Cinta Yang Dulu,Datang Kembali

Cinta Yang Dulu,Datang Kembali
Eps 45


__ADS_3

Arga menunggu di ruang tunggu dan tidak bisa tidur sampai esok pagi yang selalu memikirkan kondisi Asil. Lalu Arga pergi untuk meminta bantuan pada perawat untuk memindahkan di ruang VIP room.


Setelah beberapa setengah jam berlalu Asil di pindahkan ke ruang VIP room yang lengkap dengan semua peralatan medis dan ruang tunggu dalam yang khusus.


Asil yang masih terbaring lengkap dengan peralatan medis seketika meneteskan satu tetes air mata yang tak di sadari oleh yang lain serta Arga.


Seperti mimpi Asil merasa sedih dan bingung, apa yang terjadi padanya setelah kecelakaan itu.


"Aku dimana ini? Kenapa semua tampak berbeda dengan dunia ku?" Kata Asil yang bingung dari bawah alam sadarnya. Ia terbangun dari tidurnya yang berada di rerumputan hijau dan indah.


"Tempat yang indah, banyak bunga dan bau harum dari banyak bunga." Gumam Asil sambil menyentuh bunga itu.


Seketika bunga yang di sentuh Asil layu,


"Ah, apa yang terjadi dengan bunga ini? Apa pertanda ini?" Kata Asil yang pelan dan kaget.


"Jangan menyentuh bunga itu!" Ucap seorang perempuan yang suaranya seperti Asil kenal.


Asil langsung menoleh ke asal suara tersebut.


"Tante Jihan!" Ucap Asil pelan dan mengernyitkan ke dua ujung alisnya.


"Kamu siapa, nak? Kamu kenal dengan saya?" Tanya wanita itu sambil mendekat.


"Ini aku Asillya, Tante. Putri pak Hasyim!" Jawab Asil memegang tangan Tante Jihan.


"Asillya yang Tante anggap sebagai anak perempuan Tante sendiri."


"Benarkah itu!"


"Kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya Tante Jihan yang merasa heran karena tempat itu tempat untuk orang yang sudah meninggal.


Dan tidak bisa kembali lagi ke dunianya lagi.


"Aku tidak tahu Tante, setelah aku mengalami kecelakaan aku tidak sadarkan diri dan aku terbangun sudah berada di tempat ini." Jawab Asil yang menjelaskannya pada Tante Jihan.


Orang yang telah sampai sini itu sudah di katakan meninggal, apa Asil setelah mengalami kecelakaan....


Tante Jihan tanpa meneruskan kata dalam batinnya seketika menatap kaget pada Asil.


"Tante... Tante!" Panggil Asil sambil melambaikan tangannya di depan wajah Tante Jihan.


"Kenapa Tante menatap Asil seperti itu?" Tanya Asil.

__ADS_1


"Tidak, tidak apa-apa! Apa kamu mau berbincang sebentar dengan Tante?" Tanya Tante Jihan dan mengajak Asil duduk di dekat taman bunga yang terdapat bangku panjang yang mengkilat itu.


"Iya..." Jawab Asil sambil duduk dan berhadapan dengan Tante Jihan.


"Apa kamu benar Asil yang Tante pernah kenal?" Tanya Tante Jihan yang merasa sangat ingin tahu benar tidaknya Asil.


"Iya, Tante. Ini Asil anak pak Hasyim dan sudah Tante Jihan anggap sebagai putri Tante. Asil juga pernah terjatuh di tepi sungai yang deras saat berlibur ke sebuah pedesaan dan Tante yang menyelamatkan Asil waktu kecil." Jawab Asil menatap meyakinkan Tante Jihan.


Dia tumbuh dengan baik, dia sangat cantik, manis dan ucapannya masih tetap jujur pada semua orang. Batin Tante Jihan sambil tersenyum dan mengusap punggung tangan Asil.


"Tante masih tidak percaya denganku?" Tanya Asil.


"Tidak, Asil putriku yang cantik. Tante sudah percaya!" Jawab Tante Jihan tersenyum menatap wajah polos dan cantiknya Asil.


"Syukurlah! Tante, Asil mau cerita sesuatu pada Tante." Kata Asil merasa ada yang mengganjal di lubuk hatinya.


"Mau cerita apa?" Tanya Tante Jihan memperbolehkan Asil untuk meluapkan isi hatinya.


