Cinta Yang Dulu,Datang Kembali

Cinta Yang Dulu,Datang Kembali
Eps 21


__ADS_3

"Asillya sedang sakit, makan mie Ramyunnya juga lain kali saja, Dea." Tegas Arga menutup teleponnya.


"Sakit ap-paa..." Tut... Tut... Tut...


Panggilan terputus.


"Dasar Arga gila, aku belum selesai ngomong sudah main putus aja kamu, hah!" Kata Dea kesal melihat ponselnya yang terputus dari sambungan telepon ke Asil.


"Kenapa kamu mbak, siapa yang sakit... Asil!" Tanya Novi penasaran ke Dea.


"Iya, Asil sakit Nov, aku juga gak tahu sakit apa!" Jawab Dea pelan khawatir pada Asil.


"Eeeehm... Kita makan dulu aja Mbak Dea, nanti kita ke apartemennya Asil." Kata Novi sambil mengusap bahu Dea.


"Iya, Nov. Tapi kamu tau nggak dimana apartemennya?" Tanya Dea.


"Tahu Mbak Dea, kemarin aku sudah dikasih tahu sama Asil. Ini alamatnya." Jawab Novi sambil memberikan alamat di ponselnya.


"Oke, kalau gitu kita makan dulu." Seru Dea menyantap mie Ramyun.


Di apartemen Arga memesan makanan sambil menunggu Asil sadar di kamarnya. Beberapa menit kemudian bel berbunyi, Arga segera pergi dan membuka pintu apartemennya.


"Selamat malam pak, ini makanan yang bapak pesan. Selamat menikmati. Terimakasih!" Kata deliveryman sambil menyerahkan kotak pesanan.


"Iya, trimakasih!" Kata Arga lalu menutup pintu tersebut dan menaruh makanan di meja makan.


Arga yang sedari tadi belum makan mengambil makanan lalu memakannya. Saat beberapa suap, Arga mendengar suara lirih dari kamar Asil yang menyebut nama mamanya. Arga seketika berhenti makan langsung pergi ke kamar Asil.


"Tante... Tante Jihan... Jangan pergi... Asil mau berterimakasih..." Lirih Asil mengucapkan kata-kata itu dengan berat dan air mata Asil menetes perlahan di kedua matanya yang terpejam, keringat dingin yang keluar membuat demam Asil semakin tinggi.


Arga yang mendengar rintihan Asil, ia berlari mendekat dan menggoyangkan tubuh Asil dengan pelan.


"Asil kamu tidak apa-apa!" Kekhawatiran Arga semakin mendalam. Kenapa anak ini memanggil manggil nama mama... Apa hubungannya dengan mama. Batin Arga semakin bingung dan gelisah.


"Tante maafin Asil..." Ucap lagi Asil dengan lirih dan isak tangisnya.


"Asil bangun, Sil. Saya disini menjagamu...bangunlah!" Kata Arga kasihan dan detak jantung Arga perlahan mulai ada rasa iba dan rasa suka pada Asil.


"Asil bangunlah ku mohon jangan seperti ini!"


Kata Arga tangannya menggenggam tangan Asil dengan erat dan menitikkan air mata, takut kejadian yang pernah di alami saat mama Arga tidak sadarkan diri.


"Kumohon bangunlah... Kalau kamu tidak bangun panas pada tubuhmu akan membakar apartemen ini." Seru Arga mengusap air matanya dan menundukkan kepalanya.


"Tidaaaaaaak... Jangan pergi..." Teriak Asil tersadar, terbangun dan melihat ke arah Arga yang menggenggam tangannya.


Arga langsung menegakkan kepalanya mengarah ke Asil.


"Pak... Arga!" Lirih Asil.

__ADS_1


"Asil, kamu sudah sadar?" Tanya Arga mengusap pipi Asil.


Asil mengangguk pelan, "Iya sudah pak, kenapa bapak?"


"Kamu yang kenapa?" Tanya balik Arga dengan tegas. Lalu bertanya pada Asil kejadian apa yang pernah di alami Asil sampai Asil mengigau.


"Kejadian apa pak, saya tidak pernah mengalami kejadian seram atau hal yang aneh." Jawab Asil menyembunyikan kejadian yang pernah di alami.


"Sudahlah lupakan, ini makanlah sesuatu dan minumlah obat." Kata Arga berlalu pergi keluar kamar.


*Ini o**rang aneh, tadi baik sekarang cuek tapi aku tadi melihat pak Arga menangis...


Raja singa bisa menangis... He... He... He* Gumam Asil dan senyum-senyum sendiri dan senang.


