
Asil menurut apa yang di perintah bos besarnya. Ia segera masuk ke dalam mobil.
Dalam perjalanan Arga dan Asil hanya diam tanpa bertanya dan pembicaraan apapun.
Setelah kurang lebih 2 jam, mereka sampai di sebuah perkotaan yang ramai. Arga berhenti di sebuah toko yang masih di renovasi.
Asil bingung kenapa Arga mengajaknya ke sebuah toko di perkotaan. Ia terdiam hanya melihat ke arah toko.
" Turunlah." kata Arga menyuruh Asil dan melepas sabuk pengaman.
" Bapak mengajak kesini, ngapa ... in?" tanya Asil yang menoleh ke Arga, namun Arga sudah keluar dari mobilnya.
" Isshh. Keterlaluan sekali, belum selesai ngomong udah di luar mobil tuh orang." gumam Asil kesal lalu ia mengikuti keluar dari mobil dan berjalan di belakang Arga yang masuk ke toko tersebut.
" Kamu suka?" tanya Arga menoleh ke arah Asil sambil tersenyum.
" Kenapa bapak bertanya pada saya?"
" Apa toko ini buat saya?" tanya balik Asil heran dan bingung.
" Buat seseorang yang aku sukai. Ini hadiah sebagai tanda terimakasih." jawab Arga tersenyum melihat pertanyaan Asil yang polos itu.
Gadis ini berbeda dengan gadis yang lain. Gadis lain suka fulusnya aku bukan orangnya. Gumam batin Arga tersenyum melihat Asil.
" Oh. Terimakasih banyak ya pak." kata Asil tersenyum lebar.
" Ha ... Ha .... Peka juga ya kamu." seru Arga pada Asil.
" Siapa lagi pak kalau bukan saya yang bapak sukai. He ... He ..." jawab Asil menyenggol lengan Arga.
" Tapi bapak itu, sukanya main tarik ulur." imbuh Asil berjalan menjauh dari samping Arga.
" Kamu mau tarik ulur juga." kata Arga tersenyum dan berjalan ke arah Asil.
Arga dan Asil melihat-lihat toko tersebut dan berbincang-bincang. Ponsel Arga berbunyi dari Sekretaris Rio. Arga dengan segera mengambil ponsel di saku celananya.
" Selamat siang, pak." kata Sekretaris Rio dari seberang.
" Iya." jawab Arga pada Sekretarisnya dari ponselnya. Ia menjauh dari Asil keluar dari toko itu.
" Saya sudah kirim semua laporan hasil meeting ke email bapak. Dan..." kata Sekretaris Rio dengan ragu melanjutkan kata-katanya.
" Dan apa Sekretaris." seru Arga dengan kesal.
" Jangan memotong kata-katamu sendiri." imbuh Arga.
__ADS_1
" Hubungan Nona Asil dan CEO Deltha itu hanya sebatas teman. Ia pernah menyimpan rasa suka pada Nona Asil namun belum menyatakan perasaannya. Mereka sangat dekat dan pernah tersebar rumor mereka berpacaran." jelas Sekretaris Rio pada Arga.
" Apa sampai sekarang masih suka padanya?" tanya Arga kesal.
" Iya, pak." jawab Sekretaris Rio.
Arga terdiam membeku, tidak melanjutkan kata-katanya. Arga begitu kesal mengetahui calon istrinya masih di sukai oleh CEO Deltha.
Berani sekali kamu menyukai calon istri orang. Kamu sahabatku, teman dekatku. Menyukai calon istriku, mau disebut hubungan macam apa ini. Gumam Arga yang kesal dan melihat Asil dari kejauhan.
Arga berjalan mendekat ke Asil dan memegang tangannya dengan pelan.
" Eh. Sudah selesai?" tanya Asil pada Arga dan sesekali melihat tangan Arga yang memegang tangannya.
" Hm. Kalau sudah selesai kita pulang." jawab Arga tersenyum pada Asil. Senyuman yang di lontarkan di depan Asil karena terpaksa, yang sebenarnya hatinya begitu amat sakit.
" Iya." kata Asil dengan mengangguk. Mereka berdua berjalan menuju ke mobil dan masuk.