"Mas Arga... Apa dia sedingin itu pada semuanya? Aku sudah terlanjur menyukainya!" Kata Asil yang pelan dan menitikkan air matanya.


"Tidak, dia anak yang berhati hangat dan perhatian pada yang dia sukai." Jawab Tante Jihan.


"Apa dia sedingin itu padamu?" Tanya Tante Jihan.


"Tante merasa Arga itu menyukaimu dari dulu. Dia sangat sayang dan menginginkan kamu sebagai adiknya saat kecil, itupun kalau kalian berdua sudah tumbuh dewasa akan saling menyukai, menyayangi satu sama lain." Kata Tante Jihan.


"Akan lebih baik kalian bersama sampai maut memisahkan. Arga tidak bisa jauh darimu, itu kata Arga saat kecil dulu." Tambah Tante Jihan sambil tersenyum.


"Apa lebih baik aku menguji kesetiaannya padaku?" Tanya Asil pada Tante Jihan.


"Tanpa menguji kamu akan tahu setelah kalian berdua menikah dan bersama." Jawab Tante Jihan.


"Apa kamu tidak ingin kembali?" Tanya Tante Jihan.


"Em. Tidak dulu, sepertinya Asil masih ingin bersama dengan Tante Jihan." Jawab Asil lalu memeluk Tante Jihan.


"Baiklah, tapi kalau terlalu lama tidak akan bisa kembali lagi ke dunia asal kamu, Asil." Kata Tante Jihan mengusap rambut Asil.


"Em, aku masih ingat disini!" Kata Asil merasa kangen dengan Tante Jihan.


"Baiklah, kalau begitu." Kata Tante Jihan masih memeluk Asil.


Tak terasa Asil dan Tante Jihan tertidur di bangku tersebut. Asil yang merasa nyaman di pelukan Tante Jihan, terbangun dan berada di ruang VIP room tempat Asil terbaring disana.

__ADS_1


Dengan celingukan Asil merasa bingung dengan tubuhnya yang terbaring disana, sedangkan Arga tidur di sebelahnya sambil duduk.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Aku tadi kan tertidur di pelukan Tante Jihan dan sekarang berada di ruang ini." Kata Asil.


Lalu Asil mencoba mendekat ke arah Arga yang sedang tidur. Dia mencoba mengusap rambut Arga.


"Mas... Aku sudah terlanjur menyukaimu, apa kamu bisa membuktikan rasa suka, kasih sayangmu dan tidak dingin padaku. Aku ingin sedikit egois pada cintamu." Kata Asil sambil mengusap rambut Arga.


Arga yang merasa ada yang mengelus rambutnya, ia terbangun dan menengok ke sebelahnya.


"Aku merasa ada yang mengusap rambutku dan rasanya seperti tangan hangatnya Asil." Gumam Arga lalu menatap wajah Asil yang berharap bangun dari komanya.


"Aku berharap kamu segera bangun, Asil." Kata Arga mengecup punggung tangan Asil.


"Aku juga ingin segera terbangun dan menjalani hari-hari ku denganmu." Balas Asil pada ucapan Arga.


"Namun aku juga butuh bukti kesetiaan mu." Tambah Asil di samping Arga.


Ponsel Arga berdering dari nomor yang tidak di kenal.


"Nomor siapa ini?" Tanya Arga pada dirinya sendiri dan keluar dari ruang VIP room sambil melihat ponselnya.


"Orang yang tidak jelas!" Kata Arga dingin dan menggeser tombol merah pada ponselnya.


Lalu ponsel Arga berdering lagi dan di matikan oleh Arga sampai beberapa kali.


Pesan masuk dari nomor tersebut.


Arga, kenapa kamu tidak mengangkat telpon ku?


Aku ingin bicara penting padamu mengenai hubungan kita.


"Siapa dia? Seenaknya saja dia mengirim pesan." Gumam Arga.


***Siapa yang menelpon dan mengirim pesan pada Arga?


Nantikan kelanjutannya***....


Jangan lupa like setiap baca perbabnya, view, kritik, dan saran readers, klik favoritnya💓💓💓 dan follow Author ya. Jangan lupa memberi vote ya...


Terimakasih banyak🙏***


Salam hangat dari Author untuk semua readers tercinta dan tersayang.

__ADS_1


__ADS_2