Asil mengecek panasnya dengan menempelkan telapak tangan ke dahinya.


"panasnya! Kenapa aku tadi ya kok bisa sepanas ini dan tiba-tiba sudah berada di atas ranjang."


Lalu Asil turun dari ranjang ingin bertanya Arga namun kepala Asil pusing, "Uuuuuhhhhhg!!! Kepala ku pusing sekali." Asil mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Arga.


Asil duduk dan makan sedikit serta meminum obatnya, lalu Asil tidur dan beristirahat.


Di ruang tengah Arga duduk mengingat-ingat kembali kejadian yang pernah dialami saat kecil.


*Fla**sh back to arga's childhood*


Mereka menginap di sebuah rumah adat pedesaan yang dekat dengan sungai.


Arga mengajak bermain anak kecil itu. Saat berlari anak kecil itu terpeleset dan tercebur ke sungai yang arusnya deras.


"Kakak tolong!" Teriak anak kecil itu.


"Tunggu sebentar, kakak cari bantuan dulu!" Kata Arga panik.


Sebelum Arga mencari bantuan, mama Arga yang melihat Asil terbawa arus sungai segera menceburkan dirinya untuk menyelamatkan Asil.


Mama Arga menggendong Asil dan membawanya ke dalam rumah, semua orang panik dan Arga merasa bersalah pada anak kecil itu.


"Maafin kakak, tidak bisa menjagamu!" Hiks... Hiks... Hiks... Kata Arga lirih.


"Sudah-sudah, tidak apa-apa!" Seru pak Hasyim agar suasananya menjadi normal tidak ada ketegangan dan amarah pak Hendra dan ibu Jihan.


*Fl**ash back off*


*Be**l apartemen berbunyi*,


Arga terbangun dari lamunan membuka pintu


melihat Dea dan Novi datang.

__ADS_1


"Selamat malam, pak Arga!" Seru Dea dan Novi menyapa.


"Iya, ada perlu apa kesini?" Tanya Arga dingin.


"Mau menengok Asil, Pak!" Jawab Dea sambil tersenyum terpaksa.


"Asil sudah tidur, lain kali saja!" Kata Arga tidak memperbolehkan.


"Baiklah, Pak. Saya nitip ini mie Ramyun kesukaan Asil, trimakasih!" Kata Novi memberikan bungkusan mi Ramyun pada Arga.


"Iya!" Kata Arga dengan dingin seperti balok es.


Dea dan Novi berlalu pergi dan mengatai Arga karena sifatnya yang cuek dan dingin.


"Kita ini pengen menjenguk Asil, kenapa tidak boleh sih, Mbak?" Tanya Novi geram.


"Kamu tahu kan, pak Arga itu seperti apa? Ya sudahlah nggak usah kesal gitu!" Jawab Dea yang sebenarnya juga ikut kesal dan geram.


Arga menutup kembali pintu itu dan melihat mie Ramyun kesukaan Asil, menaruhnya di meja dapur. Arga pergi melihat keadaan Asil, ia membuka pintu kamar melihat Asil sudah tidur.


Arga mendekat mengecek panas Asil yang mulai turun walau tubuhnya masih terasa sedikit panas (hangat).


Lalu Arga melihat mangkuk yang berisi bubur yang masih banyak, "Apa anak ini tidak makan buburnya, mau sembuh pun juga gak akan sembuh kalau gak makan." Gumam Arga segera mengambil mangkuk itu dan menaruhnya di tempat cuci piring.


Arga melanjutkan pekerjaannya dan menghubungi Rio agar segera kembali ke apartemennya karena obat yang di berikan dokter Mahesa hanya pereda pusing dan nyeri.


Sekretaris Rio kembali membawa obat dan menaruh di meja depan Arga.


"Gimana kata dokter Mahesa?" Tanya Arga ingin tahu.


"Asil mengalami demam psikogenik." Jawab Sekretaris Rio.


"Apa yang sedang di alami Asil sampai terkena demam psikogenik ini." Kata Arga khawatir.


"Lebih baik kamu tanya langsung ke kedua orang tua Asil, Ga." Kata Sekretaris Rio memberikan kepastian agar tahu apa masalah yang pernah di alami Asil.


Jangan lupa vote, klik favorit ♥️♥️♥️♥️ like, komentar, populerkan agar banyak yang read ya.


Love you para readers ♥️♥️♥️♥️💕💕💕💕


#ayo support author...


#salam semangat...


#para readers....


#😘😘😘😘....


#.😍😍😍😍😍...

__ADS_1


__ADS_2