Cinta Yang Dulu,Datang Kembali

Cinta Yang Dulu,Datang Kembali
Episode 68


__ADS_3

"Aku tidak bisa tidur." Kata ku pelan dan mengubah posisi terlentang ke posisi miring menghadap ke arah mas Arga.


"Mau di nyanyikan lagu Nina Bobo." Jawab mas Arga dingin dan masih menutup kedua matanya.


"Tidak perlu, mas. Nanti juga bisa tidur." Seru ku kesal dan jengkel.


Kenapa dia menjengkelkan sekali. Aku benar-benar tidak bisa tidur kalau ada dia di samping ku. Apa aku suruh tidur di sofa?


Tidak, tidak. Nanti di anggap aku yang jahat, lagi pula ini apartemen miliknya.


Batin ku sambil mengambil selimut dan menutupi semua tubuh ku hingga ke ujung kepala.


Sesekali aku bergerak dengan pelan, melihat mas Arga yang sedari tadi sudah tidur pulas. Aku mulai turun dan pergi dari kamar menuju dapur dan mengambil air minum di lemari es.


Selesai minum aku menutup kembali lemari es itu, tiba-tiba dari samping lemari es ada seseorang yang membuat ku tersentak kaget dan berteriak.


Aaaarrrggh...


"Ampun... Tolong jangan ganggu aku. Ku mohon." Kata ku pelan dan merintih ketakutan sambil memejamkan mataku mendekap gelas yang ku bawa.


"Asil." Panggil Arga dengan dingin dan menatap tajam.


"Asilya..." Panggil Arga memegang tangan ku.


"Jangan... Jangan bawa aku. Aku masih lajang dan perawan." Jawab ku dengan seluruh tubuh ku bergetar ketakutan.


"Apa yang kamu katakan, Asil. Ini aku. Mas Arga."


"Kamu ngedumel apa sih. Takut sama siapa? Disini hanya kita berdua." Kata Arga dan menyuruh ku membuka mata.


Dengan pelan aku membuka mata dan melihat mas Arga yang ada di depan ku.


"Syukurlah..." Kata ku sambil menghembuskan napas dengan lega.


"Aku kira tadi hantu atau pencuri yang masuk." Imbuh ku pada mas Arga.


"Jangan asal dan ngawur. Kamu ngapain di situ gelap-gelapan?" Tanya Arga dingin dan antusias.

__ADS_1


"Minum mas. Dan nggak bisa tidur." Jawab ku sambil menaruh gelas di meja.


"Ayo, tidur. Jangan main gelap-gelapan gak baik." Seru Arga sambil berjalan ke kamar.


"Iya mas." Jawab ku pelan lalu mengikuti masuk kamar.


Aku mencoba tidur dan akhirnya pagi pun tiba dengan suara dering alarm dari ponsel ku. Aku membuka mata melihat di samping ku tidak ada seorang pun. Aku membelalakkan ke dua mataku yang sayu dan duduk mencari mas Arga.


Dengan menguap dan merenggangkan otot di tubuh agar lebih relaks, aku mencium bau masakan dari luar pintu.


"Wangi... Seperti makanan enak!" Gumam Asil pelan berjalan mendekat ke arah aroma masakan. Dari kejauhan tampak terlihat punggung Arga sedang memasak menyiapkan sarapan pagi.


"Seharusnya aku yang berada di sana. Menyiapkan sarapan pagi. Calon istri macam apa aku ini, malah dia yang menyiapkan semuanya." Ujar dalam hati ku berlari kecil menghindar dari tatapan Arga dengan langsung masuk ke kamar mandi.


"Asil... Asil! Aku masih bisa melihatmu lewat tadi." Gumam Arga sambil tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Untung saja tidak ketahuan." Gumam ku sambil meringis dan melanjutkan membasuh muka.


Selesai aku keluar dari kamar mandi, melihat mas Arga sudah berada di ambang pintu depan kamar mandi.


Aaargh...


"Sejak kapan disini mas?" Tanya ku sambil mengelus dada ku dan menghembuskan nafas pelan.


"Jangan main kucing-kucingan. Ayo sarapan dulu." Ajak mas Arga menggandeng tanganku.


"I-iya mas!" Ucap ku gagap.


Aku merasa tidak enak padanya. Pagi-pagi buta sudah menyiapkan sarapan. Tapi aku sangat bersyukur memilikinya. Ujar dalam hati Asil sambil tersenyum.


Aku dan dia sarapan bersama sambil mengobrol.


Mengingat dan antusiasme aku mencoba bertanya, "Mas, boleh bertanya tidak?"


"Boleh." Jawab singkatnya.


"Saat aku koma... Apa mas Arga over protektif padaku?" Tanya ku dengan sedikit canggung.

__ADS_1


Dia hanya meringis dan melanjutkan sarapannya tanpa menjawab pertanyaan ku. Aku mengurungkan niat untuk bertanya lagi. Setelah selesai, aku mengambil dan membersihkan tempat makan. Sambil mencuci piring aku mendengar suara mas Arga mendekat.


Dia membisikkan ke telinga ku.


"Kamu mau jawabannya!" Ucapnya pelan sambil meniupkan nafasnya ke pada Asil.


"Iya mas." Jawabku sontak bergeming dan memerah ke dua pipi ku.


"Lanjutkan cuci piringnya. Tidak perlu bekerja. Temani aku dan bawakan kopi untuk ku." Perintah mas Arga pada Asil dan beralih pergi dari belakang Asil.


"Iya mas." Seru ku dengan kesal karena seenaknya sendiri.


Selesai sudah pekerjaan ku, sekarang membuatkan kopi untuknya. Ucap ku pelan sambil membuatkan.


Aku memberikan kopi ke mas Arga dan duduk di sampingnya menunggu jawaban darinya. Dia menerima kopi dan menyeruput kopi itu.


"Enak!" Katanya pelan dan menaruh cangkir di meja. Lalu membaca artikel di tabletnya.


Di hiraukan lagi seperti ini tidak wajar, memang dia sangat menyebalkan.


"Mas..." Panggil ku pelan.


"Hem!" Dia menjawab dengan berdehem dan fokus pada tabnya.


"Mas... Mungkin ini hanya hal sepele tapi bagiku ini penting." Kata ku dengan nada tegas dan rasanya kesal ku ingin naik pitam saja.


"Sepenting apa?" Tanya Arga tanpa melihat ku.


"Tidak perlu di jawab. Aku hanya ingin bukti keseriusan kamu. Bukan hanya sebuah omongan yang tidak dapat di genggam." Ucap ku mulai kesal padanya.


"Apa kamu lagi datang bulan. Sangat agresif itu tidak baik." Jawab Arga sambil tersenyum miring.


"Tidak. Malah mas Arga yang begitu mengesalkan." Ucap ku yang hendak pergi dan berlalu darinya.


Dia meraih tangan ku dan menarik hingga aku terjatuh tepat di pangkuannya.


"Aku akan jawab semuanya, sayang!" Kata Arga sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Mungkin hari ini aktivitas kita mengobrol sampai malam." Imbuh Arga mencubit pinggang ku dengan usil.


Aku tersontak dan memerah di kedua pipiku. Lalu Arga menceritakan semuanya.


__ADS_2