Asil sesekali melihat wajah Arga yang tidak seperti biasanya.
Arga dengan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal.
" Pak, pelankan mobilnya. Apa bapak ada masalah?" tanya Asil menggenggam erat kedua tangannya, ia yang sedikit ketakutan mencoba memberanikan diri untuk menyuruh memelankan mobilnya.
Arga hanya diam dan tetap fokus berkendara.
" Aaarrgghh." teriak Asil kaget.
" Kenapa mengerem mendadak?" tanya Asil melihat Arga.
" Kamu baik-baik saja?" tanya kembali Arga khawatir terjadi apa-apa pada Asil.
" Saya baik, pak. Bapak kenapa?" kata Asil.
" Lampu merah." jawab Arga mengarah ke lampu lalu lintas.
Dengan sigap Asil menoleh ke arah lampu merah itu.
" Ish. Lebih berhati-hati itu penting, pak. Kalau bapak tadi tidak mengerem apa yang akan terjadi?" seru Asil sedikit kesal pada Arga
" Kecelakaan bersama." jawab Arga dengan santai dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena lampu sudah hijau.
" Enteng sekali bapak kalau menjawab. Kalau mati bersama gimana?" kata Asil mengomeli Arga.
" Saya belum menikah loh pak. Ingatlah." imbuh Asil.
__ADS_1
" Kita percepat saja tanggal nikahnya." jawab Arga dengan tersenyum.
" Tidak bisa, saya tidak mau. Apa bapak tidak bisa menunggu sebentar saja." kata Asil karena ia masih ingin bekerja.
Kalau sudah menikah dengan orang ini pasti tidak diperbolehkan bekerja. Lebih baik aku tidak mau, mau tidak mau harus menunggu 1 tahun lagi. Batin Asil yang bergumam.
" Alasannya kenapa?" tanya Arga.
" Saya ingin bekerja dan menambah pengalaman atau wawasan. Kalau sudah menikah, saya harus berhenti bekerja kan." jawab Asil.
" Hm." jawab Arga dengan berdehem.
" Singkat sekali jawabnya." Gumam Asil yang terdengar oleh Arga. Arga mendengarnya hanya tersenyum saja.
Sampai di luar lobi apartemen Asil dan Arga turun dari mobil dan masuk ke ruang apartemen masing-masing.
Di dalam apartemen Asil menaruh tas dan ponselnya di meja ruang tamu. Asil merebahkan tubuhnya di sofa, nada dering ponsel milik Asil berbunyi. Dengan sigap Asil mengambil ponselnya dan menerima telepon dari adiknya.
" Halo, Del." kata Asil.
" Halo, Kak. Aku kangen Kakak." kata Adel dari seberang.
" Aku juga kangen Del sama kamu. Minggu besok aku pulang ke rumah. Ibu sama bapak sehat, Del?" tanya Asil yang sangat kangen dengan adik dan orang tuanya.
" Benarkah. Kalau pulang jangan lupa bawa oleh-oleh ya. Alhamdulillah bapak dan ibu sehat kok kak." jawab Adel dengan tertawa dan manja dengan kakaknya.
" Iya-iya. Aku bawain oleh-oleh dari negeri Gingseng ya. Ha-ha." kata Asil sambil tertawa.
"Ish. Kakak bisa aja deh. Sampai bertemu di hari minggu kakakku tercinta." kata Adel lalu mereka mengakhiri panggilannya.
Syukurlah semuanya sehat. Jadi ingin cepet-cepet pulang. Kata Asil pelan dan tersenyum.
Hari demi hari berlalu, hari Minggu pun telah tiba.
Asil pulang ke rumah tanpa mengabari Arga.
Sampai di depan rumah Asil tersentak kaget melihat pak Hasyim dan Bu Siti serta Adel sudah duduk di ruang tamu bersama seseorang.
Siapakah tamu itu?
Arga Diksananda atau Angga Delthayudha.
Atau teman kerja Asil. Sekretaris Rio atau Novi.
Penasaran kaaaaan....
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan klik favorit kalian para Readers tercinta๐๐๐ dan tersayang.
Dengan dukungan kalian, Author lebih semangat untuk berkarya.