
Serasa hidup di neraka jahanam.
Batin Asil dengan mendesis.
Setelah selesai sarapan bersama Asil mencuci piring dan setelah itu, Asil segera mengambil tas untuk berangkat ke kantor.
Mereka berangkat sendiri-sendiri.
Tiba di kantor Asil segera menyiapkan kopi seperti biasanya. Namun Arga masih belum datang ke kantor.
Lalu Asil melanjutkan pekerjaannya, ponsel berdering panggilan dari Dea.
"Asil, Mbak Dea mu minta tolong dong!!! Boleh yaaa!" Pinta Dea pada Asil dengan tersenyum.
"Minta tolong apa Mbak?" Tanya Asil.
"Mau nitip proposal keuangan, kamu kasih ke Pak Arga ya! Tapi kamu yang ambil berkasnya.Bisa ya. Please!" Jawab Dea dengan memohon lewat ponselnya.
"Oke-oke! Aku kesana sekarang!"
Sambungan telfon terputus, lalu Asil keluar mengambil proposal ke ruangan Dea.
"Mbak Dea!!!" Panggil Asil sambil menepuk bahu Dea pelan.
"Iya, Asil! Nih proposalnya kasih ke calon suami kamu." Bisik Dea ke Asil dengan tertawa kecil.
"Apa-an sih Mbak Dea ini." Kata Asil lalu pergi.
"Oh ya, jangan lupa selembar kertas kamu ambil dulu. Jangan sampai kamu kasihkan ke Pak Arga." Teriak Dea ke Asil.
"Oke. Siap, Mbak Dea!!!" Jawab Asil setengah berlari kecil.
Sampai di ruang CEO, Asil membuka pintu melihat Arga yang sedang berdiri dekat pintu.
"Darimana kamu?" Tanya Arga dingin.
"Oh... Dari... Eh... Ngambil proposalnya Mbak Dea, Pak." Asil gelagapan menjawab Arga lalu menyerahkan proposal ke Arga.
Arga mengambil proposal dari tangan Asil lalu membawa proposal ke meja kerja. Arga sedang serius mengecek proposal keuangan.
"Panggil Dea kesini." Suruh Arga ke Sekretaris Rio dengan kesal.
"Baik, Pak!!!" Sekretaris Rio dengan sigap keluar untuk memanggil Dea.
*Se**pertinya* kena lagi tuh Mbak Dea....😱😱😱
Ini CEO emang ganas, dingin, nyebelin banget...
Kenapa bisa aku dapat calon suami seperti dia.... guymam di hati Asil sambil melirik sebal ke Arga.
"Apa pekerjaanmu selesai?" Tanya Arga dingin.
"Oh. Belum pak, sebentar lagi akan saya kirim surelnya." Jawab Asil lalu segera mengirimkan surel pada Arga.
Sekretaris Rio masuk dengan Dea dan berdiri di depan Arga.
"Dea ini apa?" Tanya Arga memegang dan memperlihatkan pada Dea kertas yang berisikan tentang Asil.
Aaaaarrrrgggghhh... Asiiilll!!!!
__ADS_1
keynapa nggak di ambil sih sama nih anak...
Aku kan sudah nyuruh ngambil kertas itu.
Batin Dea kaget.
*O**h noooooo... Aku lupa Mbak Dea mau ngambil kertas itu karena tadi kaget orang gila ini udah di balik pintu*.
Batin Asil juga kaget melihat selembar kertas itu.
"Ma... Maaf pak, itu cuma kertas candaan." Jawab Dea dengan gugup.
"Kertas candaan!!!" Arga menarik satu alisnya ke atas "Maksudnya!" lalu mengernyitkan ke dua alisnya.
"Cari mati Dea." Tatap Arga ke Dea dengan tatapan singa yang buas yang ingin menerkam dan melahap mangsanya.
"Dan kamu, kenapa senyum-senyum!!!" Kata Arga menatap Asil padahal Asil tidak tersenyum, Asil meringis merasa bersalah pada Dea.
"Saya tidak tersenyum, Pak." Asil dengan lantang menjawab perkataan Arga.
Arga menatap Asil semakin tajam.
Asil melihat tatapan Arga segera menundukkan kepalanya dan diam.
Di belakang Arga, Sekretaris Rio hanya tersenyum melihat ulah Dea.
Ono ae ulah arek loro Iki... Kowe cari mati Karo Pak Arga... He... He... He... Batin Sekretaris Rio.
Arga memberikan kertas itu ke Sekretaris Rio menyuruh membacanya dengan lantang.
Sebelum membaca isi kertas itu Sekretaris Rio tertawa kecil lalu membaca dengan sekeras-kerasnya dan Arga merasa kesal dan geram..
