
Setelah dari rumah sakit, Asil mengantarkan Angga pulang kerumahnya. Asil merasa ada yang aneh dengan jalan pulang ke rumah Angga.
Tanpa basa-basi Asil menanyakan sesuatu pada Angga.
"Mas Angga, apa benar ini jalan menuju ke rumah anda?" Tanya Asil dengan bingung.
"Iya, benar. Ada apa?" Kata Angga dengan santai.
"Sepertinya bukan lewat arah ini. Saya pernah ke rumah mas Angga." Seru Asil dengan was-was.
"Iya benar, Asil." Jawab Angga meyakinkan Asil.
Jawab Asil sambil mengangguk. Sekretaris Aris masih mengawasi Angga dengan sering menatap ke arah rear-vision mirror. Tidak lupa sekretaris Aris menangkap pembicaraan mereka yang terhubung dengan Arga melalui handsfree.
Setelah sampai rumah Angga, Asil tertegun melihat kondisi Angga sekarang tidak seperti yang dia kenal dulu.
"Mas Angga, apa benar ini rumahnya?" Tanya Asil dalam mobil.
"Iya benar!" Jawab Angga pelan dengan menunduk.
"Terimakasih." Ucap Angga sambil membuka pintu mobil.
"Mampirlah sebentar." Tambah Angga menutup pintu mobil sambil membungkuk.
"Terimakasih, lain kali saja. Oh ya, ini kartu nama milik saya. Kalau luang hubungi saja." Jawab Asil dengan tersenyum memberikan kartu namanya.
"Iya, baik Asil." Kata Angga tersenyum.
Flashback off.
Ponsel Arga berdering panggilan masuk dari sekretaris Aris.
Saat Asil dan Angga masuk mobil, sekretaris Aris membubarkan orang yang akan menolong Angga. Sesuai dari perintah Arga, sekretaris Aris menghubungi Arga untuk memberitahu keberadaan dan kondisi Asil.
"Maaf pak Arga, baru menghubungi anda!" Kata sekretaris Aris.
"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Arga dengan dingin.
"Sebelumnya saya meminta maaf atas keteledoran saya. Karena saya menabrak penyeberang dengan identitas seorang laki-laki yang sesuai dengan pencarian anda. Untuk keadaan nona Asil baik, pak Arga." Jawab sekretaris Aris.
"Hubungkan dengan pembicaraan mereka." Kata Arga dengan kesal.
__ADS_1
"Baik, pak Arga." Jawab sekretaris Aris lalu memakai handsfree.
Dengan geram dan kesal, Arga memanggil sekretaris Rio dan memarahinya.
"Tidak berguna sekali kamu." Bentak Arga pada sekretaris Rio.
"Kenapa bisa bedebah itu lolos dari genggamanku." Tambah Arga dengan marah dan berapi-api.
"Maaf, pak Arga. Saya sudah bekerja keras untuk mencari Angga. Namun tak tahu kemana dia kabur." Jawab sekretaris Rio dengan menunduk.
"Apa kamu tidak mau menjadi sekretaris ku?" Tanya Arga dengan sinis dan mencengkeram kerah baju sekretaris Rio.
"Maaf, Arga. Tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku adalah teman sejak kecil sampai sekarang. Aku juga tidak pernah sedikitpun untuk menghiatimu." Jelas sekretaris Rio dengan sedikit mengerutkan dahinya merasa sedikit sesak.
Arga melepas cengkeraman itu dengan kasar.
Tanpa melanjutkan perkataannya, Arga mendengar pembicaraan Asil dan Angga. Sambil berjalan mendekat dan melihat ke arah luar.
Arga bergumam, "Bedebah ini... Berani sekali dia."
"Apa bawahan mu sudah mengikuti keberadaan Asil?" Tanya Arga dengan geram dan mengepalkan tangannya.
"Sudah. Mereka mengikuti mobil yang di tumpangi nona Asil menuju ke suatu rumah yang bukan milik Angga." Jawab sekretaris Rio dengan menata kerah baju bekas cengkeraman Arga tadi.
