Cinta Yang Dulu,Datang Kembali

Cinta Yang Dulu,Datang Kembali
Eps 56


__ADS_3

"Hallo..."


Tanpa ada sahutan dari ponsel Asil.


Arga yang mendengar suara Asil tersentak kaget yang bercampur bahagia.


Ia tersenyum mendengar suara Asil lagi.


Perasaan ku yang mulai membaik mendengar suara hangat darimu. Tak ingin aku melepas mu yang berusaha ingin menjagamu. Aku ingin sekali melihat wajahmu lagi. Entah kapan semua pekerjaan ku terselesaikan. Apa aku harus menunggu seperti ini lebih baik.


Gumam di hati Arga.


"Hallo pak..."


"Kenapa tidak ada jawaban darinya?" Gumam Asil pelan dengan sekilas melihat ponselnya.


"Masih terhubung... Kemana orang ini?"


"Hallo pak. Selamat siang!"


"Eh... Iya... Maaf tadi saya sedang minum." Jawab Arga dengan sembarang bicara.


"Oh... Bapak sedang minum. Lanjutkan saja dulu pak." Seru Asil tersenyum.


"Sudah selesai. Ada yang bisa di bantu?" Tanya Arga dari seberang.


"Iya pak ada. Saya mau masuk lagi ke perusahaan yang bapak pimpin. Apa bisa tanpa lamaran kerja, saya bisa bergabung lagi?" Kata Asil dengan ragu dan berdegup karena gugup.


Aku takut salah dalam berbicara, walaupun ini teman dekat bapak. Tapi entah rasanya suara ini seperti aku pernah mendengarnya. Dimana ya?


Gumam batin Asil.


"Sangat bisa. Besok langsung masuk bekerja juga tidak apa-apa." Kata Arga sambil tertawa kecil.


"Oh begitu ya. Tapi seingat saya pernah memberikan surat pengunduran diri ke atasan saya. Apa tidak apa-apa pak saya kembali bergabung lagi?" Tanya Asil ragu-ragu.


"Tidak apa-apa. Nanti saya yang akan mewakilkan masalah ini pada atasan saya. Pak Arga yang dingin itu ya yang kamu maksud atasan kamu." Kata Arga yang berlagak seperti bawahan.


"Maaf, saya kurang tahu nama jelasnya atasan saya. Karena saya lupa pak." Kata Asil tersenyum.


"Iya, saya tahu kondisi anda setelah kecelakaan yang lalu." Kata Arga dengan wajah kasihan.


"Baiklah kalau begitu terimakasih banyak ya pak." Seru Asil.


"Nanti saya kabari setelah ada kabar dari pak Arga." Kata Arga tersenyum dan mengakhiri panggilan.


"Baik, pak. Terima... Loh kok sudah di matiin." Kata Asil sambil menengok ponselnya.

__ADS_1


"Dasar ini orang. Kayak bapak aja belum selesai bicara udah di matikan saja." Gumam Asil sambil berjalan masuk.


Asil masuk kedalam rumah, ia menanyakan sesuatu pada Bu Siti.


"Bu..." Panggil Asil.


"Iya, ada apa Asil?" Jawab Bu Siti.


"Ibu pernah lihat baju kantor warna dusty nggak?" Tanya Asil pada Bu Siti karena pernah membelinya namun tidak ada di kamar Asil.


"Ibu belum pernah lihat. Apa ibu bantu cari di kamar kamu?" Tanya Bu Siti berdiri dari sofa ruang tengah.


"Iya Bu soalnya Asil pernah membeli baju kantor itu saat bersama seseorang. Tapi entah siapa aku sudah lupa." Jawab Asil memasuki kamarnya.


"Sama seseorang siapa sil? Laki-laki apa perempuan?" Tanya Bu Siti sambil membuka pintu almari.


"Ehm... Kalau di ingat samar-samar sepertinya laki-laki." Jawab Asil sambil mengingatnya.


"Bu, apa Asil punya kekasih atau pacar gitu?" Kata Asil antusias.


Bu Siti yang mendengar pertanyaan Asil membuat Bu Siti berhenti sejenak mencari baju kantor milik Asil.


"Ehm..." Bu Siti yang akan menjawab mengurungkan niatnya.


"Kenapa Bu kok diam." Tanya Asil penasaran.


Panggilan Adel yang membuat Asil sontak berlari keluar bersama Bu Siti.


"Bu... Ibu..." Panggil Adel dengan keras.


"Iya deeeel... Nggak usah kenceng-kenceng juga bisa kan." Kata Asil mendekat ke Adel.


"Baru pulang nak?" Tanya Bu Siti.


"Iya Bu. Gak ada tugas di sekolah jadi pulang lebih awal." Jawab Adel menaruh tas di sofa ruang tamu.


Mereka berbincang bersama dan menanyakan tentang ingatan Asil. Asil mengingat semua memory kecuali bersama Arga.


"Mbak Asil tidak mengingat yang lainnya?" Tanya Adel dengan antusias.


Kenapa mbak Asil tidak mengingat sedikit kenangan dengan mas Arga. Sampai kapan dia harus begini. Aku harus bantu mbak Asil agar mengingat kenangannya bersama mas Arga walaupun hanya sebentar kenangan itu.


Gumam batin Adel.


"Ehm... Siapa lagi, hanya itu saja." Jawab Asil pelan.


"Tidak apa-apa nak. Nanti juga akan ingat semuanya." Jawab Bu Siti menyemangati.

__ADS_1


"Iya, Bu." Kata Asil dan pamit untuk istirahat siang.


Terik di siang hari yang menyengat membuat keluarga pak Hasyim semua istirahat. Seperti biasanya Asil bangun sudah pukul 16.00.


Semua sudah terbangun, Bu Siti dan Adel memasak.


Asil pergi membersihkan diri agar segar kembali. Setelah selesai, dia memakai baju santai. Saat membuka laci di meja rias, dia melihat sebuah kotak perhiasan yang kecil. Asil membuka kotak itu yang berisi cincin.


"Cincin siapa ini?"


"Seperti cincin pertunangan." Gumam Asil sembari melihat cincin itu bertuliskan Asil dan Arga.


Deg...


Asil&Arga...


Asil ini namaku kan...


Dan Arga ini siapa...


Batin Asil dengan sigap mengambil ponselnya yang kemarin lalu mendapat pesan masuk dari mas Arga.


Namanya sama.


Apa dia tunangan ku.


Kenapa aku tidak mengingatnya, sedikit pun aku tidak mengingat kenangan bersamanya.


Ah...


Kepala ku...


Batin Asil merasa sakit di kepalanya.


Tanpa sadar Asil mengingat kenangan bersama Arga yang masih samar.


Uh...


Sakit sekali.


Apa aku harus menghubunginya dan menanyakannya.


Gumam Asil tanpa berpikir panjang dia menghubungi Arga.


Drrt... Drrt... Drrt...


"Kenapa tidak di angkat panggilan ku?" Kata Asil pelan. Lalu Asil mencoba menghubungi lagi sampai Arga menerima panggilan dari Asil.

__ADS_1


__ADS_2