
" Pak." kata Asil yang membuka pintu kamarnya.
Asil tersentak kaget karena Arga berada di belakang pintu. Dengan sigap Arga menarik lengan Asil dan membungkam mulutnya karena Asil akan berteriak kaget. Lalu Arga menutup pintu kamar dan menyuruh Asil duduk di pinggir tempat tidur.
" Duduklah." suruh Arga sambil melepas bungkaman pada Asil.
Asil menjawab dengan anggukan kepala yang tanda mengiyakan ucapan Arga.
" Duduklah disini, pak. Dihadapan ku." pinta Asil pada Arga sambil tersenyum. Lalu Arga menarik kursi rias milik Asil dan duduk tepat di depan Asil.
" Bapak cemburu." tanya Asil pada Arga dengan menaruh tangannya di atas tangan Arga.
" Cemburu. Ha... Ha..." kata Arga sambil tertawa, menyembunyikan rasa cemburunya.
" Hus. Jangan tertawa keras seperti itu. Nanti kedengaran bapak ibu. Aku tahu kalau bapak itu cemburu. Tapi aku tidak pernah menyukai mas Angga, aku sudah bilang kan kalau hubunganku dengan mas Angga hanya sebatas sahabat atau teman." jelas Asil pada Arga yang membuat Arga diam.
" Bap... Eh maksudku mas. Mas Arga tidak percaya kalau yang aku sukai hanya mas Arga." imbuh Asil sambil tersenyum dan mengusap-usap tangan Arga.
" Kita percepat pernikahan kita. Setelah aku pulang dari Amsterdam." sahut Arga dengan mengusap wajah Asil.
" Saya tidak suka mengulang perkataan saya loh, mas. Tunggulah kurang lebih 1 tahun, kita bisa kan menjalani hubungan kita secara LDR." seru Asil manja pada Arga.
" Baiklah." jawab Arga singkat.
" Oh ya. Disini tidak ada kamar lagi, semua sudah di tempati. Bapak tidur di kamar saya saja dan saya tidur dengan Adel." kata Asil yang hendak pergi keluar.
" Selamat beristirahat." seru Arga sambil memegang tangan Asil.
Asil mendengar ucapan Arga seketika diam ,membalikkan tubuhnya dan menepuk bahu Arga mengucapkan " Selamat beristirahat juga, mas."
Asil keluar dari kamar dan tidur dengan Adel.
Matahari terbit dari timur yang memancarkan sinar pagi yang cerah, suara kicauan burung yang nyaring di dengar Asil dan semua sudah terbangun dan siap memulai aktivitas sehari-hari.
Asil berangkat ke kantor bersama Arga dari rumah orang tua Asil.
__ADS_1
" Bu, Asil berangkat kerja dulu. Nanti sore aku kesini ambil pakaian." Kata Asil sambil berpamitan dan menyalami Bu Siti dan Pak Hasyim secara bergantian dan di ikuti Arga.
" Iya, Asil. Hati-hati dijalan." Kata Bu Siti sambil tersenyum.
Asil dan Arga masuk ke mobil dan mereka berdua berangkat bersama. Dalam perjalanan Asil meminta untuk di turunkan di pinggir jalan dekat kantor agar tidak ada yang tahu tentang hubungan mereka berdua.
Setelah Arga menurunkan Asil, ia langsung melakukan mobilnya pergi ke kantor.
"Ini orang seperti manusia es. Basa-basi gitu, atau bilang hati-hati dijalan." Gumam Asil dengan kesal sambil berjalan menuju kantor.
Arga sampai di parkiran mobil dan naik lift pribadinya. Ia sampai di lantai ruang pribadinya dan masuk sambil menunggu kedatangan Sekretaris Rio.
Beberapa menit kemudian Asil tiba, langsung naik lift ke ruang Arga.
"Selamat pagi Pak Arga." Kata Asil membuka pintu dan menyapanya.
"Iya, mana kopi saya?" Tanya Arga dengan tenang dan dingin.
Orang ini.... Benar-benar sungguh membuat hatiku mendidih. Gumam Asil dalam hati yang kesal.
"Kita baru saja menjalankan hubungan romantis kita loh. Apa bapak perlu bimbingan dari saya." Kata Asil menjelaskan pada Arga dengan mengusap dada Arga. Sambil tersenyum menggoda, Arga dengan sigap tangan Arga memegang tangan Asil.
"Agresif sekali kamu hari ini. Sarapan kita tadi pagi sama dan kamu habis kerasukan apa jadi seperti ini." Seru Arga sambil tersenyum miring.
Dalam hati Arga sudah berdetak tidak karuan dan mencoba menahannya.
"Huft." Asil menghembuskan napasnya, melepas genggaman tangan Arga dan menjauhi Arga. Sambil menaruh tas di meja kerjanya.
"Jangan menyerah." Seru Arga tersenyum sedikit tertawa karena Arga selalu main tarik ulur.
"Oh iya. Saya boleh pindah tempat ke ruang keuangan dengan Mbak Dea, tidak?" Tanya Asil sambil meminta dengan wajah merayu dan memelas.
"Untuk apa pindah?" Tanya Arga terheran, lebih aman di ruang Arga dari pada di luar ruang.
"Ehm. Sebentar lagi bapak ke luar negeri, jadi saya lebih nyaman bekerja kalau ada temannya." Jawab Asil tersenyum manis.
__ADS_1
"Kamu kuat dengan ghibahan para karyawan?" Tanya lagi Arga karena takut dengan omongan para karyawan yang selalu mengusik Asil.
"Tenang saja, Pak. Tidak usah khawatir karena telinga saya lebih tebal." Kata Asil sambil tertawa.
"Baiklah. Kalau begitu biar Sekretaris Rio yang mengurusnya. Saya tinggal ke ruang meeting dulu." Kata Arga tersenyum melihat Asil senang dan tertawa di depannya tanpa menyembunyikan lagi. Ia berlalu pergi dari ruangannya.
Sekretaris Rio datang dengan beberapa orang office boy yang memindahkan beberapa berkas yang sudah di masukkan di kardus besar.
Asil mengikuti Sekretaris Rio ke ruang asal mula Asil masuk kerja yaitu ruang bagian keuangan dekat Dea.
"Selamat pagi, Pak Rio." Sapa semua karyawan yang ada di dalam ruang bagian keuangan.
"Pagi, hari ini Asillya akan bekerja di ruang ini lagi." Kata Sekretaris Rio dan menyuruh Asil duduk di sebelah Dea.
"Baik, Pak" Jawab semua karyawan.
Sekretaris Rio pergi dari ruang tersebut dan di ikuti office boy yang sudah menaruh berkas-berkas milik Asil.
"Asil, kamu tidak ada masalah sama Pak Arga?" Tanya Dea yang penasaran dengan kembalinya Asil ke ruang tersebut.
"Tidak ada." Jawab Asil dengan tenang sambil menata berkas dan peralatannya.
"Beneran?" Kata Dea meyakinkan rasa penasarannya.
"He.em" Jawab Asil duduk dan membuka laptop memulai pekerjaannya.
Faris dan Doni membicarakan Asil dengan berbisik pada Dea. Namun Asil menghiraukan mereka karena tahu apa yang di bicarakan itu kekhawatiran teman-temannya tentang hubungan Arga dan Asil.
Hari-hari di lalui dengan aktivitas seperti biasanya...
29 hari berlalu, Arga berada di bandara menunggu kedatangan Asil...
Jangan lupa like setiap baca perbabnya, kritik dan saran readers, klik favoritnya💓💓💓 dan follow Author ya.
Terimakasih banyak🙏***
__ADS_1