
Setelah selesai mandi, Asil masih memakai handuk keluar dari kamar mandi. Melihat Arga yang masih duduk di kasur dengan segera Asil kembali lagi masuk ke kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi, terdengar oleh Arga.
"Kenapa kamu kembali lagi, masih belum selesai mandinya?" Tanya Arga dengan lantang dari luar kamar mandi. Ia sudah membawa kotak obat untuk melihat keadaan bahu Asil.
Nih anak hidupnya lebih banyak di kamar mandi ya. Gumam Arga.
"Cepatlah keluar. Aku ingin melihat bekas cengkeraman di bahumu." Kata Arga berseru di kamar Asil yang masih duduk di pinggir kasur.
Tuh kan selalu aja nungguin aku mandi sampai selesai. Walaupun bekas cengkeraman ini masih merah dan perih sih kena air tadi. Gumam Asil sambil melihat bekasnya di cermin.
"Sudah saya obati, Pak. Silahkan bapak pergi dulu, saya mau ganti." Teriak Asil dari kamar mandi.
"Aku hanya ingin melihat bekasnya saja. Tidak ada maksud lain, Asil. Keluarlah!" Kata Arga teriak dari kamar.
"Saya tidak suka mengulang perkataan." Imbuh Arga yang masih duduk di pinggir kasur.
"Baiklah. Tapi jangan mikir yang aneh-aneh." Kata Asil sambil membuka pintu kamar mandi dan berjalan ke Arga yang duduk di kasur.
"Hm." Jawab Arga dengan berdehem.
Lalu dengan perlahan dan gugup Asil duduk berhadapan dengan Arga. Wajah Asil memerah sangat malu karena Ia hanya memakai handuk saja. Arga yang melihat Asil memakai handuk, jantung Arga mulai berdetak lebih cepat seperti lari maraton dan wajah mereka sama-sama memerah.
"Ehem."
"Aku lihat bekas cengkeraman tanganku di bahumu." Kata Arga sambil melihat bahu Asil yang membekas merah. Lalu Arga mengambil dan mengoleskan salep ke bekas cengkeraman.
"Aku minta maaf. Setelahnya aku akan lebih lembut kepadamu." Kata Arga meminta maaf ke Asil dengan memandang wajah Asil.
Jantung Asil mulai berlari kesana sini. Detak jantung Asil mulai tidak karuan. "I-iya..." Asil menjawab dan mengangguk. Tangan Arga mulai membelai rambut dan wajah Asil. Asil sedikit gugup dan memalingkan wajahnya.
"Saya tidak akan berlebihan. Setelah sah menjadi istriku, baru aku akan melakukannya." Kata Arga tersenyum dan Asil kembali memandang kedua matanya. Perlahan Arga mencium bibir Asil dengan mesra. Asil pun mulai masuk mengikuti ciuman Arga.
Lalu Asil teringat bahwa ia masih memakai handuk saja. Dan perlahan Asil mulai mengakhiri ciuman itu. Sedikit menjauh dari wajah dan tubuh Arga dengan wajah merah merona.
"Kenapa?" Tanya Arga pada Asil menatap dan mengusap bibir Asil dengan lembut.
"Ti-tidak ada apa-apa. Saya masih memakai handuk saja. Jadi, saya mau..." Kata Asil terputus oleh Arga.
__ADS_1
"Berganti lah. Saya tunggu di meja makan, kita sarapan bersama." Suruh Arga dan berlalu keluar dari kamar Asil dan menutup pintu kamar.
"Baik." Jawab Asil dengan segera berganti pakaian.
Arga yang keluar dari kamar Asil dengan tersenyum girang serta malu yang terlihat di wajah Arga yang merah merona, memijit pelipisnya yang tidak pusing itu dengan bergumam.
Untung saja tidak kelewat batas, padahal aku sudah bilang kalau tidak akan melakukan kalau belum menjadi istriku yang sah. Hati, hasrat dan jantung seakan ingin lebih dalam kepadanya.
