Cinta Yang Dulu,Datang Kembali

Cinta Yang Dulu,Datang Kembali
Eps 58


__ADS_3

"Itu tadi suara mas Arga sedikit serak. Tanda anda sedang menangis." Seru Asil polos.


"Mungkin salah dengar kamunya." Jelas Arga tersenyum.


"Kita zoom ya, aku mau bicara sama pak Hasyim dan Bu Siti biar kamu percaya kalau aku tunanganmu." Kata Arga menyuruh merubah panggilan.


"Bentar, bentar. Saya tidak mau mas karena saya masih ragu dengan mas Arga." Bantah Asil kelabakan.


Duuuhhh....


Kenapa ini orang main to the poin sih.


Ragu sih... Iya.


Tapi juga nggak gini kan.


Batin Asil.


"Kenapa?" Tanya Arga.


"Masih ragu kamunya?" Tambah Arga pada Asil.


Dengan terpaksa Asil mengiyakan dan bergegas untuk memberitahu pak Hasyim dan Bu Siti.


Tanpa sadar televisi di ruang tengah sudah beralih ke zoom dengan Arga.


"Loh... Bapak sama ibu kok sudah disini?" Tanya Asil kebingungan.


"Tadi bapak sudah di beritahu sama nak Arga tadi siang untuk berkomunikasi lewat zoom di televisi." Jawab pak Hasyim dengan santai yang duduk di sofa keluarga.


Asil menengok ke belakang, melihat televisi sudah berubah menjadi zoom bersama Arga.


Asil merasa ada yang aneh karena tv di rumahnya tidak bisa di sambungkan ke ponsel.


Tanpa bertanya Asil duduk dengan kebingungan. Lebih baik menurut dari pada tidak, itu anggapan batin Asil.


"Sudah, lanjutkan saja." Kata Asil sambil merengut.


Tanpa basa-basi Arga menjelaskan untuk segera pulang ke dalam negeri. Dia menyuruh Asil untuk memulai bisnis yang Asil impikan selama ini. Arga juga memindahkan Novi dan Dea ke toko yang Arga renovasi untuk Asil.


Dengan antusiasnya, Arga mencoba kembali memulai pendekatan dengan Asil untuk mengingat semua memory bersamanya walaupun hanya sebentar.


Asil hanya bisa mengangguk "Iya" dan menanyakan pada pak Hasyim yang disana juga ada Bu Siti dan Adel.


"Apa benar mas Arga ini tunangan Asil, Pak?" Tanya Asil pelan sambil menghadap ke arah pak Hasyim.

__ADS_1


"Iya, nak. Bapak sama ibu tidak berbohong. Tidak ada gunanya kalau bapak dan ibu berbohong. Akan membawa kesalahan besar dalam berbohong." Jawab Asil meyakinkan.


"Percaya sama bapak dan ibu, nak." Seru Bu Siti juga meyakinkan.


Asil tanpa ragu dan mencoba percaya pada kedua orangtuanya. Dia mengangguk pelan dan zoom bersama Arga berakhir.


Disaat itulah keraguan Asil yang mencoba percaya dan menghadapi kehidupan dengan baik.


Tiba saatnya Asil memasuki awal pertama masuk kerja di sebuah butik anak dan ibu yang di pimpin oleh Asil sendiri. Dengan karyawan temannya sendiri dan disambut oleh mereka semua.


Asil masuk ke dalam butik seketika terdiam dan kaget mendapat kejutan dari teman dan bersama karyawan lain. Tanpa sadar Asil tersenyum bahagia dan menitikkan air mata bahagia. Akhirnya apa yang di impikan Asil selama ini sudah tercapai.


"Selamat datang Bu direktur!" Seru mereka bersamaan.


"Waaah... Terimakasih kasih banyak. Minta bantuan dan kerja sama semuanya." Ucap Asil sembari tersenyum.


"Iya Bu direktur." Jawab mereka semua.


"Selamat pagi Bu, mari saya antar ke ruangan anda dan melihat lokasi sekelilingnya." Kata seorang laki-laki muda yang berpakaian jas rapi.


"Oh... Selamat pagi juga. Baik." Jawab Asil dan mengikuti laki-laki itu.


Sampai depan pintu direktur, Asil berdebar kencang, "Semoga hari ini lebih baik!" Gumam di batin Asil sambil menghembuskan nafasnya.


