
"Mari Pak Hendra, kita mulai acara lamaran nya." kata Pak Hasyim mempersilahkan Pak Hendra.
Acara lamaran pun di mulai dengan lancar hari itu dan Arga memakaikan cincin ke jari manisnya, namun wajah mereka berdua menandakan ketidaksukaan dan tidak senang.
Keluarga Pak Hasyim, Pak Hendra, dan para tamu penting yang di undang bertepuk tangan dan memberikan selamat.
"Nak Arga dan Asil bapak mau bicara dengan kalian." Ajak Pak Hasyim seraya berjalan ke taman belakang.
Arga dan Asil mengiyakan serta menyusul Pak Hasyim ke taman belakang yang di sana sudah ada Bu Siti, Pak Hendra dan Sekretaris Rio yang sudah menunggu.
"Bapak langsung saja. Bapak menitipkan Asilya pada Nak Arga. Jagalah dia dengan baik dan kasih sayang walaupun Nak Arga masih belum ada rasa cinta pada putri saya. Pesan bapak itu saja." tuturnya dan Bu Siti juga menitipkan pesan yang sama pada Arga Diksa.
"Baik, Pak. Saya akan menjaganya dan memberikan kasih sayang saya pada dia. Amanat Pak Hasyim akan saya lakukan." balas Arga dengan rasa hormat dan sopan.
"Arga, papa juga sangat bahagia melihatmu bertunangan dengan Asillya. Mungkin di sana mamamu juga bahagia melihatmu karena papa dan kamu sudah melaksanakan pesan terakhir mamamu." sambung Pak Hendra tersenyum mekar di wajahnya seraya menepuk bahu Arga.
Arga hanya menundukkan kepalanya dan tersenyum terpaksa, "Asillya... Ibu mau bertanya sama kamu. Apa jadi ingin ngekos dan sudah mencari kos paling dekat dengan kantor?" Tanya Bu Siti.
"Belum Bu, Asil masih mencari tahu." Jawab Asil.
"Asil mau ngekos, kenapa Nak?" Tanya Pak Hendra.
"Karena jauh, Pak." Singkat Asil.
"Saya punya apartemen yang jarang saya tempati, dekat dengan kantor Asil. Apa Asil mau tinggal disana?" Tanya Pak Hendra.
"Terimakasih, Pak. Saya ngekos saja." Jawab Asil.
"Papa sudah menganggap Nak Asil sebagai putri saya. Besok pagi tinggallah di apartemen papa biar di bantu sama Arga." Kata Pak Hendra sambil tersenyum.
"Baik, Pak." Jawab Asil dengan sungkan.
Menolak pun juga tidak enak. Batin Asil.
"Panggil papa saja Asil." Tambah Pak Hendra.
"I... Iya Pa." Asil.
Belum jadi istriku sudah mau dekat sama aku. Cari perhatian apa nih anak cari kos-kosan segala, sekarang malah mau tinggal di apartemen papa sebelahan lagi
bikin aku tambah pusing saja. Batin Arga sambil melirik Asil.
Setelah berbincang-bincang Pak Hendra dan Arga pamit dari acara lamaran karena sudah sore menjelang malam. Dan para tamu sudah banyak yang pulang.
Pak Hasyim dan Bu Siti beristirahat di ruang keluarga bersama Asil dan Adel.
"Bentar lagi Adel kesepian gak ada temennya." Kata Adel sambil bersandar di bahu Asil.
"Ngomong apa sih dek, kamu gak sendirian juga kali masih ada bapak dan ibu." Jawab Asil mengelus rambut lurusnya Adel.
"Iya sih kak tapi bentar lagi terasa ada yang kurang." Kata Adel sambil memeluk Asil.
__ADS_1
Lalu Asil dan Adel bergurau Pak Hasyim dan Bu Siti yang sedari tadi melihat Asil dan Adel hanya tersenyum bahagia.
"Putri-putri bapak sudah besar semua, yang satu akan segera menikah." Kata Pak Hasyim yang membuyarkan Asil dan Adel yang sedang bergurau.
"Iya, Pak. Ibu ingin segera punya cucu." Kata Bu Siti tak terasa air matanya menetes haru dan bahagia.
"Ah!!! Ibu sama bapak bikin suasana nya jadi sedih deh." Asil sambil memeluk Pak Hasyim dan Bu Siti di ikuti Adel juga memeluk mereka.
(Jadi ingat teletubis ya saat berpelukan bersama orang empat ini).
Ibu teringat waktu kalian masih kecil yang penuh dengan manja yang merengek ketika ingin ice cream ketika sedang bertengkar merebutkan mainan ketika tertawa lucu menangis ketika terjatuh .
