Cinta Yang Dulu,Datang Kembali

Cinta Yang Dulu,Datang Kembali
Eps 53


__ADS_3

"**Tenang Ga... Tenangkan dulu pikiran dan hatimu dulu." Kata Sekretaris Rio sambil membopong Arga ke sofa dan menyuruh Arga duduk.


"Aku ambilkan air putih dulu." Tambah Rio yang pergi mengambil air minum.


Brak...


Srak...


Kertas yang berada di meja depan Arga duduk telah berhamburan jatuh ke lantai. Arga yang begitu frustasi merasa dirinya tidak berguna.


"Apa gunanya aku, yang tidak bisa menjagamu setiap hari. Pria macam apa aku ini..." Teriak Arga sambil marah.


"Arga, apa yang kamu lakukan?" Teriak Rio mendekat ke Arga memberhentikan Arga yang sedang mengamuk.


"Aku harus kembali ke sisinya. Aku harus bisa membantu mengingat semuanya." Kata Arga dengan napas tersengal-sengal.


"Arga, tidak ada gunanya kamu kembali kesana. Lebih baik kamu tenangkan dulu. Pak Hendra besok akan tiba disini. Dan aku di suruh untuk menjemputnya." Kata Rio mencegah Arga keluar ruangan.


"Untuk apa papa datang kemari, semua sudah aku handle." Jawab Arga dingin dan sedikit reda dari marahnya.


"Mungkin untuk menggantikan mu." Kata Rio sambil membereskan kertas yang berserakan.


"Aku lelah, jangan ganggu." Seru Arga sambil membuka pintu ruangan dan membanting pintu.


Blam...


Sebagai sahabat juga sekretarisnya, aku tidak merasakan lelah untuk selalu berada di sampingmu dan membantumu, Arga. Karena amarahmu yang begitu membuat semua orang menciut dan takut. Tidak ada yang berani dengan watak dingin dan kerasmu itu. Hanya wanita itu yang bisa membuatmu seperti ini.


Dan karena cinta yang tumbuh di lubuk hatimu yang paling dalam itu, kamu merasakan bagaimana cara menyayangi seseorang dan rasa melindunginya.


Kata Sekretaris Rio dalam hati dengan memandang pintu yang di banting oleh Arga.


Flashback off.


Pagi hari waktu Indonesia, Asil dan keluarga akan bersiap pulang. Kebahagian orang tua melihat kondisi putrinya sudah baik tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata. Hanya rasa syukur yang telah ada di batin kedua orang tua.


Dibantu dengan Bi Ima mengemas baju, Asil menanyakan sesuatu pada Bi Ima. Pak Hasyim dan Bu Siti keluar sebentar.


"Bi, tadi malam siapa yang menjenguk saya." Tanya Asil.


"Oh, itu teman-teman anda, nona!" Jawab Bi Ima yang selesai mengemas baju.


"Oh..." Kata Asil melanjutkan sarapan pagi.


"Nona, selesai sarapan minum obatnya ya, supaya cepat sembuh." Kata bi Ima menaruh di sebelah gelas yang berisi teh.


"Iya, Bi. Terimakasih!" Jawab Asil selesai sarapan dan meminum obatnya.

__ADS_1


Pak Hasyim datang setelah mengurus administrasi rumah sakit.


"Bi Ima, lihat Bu Siti tidak?" Tanya pak Hasyim berjalan masuk kamar.


"Tidak, Pak!" Jawab Bi Ima.


"Kemana ya ibu ini?" Gumam pak Hasyim lalu pergi mencari Bu Siti.


Saat Bu Siti berada di taman sedang bicara di telepon, Pak Hasyim melihat dari kejauhan.


"Ibu sedang bicara di telepon sama siapa?" Gumam pak Hasyim sambil berjalan menghampiri Bu Siti.


"Bu, teleponan sama siapa?" Tanya pak Hasyim pelan berbisik di telinga Bu Siti


"Eh, bapak. Sama Adel!" Jawab Bu Siti menutup ponselnya dengan tangan Bu Siti.


"Oh... Ayo kita pulang sekarang." Ajak pak Hasyim.


Bu Siti mengakhiri panggilan dengan Adelya dan masuk bersama pak Hasyim. Sampai depan kamar Asil, Bi Ima dan Asil menunggu sambil berbincang.


