Cinta Yang Dulu,Datang Kembali

Cinta Yang Dulu,Datang Kembali
Eps 29


__ADS_3

"Tidak boleh. Mas yang sok akrab." Jawab Novi dengan ketus. Asil yang akan menjawab, seketika diam.


"Ini Mbak. Terimakasih!" Kata Asil dengan segera memberikan uang ke kasir dan berlalu pergi. Dea dan Novi mengikuti Asil pergi dari tempat itu dan memanggil Asil.


"Asil, tunggu!" Teriak Novi sambil berlari mendekat ke Asil.


Novi dan Dea mensejajarkan jalannya dengan Asil, sambil menuju ke kantor.


"Kamu tidak apa-apa, Asil?" Tanya Dea cemas.


"Aku baik-baik saja, Mbak Dea." Jawab Asil dengan tersenyum.


Tiba di kantor mereka menunggu di depan lift karyawan. Doni dan Faris mendekat dari arah pintu masuk, menyapa Asil dan Dea serta Novi.


"Makan siang dimana tadi?" Tanya Faris pada Novi.


"Di cafe depan. Kenapa?" Tanya balik Novi yang cuek terhadap Faris.


"Oh. Kok nggak ketemu disana ya kita." Jawab Faris dengan senyum lebarnya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.


Pintu lift terbuka Asil, Novi, Dea dan Doni masuk sedangkan Faris yang masih memandang Novi di luar lift " Bro, kamu masih mau di situ." Kata Doni yang membuyarkan lamunan Faris.


"Oh. Iya ini." Jawab Faris dengan segera berjalan masuk lift bersama.


"Ehem!" Doni berdehem melihat Faris yang memandang Novi sedari tadi.


"Kalau melihat benda itu berkedip lah, Bro." Seru Doni dengan senyum miring.


"Maksudnya!" Seru Dea dan Asil dengan segera menoleh ke arah Doni.


"Ma-maksudnya, aku tadi ngomong sama Faris. Iya kan, Ris." Jawab Doni dengan terbata-bata.


"I-iya Don." Jawab Faris menatap Doni dan menyenggol lengannya.


"Kalian semua gak jelas." Sinis Novi yang kesal dengan Faris. Pintu lift terbuka Novi berjalan keluar dan menuju ruang marketing.

__ADS_1


"Novi, nggak pamitan dulu?" Teriak Asil dari dalam lift sambil tertawa.


"Tidak!" Jawab Novi yang membalikkan tubuhnya dan melambaikan tangan pada Asil sambil tersenyum.


Asil dan Dea juga membalas lambaian Novi dan tersenyum melihat tingkah Novi yang imut.


Pintu lift tertutup kembali menuju ke lantai ruang bagian keuangan. Faris tersenyum senang melihat tingkah Novi yang cantik dan imut.


Sedari tadi Asil melirik ke arah Faris yang senyum-senyum yang tidak jelas merasa heran dan penasaran.


"Kamu kenapa, Ris?" Tanya Asil dengan tatapan seperti menginterogasinya.


"Ah. Tidak ada apa-apa." Jawab Faris dengan tersenyum ke arah Asil, yang membuyarkan lamunannya teringat wajah Novi tadi.


"Iya, Ris. Apa kamu merasa tidak enak badan?" Tanya Dea yang menoleh ke arah Faris yang berada di belakang Doni.


Belum sempat menjawab sudah di sahut oleh Doni dengan mata yang menggoda.


"Dia sedang merasakan debaran disini." Tangan Doni menyentuh dadanya sendiri.


"Sepertinya yang kamu suka, juga bekerja disini." Tawa Dea yang memojokkan Faris.


"Bisa diam, tidak." Kata Faris yang terpojokkan dan merah di wajahnya membuat Asil, Dea, dan Doni tertawa dalam lift.


Lalu lift terbuka dan mereka berempat keluar berjalan menuju ruang keuangan dengan bercanda gurau dan tertawa.


...****...


Diruang Arga masih sibuk dengan menandatangani berkas yang harus di setujui, dan Sekretaris Rio masih tetap berdiri tegap di sebelah Arga menunggu berkas tadi.


Asil mengetuk pintu dan membukanya. Masuk dengan wajah yang begitu sangat bahagia.


"Selamat siang, Pak!" Salam Asil dengan senyum lebar dan manis di bibir mungil yang ranum itu. Dan menuju ke meja kerja Asil sendiri.


"Hm." Jawab Arga dengan berdehem dan masih fokus pada berkasnya. Sekretaris Rio yang melihat wajah Asil dengan sesekali tersenyum merasa heran.

__ADS_1


Habis makan siang apa, Nona Asil ini. Tidak seperti biasanya wajah seceria itu. Namun Pak Arga tak melihatnya hanya fokus pada berkasnya. Sungguh, bukan rejeki anak Sholeh ini. Tidak bisa melihat matahari yang bersinar cerah dan terang. Ha-ha-ha.


Batin Sekretaris Rio yang sekilas tersenyum.


"Pak, ini berkas yang bapak minta tadi." Kata Asil menyodorkan sebuah berkas yang di ambil dari Dea.


"Taruh disitu." Jawab Arga dan Sekretaris Rio yang mengambil berkas dari Asil, mengecek semua dengan teliti.


Asil pergi kembali ke meja kerjanya. Setelah selesai menandatangi semua berkas, Arga keluar bersama Sekretaris Rio.


Asil melihat Arga keluar tanpa pamit, hatinya terasa ada yang menyayat.


Kenapa rasanya seperti di sayat oleh benda tajam. Setidaknya katakan sesuatu padaku. Apa ini yang dikatakan cinta atau rasa suka yang tidak mau kau acuhkan. Padahal aku hanya ingin butuh waktu untuk tahu rasa suka dan tidaknya aku.


Gumam Asil yang lirih, tak terasa air yang jatuh dari matanya menetes perlahan. Asil segera mengusap air matanya dengan tangan yang sedikit bergetar.


Entah rasa tak mau kehilangan dan jauh atau tak mau di acuhkan oleh Arga.


Waktu sore pun tiba, Asil merapikan semua dan berlalu pergi untuk pulang. Ponsel Asil berdering, panggilan masuk dan pesan dari Sekretaris Rio.


Asil tidak mengetahui ponselnya berbunyi yang berada dalam tas.


Asil berjalan keluar dari lobi. Di tengah jalan, Asil masih mengingat ucapan Dea dan Novi tadi saat makan siang.


Apa aku harus bilang suka pada Pak Arga?


Tapi.....


"Asil." Panggil seorang pria dari kejauhan yang membuyarkan lamunannya Asil. Pria itu berjalan mendekati Asil. Asil mendengar suara orang yang memanggilnya segera berhenti berjalan dan menoleh ke asal suara.


Siapakah pria yang memanggil Asil?


Penasaran kan....


Jangan lupa like, vote, dan klik favorit kalian para Readers tercinta๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ dan tersayang.

__ADS_1


Dengan dukungan kalian, Author lebih semangat untuk berkarya.


__ADS_2