Hal-hal kecil yang ibu selalu ingat menjadikan ibu tidak ingin melepasmu (Asil) namun semua ini akan tergantikan dengan kebahagian lain.
Gumam batin Bu Siti masih meneteskan air matanya.
"Ayo tidur semua sudah malam besok Adel sekolah Asil jangan lupa persiapkan besok untuk pindah ke apartemen Pak Hendra." Kata Bu Siti menepuk pelan bahu Asil dan Adel.
Di kamar Asil yang sedang mendekap guling.
Esok hari dimana aku harus belajar lebih mandiri dan lebih dewasa. Saat kecil ibu selalu menjaga dan merawatku sampai sedewasa ini.
Terimakasih Bu, yang telah merawatku dengan kasih sayangmu.
Mungkin Asil masih belum bisa membalas jasamu dan kasih sayang mu.
Asil meneteskan air matanya dengan deras sampai tertidur.
Pagi yang begitu cerah Asil terbangun dengan mata sembabnya segera ke kamar mandi.
"Ah!!! Mataku jadi sembab gini." Kata Asil yang mencuci mukanya.
Setelah selesai mandi Asil mempersiapkan baju dan keperluannya untuk pindah ke apartemen.
"Asil, Sekretaris Rio sudah datang keluarlah." Kata Bu Siti mengetuk pintu.
"Iya, Bu. Asil segera keluar." Jawab Asil yang sedang melihat foto keluarga dan memasukkan ke dalam koper.
Asil keluar dengan membawa koper.
"Nona Asil, saya kesini untuk menjemput anda." Kata Sekretaris Rio.
"Iya, Pak Rio. Saya berpamitan dulu dengan bapak, ibu." Jawab Asil.
"Iya. Silahkan!" Sekretaris Rio.
Lalu Asil berpamitan pada Pak Hasyim dan Bu Siti.
"Hati-hati Nak, jagalah dirimu dan patuhilah calon suamimu karena sebentar lagi Nak Arga menjadi suamimu yang akan menjagamu." Kata Pak Hasyim.
"Iya, ingatlah pesan dari bapak dan pesan dari mendiang mamanya Arga yang sudah menganggap kamu seperti putrinya sendiri." Tambah Bu Siti sambil memeluk Asil.
__ADS_1
"Iya, Bu. Adel kemana kok gak kelihatan." Tanya Asil.
"Adel sudah berangkat sekolah karena hari ini ujian terakhir jadi nggak sempat menemui kamu." Jawab Bu Siti.
"Oh, ya sudah Bu." Jawab Asil lalu keluar dari rumah dan masuk ke mobil yang sudah di tunggu oleh Sekretaris Rio.
Pak Hasyim dan Bu Siti melihat ke arah mobil itu yang semakin jauh.
Pak Hasyim juga berpamitan untuk berangkat kerja.
2 jam kemudian di apartemen Pak Hendra.
Asil turun dari mobil melihat apartemen yang sangat mewah itu Asil terbelalak kagum.
"Wah!!! Apartemen ini sangat mewah sekali." Gumam Asil.
"Nona Asil, mari saya antar karena Pak Hendra dan Pak Arga sedang menunggu anda." Kata Sekretaris Rio.
"I... Iya, Pak Rio." Jawab Asil lalu mengikuti Rio.
Tiba di depan pintu apartemen Sekretaris Rio membukakan dengan finger print miliknya
pintu pun terbuka.
"Silahkan masuk, Nona." Sekretaris Rio.
"Iya, Pak." Asil masuk yang disana sudah ditunggu oleh Pak Hendra dan Arga.
"Duduklah Nak Asil, kamu akan tinggal di apartemen ini." Kata Pak Hendra.
"I... Iya, Pa." Jawab Asil sambil duduk di sebelah Arga.
"Papa sebentar lagi ada meeting biar Arga yang menemanimu Nak Asil." Pak Hendra berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Asil dan Arga diam saja tanpa mengeluarkan kata-kata atau pertanyaan dari mulut mereka.
Cepat keluarlah Raja Singa yang garang berhati dingin.
Aku tak bisa gerak kalau ada orang ini. Batin Asil yang melirik ke arah Arga.
"Kenapa kamu lihat-lihat saya?" Tanya Arga yang sedang mengecek email di ponselnya.
"Ng... Nggak ada yang lihat bapak emang siapa yang mau lihat bapak?" Tanya balik Asil ke Arga.
"Kamu!!!! " Jawab Arga menoleh ke arah Asil.
Jangan lupa vote readers tercinta tersayang.😍😍😘😘
Klik favorit ♥️♥️♥️♥️ readers dan like ya.
Author tunggu.
__ADS_1