asil lirih dengan tangan bergetar. Asil mulai meneteskan air matanya mengingat kejadian Tante Jihan.


Arga kembali duduk " Ceritakan semua, jangan di simpan." jawab Arga yang merasa iba melihat Asil.


Asil menceritakan masa kecilnya dan saat Asil menceritakan mama Arga yang meninggal akibat tusukan pisau bukan karena sakit, Arga tercengang dan sangat kaget juga marah.


Arga menahan rasa marahnya ini karena melihat Asil menangis dan tangan dinginnya yang bergetar entah perasaan takut, kecewa, atau apapun yang dirasakan Asil.


Jangan lupa vote, klik favoritβ™₯️β™₯️β™₯️β™₯️, like, komentar, populerkan agar banyak yang read yaaa.....


Love you para readers β™₯️β™₯️β™₯️β™₯οΈπŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


#ayo support author...


#salam semangat...


#para readers....

__ADS_1


#😘😘😘😘....


#.😍😍😍😍😍...


__ADS_2