"Baik, pak." Jawab sekretaris Rio.
Setelah meeting Arga mendapat laporan dari bawahan sekretaris Rio, bahwa Asil mengantar pulang Angga dan memberikan sebuah kartu nama milik Asil pada Angga.
"Baiklah, kerja kalian bagus. Cari lokasi dan sehari-harinya dua orang itu." Kata Arga dengan tegas.
"Baik Pak." Jawab orang di panggilan itu.
Panggilan berakhir lalu Arga mencoba menghubungi Asil. Asil menerima panggilan itu dari Arga.
"Hallo!" Seru Asil dengan suara yang khas.
"Asil, apa yang terjadi tadi?" Tanya Arga antusias.
"Kenapa ponsel milikmu tidak bisa di hubungi?" Tambah Arga dengan cemas.
"Oh... Ada sedikit masalah kecil saja. Dan... juga ponselku terjatuh. Tapi tenang saja, masih bisa di gunakan dan berfungsi. Hanya saja layarnya retak." Jawab Asil dengan rebahan.
__ADS_1
"Apa mau di kirimkan ponsel baru besok." Tanya Arga ingin membelikan Asil ponsel dengan perasaan lega.
"Tidak... Tidak... Tidak perlu. Ini masih bisa di pakai kok." Jawab Asil yang tidak mau menerimanya.
Kenapa hatiku sesenang ini, dia menghubungiku dan akan membelikan ponsel baru. Tapi tidak bisa begitu, aku harus membeli sendiri dengan uangku.
Gumam batin Asil dengan senang.
"Asil... Asil... Kamu tertidur ya?" Seru Arga memanggil Asil karena di hiraukan olehnya.
"Eh... Oh... Tidak. Aku belum tidur. Tadi mas Arga bicara apa?" Jawab Asil tersadar dari lamunannya.
Anak ini sering sekali dia melamun.
Gumam Arga di hatinya.
"Tidak sampai satu bulan, saya pulang ke Indonesia." Kata Arga memberitahu pada Asil dengan tersenyum dan tidak sabar.
"Benarkah!" Sontak Asil kaget dan terbangun dari rebahannya dan tersenyum senang.
"Iya, sekarang tidurlah." Kata Arga menyuruh Asil istirahat.
"Baik, selamat istirahat." Jawab Asil sambil tersenyum lebar.
Panggilan berakhir bersama Asil. Arga ingin sekali menanyakan sesuatu pada Asil, lalu mengurungkan. Mungkin tidak tepat buat Arga.
Keesokan hari, Asil melalui aktivitasnya setiap hari seperti biasa. Mengurus semua dokumen dan memastikan produk keluar masuk barang serta membuat produk semakin di sukai masyarakat kelas menengah bawah.
Arga pun juga melalui aktivitas yang sangat sibuk itu seperti biasanya. Waktu telah tiba dimana hari ini Arga akan kembali ke Indonesia.
Tak sabar rasanya Arga ingin segera bertemu dengan Asil. Pak Hendra juga ikut kembali ke Indonesia, pekerjaaan di kota Amsterdam Belanda sudah selesai dan berjalan dengan baik.
"Sekretaris Rio, apa kamu sudah menyiapkan semuanya?" Tanya Arga dengan wajah berseri penuh dengan kebahagiaan.
"Sudah saya siapkan semuanya Pak Arga. Apa ada lagi yang harus saya kerjakan." Tanya balik sekretaris Rio juga ikut senang. Sekretaris Rio tak sabar ingin bertemu dengan kekasihnya juga.
"Lebih baik berbelanjalah untuk kekasihmu." Jawab Arga dengan dingin dan tersenyum miring.
"Kau ini selalu seperti itu. Teman dari kecil tak pernah berubah hingga dewasa itu ya kamu, Arga." Kata sekretaris Rio sambil tertawa.
Ha... Ha...
__ADS_1
Tertawalah dua perjaka dengan senang.