Cinta Yang Dulu,Datang Kembali

Cinta Yang Dulu,Datang Kembali
Eps 54


__ADS_3

"Sudahlah Bu, nanti pak hendra mengadakan ulang tahunnya yang ke 59 setelah pulang dari Belanda kita berikan kado saja." Tambah pak Hasyim menenangkan Bu siti.


"Kapan itu pak, ibu setuju!" Kata Bu Siti sambil tersenyum.


"Masih lama 1 bulan lagi." Jawab pak Hasyim.


"Kita keluar dan berkumpul dengan anak-anak bu!" Ajak pak Hasyim.


"Iya pak, ibu sudah kangen dan mau berbincang bersama." Seru Bu Siti sambil berjalan keluar kamar.


Di saat itu Adel yang nampak serius menanyakan sesuatu pada Asil, pak Hasyim dan Bu Siti ikut bergabung dan duduk di sofa ruang tamu.


"Kak, Adel boleh bertanya nggak?" Tanya Adel antusias.


"Kamu mau tanya apa Del, jangan aneh-aneh." Kata Novi sambil memandang Adel.


"Ish... Mbak Novi ini aneh deh, adeknya sendiri mau tanya malah jangan tanya aneh-aneh."


"Aku penasaran saja, saat mbak Asil koma apa bertemu atau memimpikan sesuatu?" Kata Adel penasaran.


"Ehm... Iya, mimpi tapi sudah lupa." Jawab Asil dengan pelan.


Aku ini lupa dengan kalian semua, masak aku harus cerita dengan jujur pada orang-orang disini.


Aku saja belum pulih dengan ingatanku.


Lebih baik tidak dulu sajalah.


Gumam di hati Asil sambil memandang mereka.


"Hei... Apa kalian lupa kalau Asil ini masih hilang ingatan." Bisik Dea ke telinga Adel.


"Aku tahu mbak, tapi aku juga penasaran." Jawab Adel dengan membalas membisikkan di telinga Dea.


"Sudah, sudah. Tidak perlu bisik-bisik gitu. Lebih baik kita makan masakan 3 wanita ini." Kata Bu Siti beranjak berdiri dan ke dapur.


"Iya, bapak juga ingin tahu rasanya seperti apa." Seru pak Hasyim.


Adel, Dea, dan Novi beradu pandang dengan sinis dan ambisi dalam makanan yang super enak.


Pasti masakan aku yang paling enak.


Aku memasak ajaran dari ibu ku.


Gumam di hati Adel sambil tersenyum miring.


Anak kecil banyak tingkah juga ini, pakai senyum-senyum mengejek ku.


Pasti makanan yang ku masak lebih enak dan sedap.


Gumam Dea sambil menatap lebih tajam.


Kalian berdua pasti kalah, makanan buatan ku lebih endless, lebih mantap, lebih mantul, lebih perfecto. Ha-ha-ha...


Gumam Novi sambil tersenyum lebar.


"Kalian tidak makan?" Tanya Asil yang sudah berdiri di depan mereka bertiga sambil menatap.


"Eh... I-ya. Kita makan!" Sahut Dea dan Novi bersamaan dan membuyarkan saling pandang tadi.

__ADS_1


"Aku duluan..." Seru Adel sambil berlari ke tempat makan yang dekat dapur.


"Anak berulah...." Seru Dea mengikuti Adel ke belakang.


"Asil, bareng sama aku ya. Hiraukan saja mereka berdua itu." Kata Novi sambil merangkul lengan Asil.


"I-iya. Tapi... ini dilepas dulu." Kata Asil mencoba melepas rangkulan tangan Novi.


"Eh... Sakit ya... Maaf ya..." Kata Novi sambil melepas rangkulannya dan mengelus lengan Asil.


"Iya, tidak apa-apa!" Jawab Asil.


Saat Asil dan Novi akan duduk Adel dan Dea berebut tempat duduk seperti anak kecil.


"Kalian ini seperti anak kecil saja." Kata Bu Siti sambil tersenyum.


"Adel, ambil bangku di sebelah sana. Jangan berebut terus, segera makan. Kasihan yang lain sudah menunggu." Tambah Bu Siti menyuruh Adel.


"Baik, bu!" Jawab Adel sambil cemberut dan mengambil bangku.