Ceklek....


Asil melangkahkan kakinya masuk ke ruang kerja miliknya. Dengan menengok perlahan secara bergantian, Asil tersipu dengan kecantikan ruang direktur miliknya.


"Kenapa sangat berlebihan sekali?" Gumam Asil pelan.


"Silahkan lihat ke arah sini Bu Asil." Kata laki-laki itu mengarah ke sebuah layar yang sudah ada seorang Arga disana.


Dengan sigap Asil menoleh ke arah layar besar yang terhubung ke sebuah layar milik Arga di seberang.


"Oh my God..." Asil tersentak kaget memegang dadanya sambil melotot.


"Hm..."


"Apa kamu melihat hantu?" Tanya Arga dengan dingin yang sebenarnya ingin tertawa.


"Ti-tidak. Mana ada hantu di pagi hari." Jawab Asil dengan sebal.


"Kenapa terkejut?" Tanya Arga lagi dengan sinis.


"Aku tidak terkejut hanya kaget saja." Jawab Asil dengan sinis.

__ADS_1


Tawa kecil Arga membuat Asil bertingkah aneh, "Kenapa tertawa? Memang ada yang lucu." Gumam Asil.


"Sudahlah, jangan tertawa lagi. Ada apa menghubungiku pagi-pagi?" Tanya Asil kembali bersikap dingin.


"Perkenalkan dirimu sekretaris!" Suruh Arga pada laki-laki yang berdiri di samping Asil.


"Baik, Pak direktur." Jawab laki-laki itu.


Seorang laki-laki muda itu memperkenalkan dirinya pada Asil. Dia bernama Ariesta Jamaludin, bekerja sebagai sekretaris pribadi Asil dan juga sebagai bodyguard Asil untuk melindungi Asil.


Seketika Asil tertawa dengan nama belakang sekretarisnya itu.


Ha... Ha... Ha...


"Asil!" Panggil Arga dengan dingin.


"Maaf-maaf... Aku minta maaf karena tidak sopan pada anda sekretaris Ariesta Jamaludin." Seru Asil meminta maaf.


"Tidak apa-apa Bu direktur. Semua orang akan tertawa mendengar nama belakang saya." Jawab sekretaris itu sambil tersenyum.


"Benarkah... Bukan maksudku menghina namamu, nama belakang kamu seperti nama temanku yang humoris. Aku teringat humorisnya itu." Jelas Asil pada sekretarisnya.


"Tidak apa-apa Bu direktur." Jawab sekretaris Aris sambil tersenyum.


Hm... Hm...


Terdengar suara deheman Asil dan sekretarisnya segera menoleh kembali pada layar tv.


"Sudah selesai debatnya?" Seru Arga yang tidak suka keakraban mereka sambil menengok jam tangannya.


"Sudah, pak." Jawab sekretaris Aris.


"Apa anda tidak sibuk?" Tanya Asil antusias.


"Kenapa?" Tanya balik Arga sambil tersenyum.


"Kalau anda sibuk, akan saya putus panggilan ini." Jawab Asil sambil tersenyum sinis.


"Apa kamu seberani itu dengan saya?" Tanya Arga semakin tidak ingin mengakhiri panggilan melalui layar tv.


"Ha..." Asil menghembuskan nafasnya secara kasar.


Asil menjelaskan bahwa hari ini hari pertama ia memulai sebagai direktur dan tidak ada waktu luang untuk santai. Arga dengan tegas mengelak penjelasan Asil. Arga dengan antusias menawarkan diri untuk membantu Asil. Namun Asil juga membalas bantahan Arga karena Asil ingin mencoba sendiri. Di batin Arga merasa sedikit kesal karena Asil menolak bantuannya. Di sisi lain Arga berpikir bahwa Asil ingin mandiri. Lalu Arga mengakhiri panggilan itu.


**Satu Minggu yang lalu, sebelum Asil masuk kerja dan memimpin sebuah butik anak dan ibu, Asil sepakat dan menandatangi berkas yang dikirim Arga. Sebuah berkas penyetujuan untuk menjadi direktur sebuah butik besar yang khusus di berikan oleh Arga pada Asil.

__ADS_1


Asil yang sedari tidak mau, namun mau bagaimana lagi kalau itu yang harus di lakukan oleh Asil**.


__ADS_2