
"Terimakasih." Kata Arga mendekap ku dengan erat.
"Iya. Mas Arga, sudah makan?" Tanya Asil melepas pelukannya.
"Belum." Jawab Arga menatapku dengan hangat.
"Makan dulu mas biar tidak sakit." Kata Asil mengambil mie Ramyun dari kantong plastik. Asil menaruh mie Ramyun di foam makanan dan memberikan pada Arga.
"Mie ramyun!" Kata Arga sambil menerima dari Asil.
"Iya. Ini makanan favorit sejak SMU sampai sekarang." Jawab Asil tersenyum dan menatap wajahnya.
"Oh. Ini sudah boleh di makan?" Tanya Arga pada Asil.
"Loh, iya silahkan dimakan mas. Kenapa masih tanya lagi?" Kata Asil dengan terkejut.
Arga memberi kode padaku dan ternyata kami berdua sama-sama memegang makanan itu. Aku langsung melepas dan beralih pandang mengambil minuman di meja kerja ku.
Arga hanya tertawa dan mulai memakan mienya.
Setelah selesai, Arga mengambil minuman yang masih aku pegang. Sontak aku melepas minuman itu dan berkata, "Pelan sedikit kan bisa mas."
"Jangan sering melamun, itu tidak baik." Seru mas Arga setelah minum.
"Siapa yang melamun? Aku tidak..." Jawab Asil terpotong oleh seruan Arga.
"Apa kamu kagum dengan pesonaku?" Seru Arga mendekat tepat di depan wajahku sambil tersenyum.
Seketika aku tersentak dan memerah wajah dan pipiku. Rasa panas terasa di sekujur tubuhku yang melewati hingga kepalaku.
"Tidak... Bukan itu..." Aku dengan gagap menjawab pertanyaan Arga.
Syut....
Kata Arga sambil menempelkan telunjuknya ke bibirku. Aku menurut saja tanpa berkata.
Dengan pelan Arga mendekat dan mulai mencium bibir Asil yang ranum dan manis seperti permen. Mereka melakukan ciuman antar sepasang kekasih dengan mesra.
"Bagaimana?" Tanya Arga selesai mencium Asil.
"Apanya?" Tanya balik Asil dengan bingung.
"Bagaimana rasanya?" Ulang pertanyaan Arga pada Asil dengan antusias.
__ADS_1
"Oh... Rasanya... Mie Ramyun!" Jawab Asil dengan polos dan memasang wajah imut dan lucu.
Arga seketika mendengar jawaban Asil tersenyum miring dan mengulang ciumannya pada Asil. Dan bertanya lagi, "Gimana rasanya?"
"Maksudnya mas. Masih tetap mie Ramyun." Jawab Asil dengan sama.
Arga pun tersenyum lebar dan berkata, "Terlalu polos dan jujur jawabnya." Dengan nada dingin dan meminum air putih.
"Terus aku harus jawab dengan berbohong, memang seperti itu rasanya dan baunya juga mie Ramyun." Jawab Asil dengan polos.
"Sudah, terlalu bawel akan ku cium lagi kamu." Jawab Arga dengan dingin dan sesekali tersenyum.
"Iya." Asil menjawab singkat dan membisikkan ke telinga Arga, "Tapi, enak." Sambil tertawa.
Arga yang mendengarnya seketika telinganya memerah dan berkata, "Kamu menggoda bos ganteng." Sambil menarik tangan Asil.
Eh...
"Aku tidak menggoda, hanya berkata jujur saja." Seru Asil dengan tersenyum.
"Sudah, ayo pulang. Sudah larut malam." Kata Arga mengajak Asil pulang. Mereka keluar dari toko itu dan masuk ke mobil Arga.
Saat di perjalanan, Asil merasa aneh karena jalan yang di lewati bukan jalan kerumahnya.
"Iya, kita pulang ke apartemen." Jawab Arga fokus mengendarai.
"Aku belum pamit sama bapak ibu, mas." Kata Asil.
