Cinta Yang Dulu,Datang Kembali

Cinta Yang Dulu,Datang Kembali
Episode 69


__ADS_3

Dia menceritakan saat aku dalam keadaan koma. Menungguku sampai aku tersadar dari koma ku. Siang malam, pulang pergi selama beberapa minggu. Rasa lelah pun tak terasa baginya. Yang dia inginkan hanya kesadaran ku dan terbangun dari koma. Dia mengungkapkan semua tentang masa lalunya bertemu dengan Clarissa yang hanya sekedar teman.


"Clarissa sekarang adalah buron." Kata Arga padaku sambil menyisipkan rambut di telinga ku.


"Buron karena kesalahan apa?" Tanya ku antusias. Karena sampai saat ini aku tidak mengetahui siapa dalang di balik kecelakaan ku.


"Dia yang telah berusaha mencelakai mu. Menyuruh orang untuk menabrak mu namun kamu hanya terkena sisi motor. Yang membuat kamu terpental sampai kepala kamu terbentur keras itu karena tas kamu." Jelas Arga dengan wajah penuh kasih.


"Kamu masih mengingat sedikit kejadian itu?" Tanya Arga menyelidik.


"Hanya sedikit. Sebelum aku terjatuh." Jawab ku sambil mengangguk dan menceritakan sebelum aku terjatuh dan terpental.


"Mas Arga tahu darimana?" Imbuh ku bertanya pada Arga.


"Orang suruhan dari Angga." Jawab mas Arga mulai bersikap dingin.


"Maksudnya mas!" Ucap ku membuka mata lebar-lebar.


"Tak perlu tahu semuanya. Yang terpenting jauhilah Angga. Karena dia tidak baik bagimu." Kata mas Arga menurunkan ku dari pangkuannya.


"Asil." Panggilnya dengan hangat.


"Iya mas." Jawab ku menatap ke arah wajahnya.


"Aku berjanji akan melindungi mu dan menjagamu sampai maut memisahkan. Aku tidak mau meninggalkanmu seperti dulu di saat aku terpuruk atas permasalahan ku sendiri. Sekali lagi aku minta maaf." Ucap mas Arga meraih tanganku dan menggenggam erat. Sambil mencium keningku.


"Mas..." Jawab ku pelan terharu pada kata-katanya. Seketika hati ku bergejolak senang dan bahagia. Jantung ku berdetak lebih kencang dari sebelumnya.


Inikah yang disebut dengan pernyataan cinta. Aku tidak bisa berkata apapun. Melontarkan kata-kata saja rasanya kaku dan terpaku olehnya. Batin dalam hati ku.


Aku langsung merangkul tubuh kekar mas Arga dengan tetesan air mata.


"Terimakasih." Ucap ku padanya dengan pelan.


Arga membalas pelukan ku.


Dia melepas pelukannya dan berkata, "Aku mencintaimu." Sambil tersenyum dengan mata yang membendung air matanya.


"Aku juga." Balas jawab ku menatap wajahnya.


Dia mengusap kedua mataku yang basah karena air mata ku yang jatuh secara perlahan.

__ADS_1


Semakin mendekatkan wajahnya, dia mulai mendaratkan bibirnya dan mencium lembut bibir ku. Terasa hangat dan nyaman yang di anggap sebagai sepasang kekasih yang baru saja mengatakan cinta.


Ciuman berakhir dengan senyuman.


"Aku belum mandi dan masih memakai kemeja milik kamu." Seru ku pelan dan mengusap wajah Arga dengan pelan sambil tersenyum menggoda.


Arga yang melihat ku tak seperti biasanya langsung tertawa lebar.


"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?" Gumam ku pelan dan menarik lagi tangan ku.


"Tidak... Ternyata kamu bisa menggoda seseorang." Jawab Arga masih tertawa.


"Ish. Yang ku goda cuma kamu saja." Ucapku dengan sedikit memanyunkan bibir ku.