Isi selembar kertas.
*Ke**marin aku tanya Novi, kamu gak ngekos pindah ke apartemennya Pak Arga, beneran kamu pindah ke apartemennya orang itu maksudnya Pak Arga yang dingin dan kamu julukin raja singa yang ganas.😹😹😹😹*
Karena kamu kemarin, aku telfon nggak di angkat-angkat, aku kirim pesan ke kamu juga gak di bales.
*Na**nti kamu ceritain saat jam makan siang ya Siiil*....
*Ki**ta ghibah bareng Novi juga.😊😊😊😍😍😍😍😘😘😘😘*
*L**ove you my junior*....
Asil mendengar isi selembar kertas itu tertawa, Sekretaris Rio selesai membaca juga ikut tertawa.
"Keluar kalian yang tertawa." Teriak tegas Arga menjadi diam seketika lalu Asil dan Sekretaris Rio keluar.
Asil dan sekryetaris Rio menunggu di luar lalu
Sekretaris Rio memulai pembicaraan dengan Asil, menceritakan masa kecil Arga.
Di dalam ruang CEO hanya ada Dea dan Arga.
Arga menanyakan apa saja yang sudah di ketahui Dea dan Novi tentang Asil yang tinggal di apartemen milik papanya dan mendapat informasi darimana?
Dea menjelaskan kalau yang di ketahui hanya perjodohan Arga dan Asil serta tempat tinggal mereka di apartemen.
"Untuk informasi perjodohan ini Novi dan Asil yang cerita, Pak. Saat itu di cafe biasa kita makan siang." Kata Dea menjelaskan tanpa melihat ke arah Arga.
__ADS_1
"Jangan sampai ada yang mendengar ini." Tambah Arga tegas ke Dea.
"Baik, Pak!" Jawab Dea lalu keluar dari ruang CEO.
"Udah selesai, Mbak Dea?" Tanya Asil.
"Udah... Besok-besok kalau aku hubungin, kamu bales atau angkat gih!!!" Jawab Dea sedikit kesal lalu pergi.
"Mbak Dea marah ya? Maaf Mbak, aku lupa." Teriak Asil lalu masuk ke dalam ruang CEO di ikuti Sekretaris Rio.
Lalu Asil duduk di meja kerjanya mengerjakan pekerjaannya sedangkan Rio mengambil proposal dari Arga dan menyiapkan meeting di luar dengan perusahaan Deltha yang terbesar no.2 yaitu milik Angga Delthayudha.
Arga dan Sekretaris Rio berangkat ke sebuah hotel mewah. Yang di sana juga ada restauran berbintang 5 mereka sudah memesan meja untuk meeting.
Arga dan Rio duduk di meja makan lalu pelayan menghampiri mereka berdua.
"Selamat siang Pak, mau pesan apa?" Tanya waiters sambil membawa notepad.
"Pesan 2 jus alpukat." Jawab Sekretaris Rio.
"Iya, Pak! Tambahan apa lagi?" Tanya waiters.
"Sama 2 steak." Tambah Arga.
"Baik, Pak!!" Kemudian waiters itu pergi untuk menyiapkan pesanan.
Beberapa menit kemudian, Angga datang bersama sekretarisnya menghampiri meja Arga dan Sekretaris Rio.
Arga dan sekretaris Rio melihat kedatangan CEO perusahaan Deltha segera bangun dari tempat duduk
"Maaf, sudah menunggu lama?" Tanya Angga sambil bersalaman pada Arga.
"Tidak begitu, silahkan duduk!!!" Kata Arga mempersilahkan duduk.
"Pesan makanan dulu, kita makan siang bersama terlebih dulu." Tambah Arga.
"Baiklah!" Jawab Angga.
Lalu Angga dan sekretarisnya memanggil waiters untuk memesan makanan yang sama dengan Arga dan sekretarisnya pesan tadi.
"Sambil menunggu makanan, kita langsung bahas tentang kerjasama kita." Kata Angga memulainya.
Mereka berempat berbincang masalah kerjasama. Lalu makanan mereka datang yang di bawa oleh para waiters.
"Kita berhenti dulu sampai sini!!!" Ucap Arga.
"Makanan kita sudah tiba." Tambah Arga pada Angga.
Mereka berempat makan siang bersama.
Jangan lupa vote, klik favorit ♥️♥️♥️♥️ like, komentar, populerkan, dan bagikan agar banyak yang read ya.
Love you para readers ♥️♥️♥️♥️💕💕💕💕
#ayo support author...
#salam semangat...
#para readers....
__ADS_1
#😘😘😘😘....
#.😍😍😍😍😍...