Cinta Yang Dulu,Datang Kembali

Cinta Yang Dulu,Datang Kembali
Episode 8


__ADS_3

*Te**rnyata kamu anak Pak Hasyim supir pribadi papa yang mau dijodohkan denganku*.


*Lih**at saja apa yang akan ku lakukan kepadamu*, apa kamu bisa melewati dengan ujian dan cobaan yang kuberikan kepadamu sebagai calon istri Arga Diksananda Bos Besar Perusahaan Ritel.


Ha... Ha... Batin Arga terkekeh dan tersenyum seringai.


"Kamu tau kesalahan besar mu Asillya Putri Az-Zahra?" Tanya Arga memicingkan matanya pada ku dengan sinis.


"Tidak, Pak." Jawab ku pelan.


*Be**nar atau salah tetep saja aku yang selalu salah terus. Memang atasan tidak benar.


Dasar Raja Hutan yang buas*.


*Ingin aku t**abok saja tuh mukanya yang kayak SAY ( syaitan ) Hi*... Hi... Hi... Batin ku tersenyum dan geram padanya, aku masih menunduk.


Arga mendekatkan wajahnya ke wajah ku yang berjarak sangat dekat. Melihat ku dari bawah dan berkata, "Ngapain kamu senyum-senyum di depan atasanmu. Kamu menyukai saya. Hah!" Sindir Arga dengan senyum sinis.


Aku seketika tersentak kaget, "Ah! Tidak, Pak." Dengan menatap wajahnya.


Lalu Arga melanjutkan perkataannya dan menjauh dariku.


"Kamu, hari pertama masuk kerja sudah membuat gosip dengan karyawan lain." cetusnya.


"Ke dua, tugas yang kuberikan padamu tidak langsung kamu kirim." imbuhnya.


"Ke tiga, hari kedua masuk kerja terlambat 15 menit, 7 detik." jelas Pak Arga dengan tegas.


"Saya... Minta maaf, Pak. Atas ke....!" sahut ku yang belum selesai sudah dipotong olehnya.


"Apa kamu pikir ini perusahaan milik nenek moyang kamu yang sehingga masuk seenaknya sendiri." Bentak Pak Arga seraya menoleh padaku.


"Berikan hukuman pada bawahan yang tidak patuh." Sentak Arga dengan senyum sinis.


"Siap, Pak." Sekretaris Rio menyuruh ku keluar dari ruangan Pak Arga.


Aku keluar dengan hati yang amat sangat benci dan kesal memiliki atasan yang seenaknya jidat. Eh... Salah. Seenaknya sendiri.


Sekretaris Rio memberi tahu ku apa saja hukumannya lalu dia pergi untuk mengurus keperluan perusahaan yang mengajak kerja sama.


Di ruang CEO, Pak Arga duduk di kursi kerjanya sambil membuka laptop, masih terbayang kata-kata yang pernah di lontarkan oleh papanya.


*Flas**h Back To Arga*.


Kemarin sore saat Pak Arga pulang ke rumah papanya, dia bertemu dengan Pak Hasyim dan istrinya Bu Siti yang sedang membicarakan sesuatu yang penting dengan papanya.


"Hem! Assalamualaikum, Pa." Salam Pak Arga pada Pak Hendra dengan tegas serta wajah datarnya.

__ADS_1


Mereka menjawab salamnya secara bersamaan. Bu Siti melihat Arga yang sudah besar merasa kagum padanya.


"Wa'alaikumsalam, Ga. Duduklah di sini." pinta Pak Hendra seraya melirik sofa dekatnya sebagai isyarat.


Pak Arga lalu duduk berhadapan dengan Pak Hasyim dan Bu Siti.


Mereka berempat membicarakan perjodohan, Pak Arga yang merasa dirinya tidak ingin ada perjodohan dan pernikahan hanya diam dan menjawab seperlunya.


Pak Hendra bertanya pada Pak Hasyim dan Bu Siti, "Apakah sudah di bicarakan dengan anaknya?"


"Belum,karena masih perlu waktu yang tepat karena tahu kalau anak saya tidak menginginkan perjodohan." jawab Pak Hasyim sedikit ada keraguan untuk jujur pada Pak Hendra.


Namun Pak Hendra memakluminya. Pelan-pelan saja pasti akan ada jawaban darinya. Batin Pak Hendra. Mereka melanjutkan perbincangannya, setelah di anggap cukup untuk membahas masalah perjodohan Pak Hasyim dan Bu Siti pamit pulang.


"Gimana, Ga? Kamu menyetujui perjodohan ini." Tanya Pak Hendra antusias isi hati anaknya.


