Cinta Yang Dulu,Datang Kembali

Cinta Yang Dulu,Datang Kembali
Episode 7


__ADS_3

Aku langsung merebahkan tubuh ku yang lelah ini.


...*Se**pertinya ibu mau bicara apa ya? Ada yang serius*....


...Ah! Sudahlah yang penting sekarang aku tidur, besok kerja lagi. Batin ku seraya memeluk guling yang ada di sebelah....


...*Ap**a Bu Siti memberitahu kalau Asil akan di jodohkan dengan seorang laki laki tampan atau laki laki buruk rupa*?...


...Dan betapa kagetnya Asil yang akan di ******jodohkan******!...


Keesokan hari seperti biasa, aku bangun melakukan shalat lalu membantu ibu memasak.


"Bu, tadi malam ibu mau ngomong apa?" Tanya ku penasaran.


"Tunggu sebentar, ibu panggil bapak di taman belakang dulu ya." kata Bu Siti berjalan memanggil Pak Hasyim, "iya." ujar ku seraya tersenyum dan mengangguk.


"Pak, Asil mau ngomong sama kita masalah tadi malam yang gak jadi." seru Bu Siti padanya.


"Ayo masuk, Bu. Kita bicarakan sama Asil." kata Pak Hasyim berjalan masuk kedalam.


"Asil, bapak mau bicara sama kamu dan ibu." ucap Pak Hasyim pada ku.


"Iya, Pak." Jawab ku menarik kursi duduk di meja makan bersama bapak dan ibu.


"Bapak mau tanya sama kamu. Apa kamu mau di jodohkan sama anak Pak Hendra. Dia Bos bapak, Nak?" Tanya Pak Hasyim sedikit ragu.


"Gimana ya, Pak. Asil..." jawab ku sedikit ragu.


"Tidak mau, Pak." tambah ku dengan tatapan memohon.


"Asil masih ingin menyenangkan bapak sama ibu dulu. Asil pun ingin menghabiskan masa muda, Pak." lirih ku merasa ada kekecewaan.


*J**aman* sudah berkembang banyak kemajuan, kok masih ada sih perjodohan kayak gini. Apa takut anaknya tidak ada yang suka atau nikahin gitu. Batin ku dengan kesal.


"Maksudnya bapak gini, Asil. Kenalan saja dulu, tidak harus nikah, Nak." Kata Bu Siti meyakinkan Asil.


*S**ebenarnya bapak dan ibu juga tidak setuju tapi mau bagaimana lagi, kalau Pak Hendra mau menjodohkan anaknya sama kamu. Ibu dan bapak hanya bisa pasrah*. Batin Bu Siti sambil melihat wajah anaknya yang terlihat kesal dan kecewa.


"Ya sudah. Kalau begitu biar bapak bicara sama Pak Hendra kalau Asil tidak mau dan masih belum bisa menerimanya." ucap Pak Hasyim seraya tersenyum menyembunyikan kegelisahannya.


"Beneran, Pak." tanya ku yang tadinya murung ceria lagi. Pak Hasyim mengangguk dan tersenyum. Lalu Bu Siti mencium aroma seperti mencari asal bau gosong.


"Kenapa, Bu?" Tanya Pak Hasyim sedikit panik.


"Dari tadi ibu nyium bau gosong!" jawab Bu Siti segera mengecek ke dapur.


"Astaga. Tempenya gosong." seru Bu Siti kaget sambil mematikan kompor. Aku dan Pak Hasyim berlari ke dapur.


"Maaf, Bu. Tadi Asil lupa tidak matikan kompornya." ringis ku seraya memasang wajah memelas dan tertawa ambigu.


"Iya sudah tidak apa-apa. Biar ibu yang masak lagi kalian siap-siap untuk bekerja." Suruh Bu Siti sambil melanjutkan memasak.

__ADS_1


Aku segera mandi dan berganti pakaian.


Di dalam kamar aku membayangkan kalau seandainya aku menerima perjodohan ini dengan laki laki buruk rupa.


Aku tidak mau membayangkannya lagi. Dibayangkan saja sudah buruk. Batin ku bergidik.


"Tidak-tidak. Untung saja aku tidak mau walau pun dijodohkan dengan laki laki tampan pun aku juga tidak akan mau." Gumam ku menggeleng-gelengkan kepala.


Aku keluar kamar dan sarapan bersama Pak Hasyim, Bu Siti dan Adel.


"Bu, yang mau dijodohin sama Mbak Asil ganteng apa jelek?" cetus Adel tersenyum.


Ternyata sedari tadi pagi Adel sudah bangun dan akan keluar dari kamar. Ia mengurungkan niatnya, menguping pembicaraan kami bertiga di balik pintu kamar Adel.


"Tidak ganteng tidak jelek, Del. Usianya kira kira mau 40 tahun. Orangnya baik cuma kakak kamu yang tidak mau." seru Bu Siti seraya tersenyum menggoda.


"Iya, Del. Orangnya baik hati, sabar, dan mandiri." Sahut Pak Hasyim tertawa kecil.