"Ayo, Asil duduklah!" Suruh Bu Siti.


"Iya..." Jawab Asil sambil duduk.


Suasana meja makan yang ramai itu membuat kepala Asil pusing dan telinga yang berdenging.


Nging... Nging... Nging...


Aku kenapa seperti ini?


Telingaku berdenging keras sekali...


Aku juga sedikit mengingat kejadian ini, tapi kapan...


Batin Asil sambil menatap wajah Adel dan sesekali berkedip-kedip.


Adel yang duduk di sebelah Asil, melihat wajah Asil yang berubah menjadi pucat pasi.


"Mbak... Mbak Asil... Mbak Asil gak apa-apa?" Tanya Adel yang khawatir.


"Oh... Tidak... Aku tidak apa-apa!" Jawab Asil yang mulai menyuap makanan di sendoknya.


"Kamu beneran gak apa-apa, sil?" Tanya Dea sambil menatap risau.


"Tidak, hanya saja sedikit pusing." Jawab Asil melanjutkan makan.


Aku merasa capek dan mual, lebih baik aku selesaikan makannya lalu minum obat dan setelah itu istirahat.


Gumam batin Asil.


"Setelah makan segera istirahat agar cepat pulih nak." Kata pak Hasyim.


"Iya, pak!" Jawab Asil pelan.


Acara sederhana penyambutan Asil yang pulang dari rumah sakit dan makan bersama pun selesai. Asil di bantu berjalan oleh Bu Siti ke kamarnya, sampai kamar Asil segera beristirahat. Bu Siti yang tahu keadaan Asil hanya bisa bersabar atas kesembuhan Asil.


Ibu berdoa semoga kamu cepat sembuh dari hilang ingatanmu, karena kurang sebentar lagi acara pernikahanmu akan tiba. Ibu khawatir tentang ini...


Batin Bu Siti menutup pintu kamar Asil dengan pelan sambil mengusap air mata di pipinya.

__ADS_1


Dea dan Novi yang sudah lama di rumah orang tua Asil, berpamitan untuk pulang.


Semua orang di rumah pak Hasyim beristirahat.


Menjelang malam Asil terbangun dan duduk di ranjangnya. Ia melihat sebuah ponsel yang berada di atas nakas sebelah lampu tidur.


"Ini milik siapa?" Kata Asil pelan mengambil ponsel itu.


Ia mulai mengaktifkan ponsel itu, melihat banyak pesan dan panggilan tak terjawab. Asil mulai antusias membuka pesan dan panggilan itu.


04343567××××× ( Mas Arga )


Asil, aku selalu berdoa untuk kesembuhan mu.


Setiap aku pulang ke tanah air, aku menjenguk mu dan berharap kamu segera sadar dari koma.


Melihat mu yang terbaring disana, aku merasa tak punya hati untuk melihat kondisi mu seperti itu. Seandainya aku bisa menggantikan tubuhmu yang terbaring disana, aku sangat bersedia. Lebih baik aku yang merasakan sakit itu daripada kamu yang merasakan.


Aku sangat meminta maaf kepadamu, tidak bisa menjagamu sampai tersadar.


Namun setelah kamu membaca ini semua ,aku berharap kamu sudah tersadar dari koma dan mohon untuk segera hubungi aku.


Aku rindu kamu...


Aku kangen senyuman mu...


Aku ingin memelukmu...


My lovely Asillya 😢💕💌


Siapa ini "Mas Arga" sepertinya tidak asing dengan nama ini.


Aku pernah mendengarnya dari mulut Tante Jihan.


Siapa dia?


Dan kenapa pesan ini seperti aku berpacaran dengannya.


Membuat ku mulai pusing lagi.


Gumam Asil lalu melanjutkan melihat foto di galery.


Ia melihat disana ada beberapa foto dirinya bersama seseorang laki-laki (Arga) namun Asil merasa bingung.


Dimana foto ini diambil...


**Dan kenapa aku bisa bersamanya...


Siapa dia?


Uh...


Kepalaku pusing lagi dan telinga ku berdenging**.


Kata Asil pelan dan menaruh ponselnya.


Ah...


Sakit sekali...

__ADS_1


Kata Asil sambil memegang kepalanya.


Asil sekilas teringat dengan wajah yang samar seperti di foto galery pada ponselnya.


__ADS_2