"Tunggu sebentar saja. Sekretaris kamu akan tiba dan membawakan beberapa baju untukmu." Ucap Arga berhenti dari tawanya dan tersenyum.


Aku menjawab "Iya." Serta mengangguk pelan.


Arga yang sedari tadi melihat kancing bagian atas terbuka, sesegera mengancingkan kembali.


"Jangan ceroboh. Hanya aku saja yang boleh melihatnya." Seru Arga dingin dan selesai mengancingkannya.


"Iya, mas." Jawab Asil pelan.


"Selamat pagi, pak Arga." Ucap sekretaris Aris yang berada di dekat pintu dan membawa kotak yang berukuran sedang.


Aku dan mas Arga tersentak melihat sekretaris Aris sudah berada disana.


"Kapan kamu tiba? Mengganggu orang yang sedang berduaan." Seru Arga dengan sedikit kesal.


"Sudah mas. Jangan marah, aku mandi dulu ya." Kata ku yang akan beranjak berdiri.


"Tunggu sebentar!" Seru Arga menarik ku agar kembali duduk lagi.


"Diam di situ!" Perintah Arga dan mengambil kotak yang di bawa Aris.


Kenapa dia begitu. Sekretaris Aris saja sampai tertawa kecil begitu.


Gumam di hatiku sambil menatap punggung Arga.


"Kamu boleh kembali. Hari ini Asilya cuti dan kamu yang mengurus semuanya." Kata Arga menjauh dari sekretaris Aris.

__ADS_1


"Baik pak." Jawab sekretaris Aris dan menunduk pamit dari Arga dan Asil.


Arga duduk di sebelah ku dan memberikan kotak itu padaku.


Aku menerima kotak itu dan membukanya.


Aku mengambilnya dan melihat sebuah lingerie yang sangat tipis dan tembus pandang. Seketika aku tersentak lagi untuk yang kedua kalinya.


Arga yang ikut melihatnya juga tersentak.


"Mas, jangan bercanda deh! Ini bukan baju, ini pakaian yang biasa di buat bulan madu atau malam pertama." Aku sedikit kesal melihat barang itu.


"Loh... Mas, nggak minta di kirimin kayak gitu." Ujarnya dengan tersentak dan heran.


"Yang benar, mas. Aku gak mau dan gak akan pakai yang kayak gituan." Seru ku membuang lingerie itu ke bawah meja.


Mas Arga yang memanggil ku meninggalkannya tak henti-hentinya mengejar ku. Aku menutup pintu kamar dengan keras. Mas Arga yang berada di ambang pintu mencoba membujuk ku.


"Asil, buka pintunya." Perintah mas Arga pada ku.


Aku menghiraukan ucapannya. Aku bukan marah dan kesal, tapi aku malu seandainya aku memakainya akan terlihat semuanya.


"Asil... Dengerin mas Arga dulu dan bukain pintunya." Suruh mas Arga membujuk dan mengetuk pintu.


"Jangan terlalu agresif begitu. Mas nggak ada niatan seperti itu." Imbuh mas Arga masih di ambang pintu luar.


"Sudah deh mas. Nanti saja aku keluar." Seru dengan menahan malu.


Aku duduk di atas ranjang dan masih membayangkan hal seperti itu.


"Baiklah. Kalau begitu." Jawab mas Arga pergi.


Lama kemudian, aku berpikir untuk keluar dari kamar, dengan mengendap-endap berjalan keluar menengok secara bergantian.


Tidak ada seseorang pun disana. Aku mencoba melihat dan mencari mas Arga.


"Kemana dia?" Gumam ku pelan.


Dari arah belakang mas Arga memanggil ku.


"Ngapain mengendap-endap seperti itu?" Tanya mas Arga dari belakang ku.

__ADS_1


Seketika aku tersentak dan membelalakkan kedua mataku dan terdiam. Aku menengok secara perlahan ke belakang.


"Ha-ha-ha... Mas Arga." Jawab ku sambil tertawa kecil lalu tersenyum kaku seperti ketahuan mencuri.


__ADS_2