"Tidak, Pa. Arga tidak mau ada perjodohan lagi." Jawab Arga dingin.


"Mau sampai kapan kamu tidak ingin menikah. Menunggu papamu sudah tidak ada." sindir Pak Hendra dengan tegas.


"Sampai aku siap, Pa!" ketus Pak Arga lebih tegas.


"Siap tidak siap kamu harus menikah. Papa ingin segera menimang cucu dan ada yang meneruskan usaha Papa." pekik Pak Hendra dengan emosi.


"Terserah Papa." serunya berjalan keluar dari rumah papanya.


"Kenapa papa tidak pernah mengerti anaknya?"


"Hanya mama yang bisa memberi pengertian padaku." Gumam Pak Arga dengan suara lirihnya.


Seandainya mama masih ada. Batinnya tak terasa air matanya menetes secara perlahan lalu mengusapnya.


Tiba-tiba ponsel miliknya berdering tanda pesan dan email masuk.


Dia mengambil ponsel di sakunya dan melihat pesan dari papanya yang menyuruh melihat email tersebut.


Saat membuka email dia tersentak karena foto wanita yang dijodohkan dengan nya itu karyawan baru di perusahaan miliknya.


(Asillya Putri Az-Zahra).


"Ini anak Pak Hasyim, benar kata Sekretaris Rio yang pernah bercerita tentangnya. Kenapa yang tahu duluan Rio?"


"Lihat saja besok kau!" Gerutunya seraya tersenyum sinis.


*Fl**ash Back Off*.


Aku duduk di kursi dengan wajah kesal lalu membuka laptop memulai hukuman yang di berikan oleh atasan.

__ADS_1


"Kenapa dari tadi terlihat kesal gitu? Wajahmu kamu tekuk gitu, nanti cepat tua loh." celetuk Mbak Dea antusias.


"Tidak apa-apa kok, Mbak Dea. Cuma aku ngerasa di perusahaan ini salah sedikit dapat hukuman berat ya?" balas ku pada Mbak Dea.


"Tidak usah kaget gitu, memang atasan kita sedikit CRAZY." Jawab Dea dengan terkekeh. Aku dan Dea cekikikan lalu melanjutkan pekerjaan lagi.


Di ruang kerja, Pak Arga masih melanjutkan pekerjaannya. Lalu Sekretaris Rio masuk memberikan berkas laporan keuangan.


Pak Arga melihat laporan itu dan berkata, "Peningkatan yang sangat bagus." ujarnya menyeringai di wajahnya.


"Berkat kerja keras kita, Ga." seru Sekretaris Rio seraya tersenyum manis menunjukkan keberhasilan bersama.


"Kapan kamu kerja keras, Rio?" ejek Pak Arga.


"Aku tidak pernah lihat kamu bekerja lembur." imbuhnya seraya tertawa lebar.


"Setahu aku, kau banyak ijin untuk kencan." Ledekan Arga pada Sekretarisnya Rio. Ha... Ha... Ha...


"Aku belum punya gandengan, Ga." pekik Sekretaris Rio sinis sambil berjalan keluar ruangan. Tawa Arga semakin kencang.


"Dasar atasan gila!" Gerundel Sekretaris Rio.


Waktu istirahat tiba Asil, Dea, Faris dan Doni pergi ke cafe dekat kantor dan seperti biasa mereka memesan menu dan mencari tempat duduk.


"Kita duduk dekat taman saja, Mbak Dea." Ajak ku.


"Iya, ayo..." balas Dea dengan gesit mereka menuju meja makan dekat taman.


"Aaaarrrgggh!" sontak aku berteriak dan terjatuh bersimpuh.


"Kamu tidak apa-apa, Sil?" Tanya Mbak Dea seraya membantu ku berdiri.


"Aku baik-baik saja, Mbak Dea." Jawab ku menahan sakit. Lalu aku menatap orang yang barusan bertabrakan denganku.


*O**h My God !!! Orang ini lagi*.


Batin ku sambil menatap ketus padanya.


"Kenapa kamu selalu bikin ulah. Hah!" Tanya Pak Arga yang sedang melotot padaku dan membersihkan jasnya.


Hukuman apa lagi ini yang akan di berikan nya lagi. Aku selalu bernasib sial saat bertemu dengannya. Batin ku mulai menciut.


Jangan lupa vote readers tercinta tersayang.😍😍😘😘


Klik favorit ♥️♥️♥️♥️ readers dan like ya.


Author tunggu.

__ADS_1


Salam hangat dari Author untuk pembaca tercinta.


__ADS_2