Apa aku percepat saja ya pernikahan ini. Tidak, Asil belum mengungkapkan perasaannya. Kalau ia tidak ada perasaan suka padaku, lebih malunya aku sebagai CEO Perusahaan Besar yang mengharapkan cinta dari pasangan.
Lebih baik aku menunggunya saja.
Sambil berjalan ke meja makan dan menghubungi Sekretaris Rio.
"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Sekretaris Rio dari seberang.
"Apa kamu sudah sampai di Perusahaan X?" Tanya Arga.
"Sudah sampai dua jam yang lalu." Jawab Sekretaris Rio.
"Baik, Pak. Selamat bersenang-senang." Kata Sekretaris Rio sambil tertawa.
"Jaga ucapanmu." Seru Arga mengakhiri panggilan bersama Sekretaris Rio.
Asil berjalan ke meja makan dan duduk sembari mengoleskan roti dan selai.
"Ehm. Saya ingin berbicara pada anda." Kata Asil menaruh roti selai.
"Katakan." Kata Arga sambil memakan roti.
"Sebenarnya saya ... Ehm." Kata Asil dengan ragu menyatakan suka pada Arga.
"Sebenarnya saya apa?" Tanya Arga selesai mengunyah roti selainya.
"Saya ... tidak bisa jauh dari bapak." Asil memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan yang sebenarnya.
"Maksudnya? Kamu ini sudah dekat dengan saya." Kata Arga sambil tersenyum miring.
__ADS_1
"Maksud saya, saya mulai suka pada bapak." Kata Asil dengan wajah merah merona dan malu. Ia yang sedari tadi mengungkapkan perasaannya dengan menatap Arga langsung menunduk malu dan menggigit bibir bawahnya.
"Benarkah itu? Kamu bilang butuh waktu lama untuk mengetahui perasaan yang sebenarnya. Kenapa cepat sekali perasaan suka mu sebenarnya?" Kata Arga dengan tersenyum.
Dalam hati Arga bernyanyi dengan riang dan bunga mulai bermekaran.
Mulai menyebalkan lagi nih si Raja Hutan, Singa yang buas. Kenapa aku juga harus mengungkap perasaan ku sih. Dasar orang gila " CRAZY BOS". Jadi gini, main tarik ulur. Lihat saja nanti kau Arga Diksananda. Gumam Asil dalam hati masih menunduk dan kesal.
"Sudah cepat sarapan. Sudah lewat jam kerja. Mau masuk kerja setelah jam makan siang, Hah." Kata Arga berdiri keluar dari apartemen Asil.
Asil melihat punggung Arga sampai tak terlihat dengan wajah bercampur aduk. Malu, kesal, dan marah Asil berteriak dengan keras mengatai Arga.
"Kamu sangat menyebalkan. Dasar bos gila." Teriak Asil dengan membanting pisau ke sembarang arah.
Di luar apartemen Arga tertawa terbahak-bahak melihat Asil yang marah karena ulahnya yang sudah menggoda Asil.
Asil keluar dari apartemennya. Di luar apartemen sudah ada Arga yang menunggu di dalam mobil.
"Asil." Panggil Arga yang berdiri di dekat mobilnya sambil tersenyum.
"Ada apa pak?" Kata Asil sambil menghembuskan napasnya yang kesal itu dan menghampiri Arga
"Naiklah. Ikutlah denganku." Suruh Arga pada Asil.
"Kemana pak? Hari ini saya banyak pekerjaan di kantor." Kata Asil yang menolak ajakan Arga.
"Menurutlah." Seru Arga masuk ke dalam mobil.
Kira-kira mau kemana Arga dan Asil?
Penasaran....
Lanjut ke Bab berikutnya.
Jangan lupa like, vote, dan klik favorit kalian para Readers tercinta๐๐๐ dan tersayang.
Dengan dukungan kalian, Author lebih semangat untuk berkarya.
__ADS_1