"Ish... Bapak, Ibu, dan Adel kok gitu sih. Pokoknya aku tidak mau walaupun orangnya ganteng atau pun tidak, aku juga tidak akan mau." keluh ku kesal seraya memanyunkan bibir.


Sahut mereka bertiga dengan tertawa melihat ku. Setelah sarapan, aku berangkat kerja bersama dengan Adel yang juga berangkat ke sekolah.


Di dalam bus aku melamun.


T****eringat kata bapak dan ibu, tidak ganteng tidak jelek, usianya kira kira mau 40 tahun. Orangnya baik hati, sabar, dan mandiri, serta anak orang kaya.


Yang dijodohkan denganku pasti om-om nih.Kenapa tega banget sih bapak sama ibu. Tidak tau apa keinginan anaknya ini... Batin ku kesal.


"Eh... Oh... Tidak mikir apa-apa, Del." Jawab ku dengan tersentak gelagapan.


"Tidak usah dipikir, Mbak. Yang bapak sama ibu bicarakan masalah perjodohan tadi. Mbak Asil beneran nih tidak mau, soalnya laki laki yang mau dijodohin sama Mbak Asil ganteng banget, orangnya baik, punya perusahaan sendiri dan lagi, orangnya mandiri." jelas Adel meyakinkan.


"Kamu kok tahu, Del. Kasih tahu dong..." pinta ku dengan antusias.


"Iya tahulah tapi rahasia. Adel duluan ya, Mbak. Bye..." Jawab Adel sambil berjalan turun dari bus.


"Huft. Anak ini selalu main rahasia." gerutu ku seraya menghembuskan nafas dengan kasar.


Beberapa menit kemudian.


Aku tiba di depan kantor sambil berjalan masuk naik lift menuju ruangan ku. Di sana sudah ada Pak Arga dan Sekretaris Rio yang berdiri di depan ruang bagian keuangan.


"Selamat pagi, Pak!" Salam ku seraya mengangguk seperti memberi hormat.


Pak Arga tidak menjawab salam ku hanya memandang dengan tajam.


"Anda telat 15 menit, 7 detik." ketus Sekretaris Rio dengan nada dingin.


*O**h My God. Kok bisa sih aku ceroboh gini bisa telat karena bapak, ibu tadi ngajak aku ngobrol masalah perjodohan jadi gak sempet lihat jam*. Batin ku dengan menunduk. Aku segera meminta maaf atas keterlambatan hari ini.


Sedangkan Faris, Doni, dan Dea serta yang lain hanya diam dan semua menunduk tidak berani bicara.

__ADS_1


"Sekretaris Rio, suruh mereka berempat ke ruangan saya!" perintah Pak Arga berlalu keluar menuju ruangannya.


Sekretaris Rio tahu yang dimaksud Big Bosnya itu, "Silahkan Doni, Faris, Dea dan Asil mengikuti saya!" Suruh Sekretaris Rio.


"Iya, Pak." Jawab kami bersamaan.


Sampai di ruangan Pak Arga, mereka diam tidak berani bertanya apalagi kesalahan yang mereka buat. Kemarin mereka lembur sampai malam sekarang masih di panggil lagi ke ruangan Pak Arga.


"Kesalahan kalian tau apa?" Tanya Pak Arga tegas dan berjalan mendekat ke arah mereka.


Serentak bersamaan mereka menjawab "Tidak, Pak."


*Le**bih baik jawab tidak tahu daripada tahu malah menambah kesalahan lagi*. Batin ku.


"Kalian lupa setelah menggarap laporan harus di serah kan hari itu juga." pekik Pak Arga ketus.


"Maaf, Pak. Akan kami kirim file laporannya sekarang." Seru Doni mewakili jawaban aku, Faris, dan Dea.


*Ke**marin cuma di suruh selesaikan laporan saja kan, tidak di suruh ngumpulin atau kirim file.


Kenapa sekarang jadi kesalahan kita.


Mau apa nih orang.


Dasar kau raja hutan*.


Batin ku kesal.


"Bagus! Kirim lewat email dan berkas." ketus Pak Arga sinis pada kami.


Mereka berempat melangkah mau keluar dari ruangan. Aku baru saja melangkah beberapa langkah terhenti olehnya karena dia memanggilku.


"Asillya Putri Az-Zahra!" Panggilnya dengan tegas.


"Iya, Pak." jawab ku pelan seraya membalikkan tubuh ku.


*A**da apa lagi nih namaku di panggil*. Batin ku mulai panik.


Pak Arga berjalan mendekat ke arah ku dengan wajah dan senyum seringainya.


*T**ernyata kamu anak Pak Hasyim, supir pribadi papa yang mau dijodohkan denganku.


Lihat saja, apa yang akan ku lakukan kepadamu.


Apa kau kuat dengan ujian dan cobaan yang kuberikan kepadamu sebagai calon istri Arga Diksananda, Bos Besar Perusahaan Ritel*.


Batin Arga seraya memperlihatkan senyum seringainya.


Jangan lupa vote readers tercinta tersayang.😍😍😘😘


Klik favorit ♥️♥️♥️♥️ readers dan like yaaaa!!!

__ADS_1


Author tunggu.


__ADS_2