"Sudah aku pamitin, Asil." Jawab Arga dan mulai masuk di parkiran apartemen. Asil hanya bisa terdiam dan menurut pada Arga.
Lalu mereka berdua turun dan masuk ke apartemen yang dulu pernah di tinggali mereka berdua.
Setelah masuk Asil menaruh tasnya.
"Mas, kita tidur pisah ya. Seperti dulu!" Kata Asil sambil melepas jilbabnya. Dari belakang Arga mendekap Asil dengan erat.
"Apa kamu tidak merindukan ku?" Tanya Arga dengan nada berat dan lelah.
"Ngomong apa sih mas? Tanpa perlu di tanya aku selalu merindukan mu di setiap saat." Jawab Asil dengan tersenyum memegang tangan Arga seperti mendekapnya.
"Baiklah. Tidur bersama lebih baik. Untuk meringankan beban kerinduan ini." Seru Arga melepas dekapannya dan memutar tubuh Asil menghadap ke arahnya.
"Tidak bisa mas. Kita belum..." Aku menjawab kata mas Arga sudah di cium olehnya dan berkata, "Jangan banyak bicara dan bawel. Sudah malam." Sambil tersenyum.
__ADS_1
"Huft... Oke. Aku ganti baju, basuh muka dan gosok gigi dulu." Kataku lalu membalas mencium pipi mas Arga.
"Apa kamu tidak mengajak ku?" Tanya mas Arga dengan antusias. "Aku calon suami kamu." Imbuhnya.
"Baiklah. Tunggu sebentar." Jawab ku lalu pergi ke kamar untuk mengganti pakaian ku. Dan ternyata di bathroom tidak ada sama sekali pakaian ku disana. Hanya pakaian milik dia.
Aku lupa kalau semua barang-barang ku sudah aku packing dan berada di rumah ibu dan bapak.
Ya mau bagaimana lagi, aku meminjam pakaian miliknya untuk baju ganti.
Gumam ku pelan.
"Asil..." Panggil mas Arga dengan kencang dan membuka pintu kamar.
"Oh My God."
"Mas Arga... Kan bisa ketuk pintu terlebih dulu." Kata ku sambil dengan cepat mengancingkan baju bagian atas.
"Harus menunggu berapa lama?" Tanya Arga mendekat dan memegang tanganku yang belum selesai mengancingkan baju bagian paling atas sendiri.
"Apa kamu memakai baju berkerah ini mengancingkannya sampai leher mu." Tanya Arga menarik pelan tanganku.
Sambil melihat aku menjawab, "Oh." Tertawa pelan dan kecil. "Aku lupa."
"Lupa tidak membawa pakaian kamu?" Tanya mas Arga dengan dingin dan sedikit tersenyum nakal.
"Iya..." Jawab Asil menutup dadanya dengan kedua tangannya.
Aku berjalan pelan menghindar darinya dan berlari ke kamar mandi. Mas Arga mengikuti ku dan ikut masuk. Lalu mas Arga mengambil sikat gigi dan menaruh pasta gigi itu.
Memberikannya padaku sambil berkata, "Selesaikan ini lalu istirahat." Dengan mengambil sikat gigi miliknya.
"Ah... Iya mas." Jawab ku menerima sikat gigi itu.
Setelah selesai semua, aku berjalan dengan gugup dan jantung ku sedari tadi berdetak tak karuan membuat ku bertingkah sedikit aneh dan canggung.
Kami berdua masuk ke kamar dan duduk di pinggiran ranjang dengan wajah sama-sama canggungnya.
Mas Arga memulai pembicaraan, "Tidurlah." Suruh dia sambil naik ke atas kasur.
Aku membalas dengan anggukan dan ikut naik ke atas kasur untuk merebahkan tubuhku.
"Mas..." Panggil ku pelan menatap wajahnya yang sudah menutup matanya.
__ADS_1
"Hem..." Jawab mas Arga dengan dingin.