"Sudah selesai semua bi?" Tanya pak Hasyim sambil masuk.


"Sudah siap semua pak." Jawab Bi Ima menoleh ke arah asal suara.


"Ayo, bapak dan ibu sudah tidak sabar pulang bersama Asil dan juga Adel sudah menunggu di rumah." Kata pak Hasyim mengambil tas yang berisi baju Asil dan lainnya.


Asil hanya mengangguk menurut.


Dalam perjalanan, Asil nampak tersenyum melihat dunia yang sejuk dan indah. Di setiap gedung yang menjulang tinggi terdapat pohon yang di tanam di depan dan di samping yang membuat orang melihatnya begitu apik.


Memasuki latar perumahan yang begitu banyak pohon, tumbuhan dan bunga seperti taman, Asil sedikit mengingat dimana dia sedang berjalan bersama salah satu wanita.


Aku sedikit mengingatnya...


Tapi siapa wanita itu...


Terlihat tak asing, dan wajahnya buram tak jelas.


Gumam di hati Asil.


Sampai depan rumah, Bu Siti turun memanggil Asil.


"Asil... Asillya!" Panggil Bu Siti dan memegang bahu Asil.


"I-iya..." Jawab Asil membuyarkan lamunannya.


"Sudah sampai rumah nak. Ayo turun!" Kata Bu Siti mengajak Asil.

__ADS_1


"Iya..." Kata Asil lalu turun dari mobil.


Asil masuk digandeng tangan oleh Bu Siti. Dengan membuka pintu rumah Asil di sambut oleh Dea dan Novi serta Adel.


"Selamat datang Asil!" Seru Dea dan Novi.


"Selamat datang kakak!" Kata Adel berlari dan merangkul Asil dengan erat.


"Kakak... Aku sangat rindu denganmu... Hiks... Hiks..." Kata Adel perlahan meneteskan air mata.


"Aku selalu menunggumu... Disaat aku menjenguk mu, kakak masih terbaring tak berdaya di sana... Huaaa..." Tambah Adel dengan Isak tangis yang tidak bisa di bendung.


Mereka semua yang ada disana ikut terharu dengan kata-kata Adel. Mereka juga ikut 😭 menangis di saat teringat Asil yang masih terbaring koma.


"Kakak... Jangan pernah... Tinggalin kita... Semua ya... Aku... Tidak... Bisa... Apapun... Tanpa kakak..." Kata Adel dengan menangis tersedu-sedu dan terbata-bata.


"I-iya... Tapi kamu siapa?" Tanya Asil sambil melepas rangkulan Adel.


"Apa?" Teriak Adel kaget membelalak dan memberhentikan tangisannya tadi.


"Apa yang kakak katakan?"


"Kakak melupakan adik secantik ini dan se imut sepertiku." Tanya Adel dengan kencang.


"Ehm... Iya... Aku benar-benar tidak ingat semua." Jawab Asil dengan bingung.


"Adel..." Panggil Bu Siti.


"Iya Bu. Aku tahu apa yang ibu katakan." Jawab Adel sambil menengok ke Bu Siti.


"Baiklah. Tidak apa-apa. Aku akan membantu mengingatnya semua." Seru Adel kembali ke wajah Asil dan tersenyum.


"Sekarang kita rayakan kedatangan kakakku ini!"


"Ayo, kakak kita makan cake yang aku buat sendiri." Seru Adel merangkul Asil dan mengajak makan cake coklat.


"Asil... Kamu mau makan apa?" Tanya Dea sambil duduk di samping Asil.


"Aku sudah selesai makan, tadi." Jawab Asil tersenyum.


Bu Siti masuk kamar Asil membawa tas dan lainnya, menaruh semuanya yang di bantu pak Hasyim.


"Pak, Bu Ima kemana?" Tanya Bu Siti duduk di tepi ranjang kamar Asil.


"Bi Ima tadi pamit pulang ke rumah utama nak Arga, Bu. Kenapa?" Jawab pak Hasyim.


"Tidak apa-apa. Kita sudah banyak merepotkan keluarga besar pak Hendra. Ibu tidak bisa membalas apa-apa." Kata Bu Siti sambil menghembuskan napas pelan.

__ADS_1


"Iya, Bu. Bapak juga berpikir seperti itu?" Kata pak Hasyim sambil duduk di samping Bu Siti.


__ADS_2