
Asil sungguh kaget melihat Pak Hendra ada di ruangan Arga yang ternyata... Arga itu anak Pak Hendra yang akan dijodohkan dengannya.
'Seorang CEO yang terkenal dengan... Ahh... Dengan keburukannya'
Oh My God!!! Pak Arga ini putra Pak Hendra,
terus aku akan nikah sama Pak Arga yang bengis seperti Singa Penguasa Raja Hutan ini.
Tidak, tidak bisa. Aku tidak mau dijodohkan dengan orang ini. Batin Asil sungguh tak karuan hari ini. Wajah yang hangat dan selalu tersenyum seketika berubah murung.
"Sedang apa kamu disitu, segera bersihkan kopi yang tumpah itu." titahnya dengan kasar pada Asil.
"I-iya, Pak." Dengan gelagapan Asil membersihkan kopi yang tumpah seraya mengambil pecahan cangkir dan ia taruh di nampan. 'harus hati-hati agar tidak terjadi kesalahan berkali-kali' batinnya dengan hati yang gusar dan kesal.
"Biar orang cleaning servis saja yang membersihkan." cegah Pak Hendra berdiri menghampiri nya agar berhenti membersihkan kopi yang ditumpahkannya.
"Berdirilah, Nak Asil. Tidak baik sebagai calon menantu saya melakukan hal rendahan macam ini." Tegas Pak Hendra menyindir putranya seraya membantu Asil.
Sekretaris Rio dengan sigap memanggil cleaning servis. Lalu membersihkan kopi yang tumpah di lantai.
Usai seorang cleaning servis bersihkan, Pak Hendra dengan marah, "Arga!!! Kamu tidak bisa apa tidak merendahkan orang lain." bentaknya pada putra yang selama ini dia besarkan dengan ketegasan, "Papa tidak pernah mengajarkan seorang CEO merendahkan karyawannya. Apalagi calon istrinya sendiri. Hargailah seorang dari kalangan apapun," terangnya dengan suara kesal pada Arga.
Hanya diam yang dia lakukan, 'aku tahu, Pa! Aku tak bisa membantah Papa yang telah membesarkan ku setelah Mama tiada. Aku tak suka di jodohkan dengan siapapun, malah Papa menjodohkan ku dengan karyawan yang baru masuk perusahaan ku ini!' hati Arga kesal sembari berjalan keluar dari ruangannya dan menyenggol bahu Asil dengan keras, sampai-sampai Asil hampir terjatuh.
"Aduh...." gumamnya pelan.
Lalu Sekretaris Rio menyusul atasannya, "Pak Arga, Pak Arga... Tunggu Pak, hormatilah Papa anda." Teriak Rio sembari berlari memegang lengan Arga agar berhenti.
Arga hanya diam tidak menjawab dan menghempaskan tangan Rio keras lalu menjauhinya. Hempasan itu membuat Sekretaris Rio berhenti tidak menyusul Arga. Karena di saat seperti ini lebih baik menenangkan pikiran dan perasaannya. Sekretaris Rio berjalan kembali ke ruangan Arga tanpa melihat ke belakang lagi.
*Sungguh angkuh dan k**eras kepala sekali kamu*, Ga. Dan sekeras-kerasnya kamu akan melunak pada saatnya. Batin Rio menghela nafas kasar.
Ruangan Arga.
Asil begitu heran melihat Arga yang sangat membencinya, tak bisa terbendung lagi di dua kelopak mata tak terasa air mataku mulai menetes secara perlahan.
"Apa kesalahanku sampai dia membenciku?" gumaman ini menanyakan pada diriku sendiri sehingga butiran bening yang jatuh perlahan menjadi air mata yang mengalir deras.
"Bersabarlah, Nak Asil... Sifat Arga sekeras itu berubah semenjak mamanya meninggal. Dia marah pada dirinya karena merasa bersalah pada mamanya. Sehingga dia mulai membenci setiap wanita entah karena apa? Saya tidak tahu sebabnya," jelas Pak Hendra sambil menepuk bahunya pelan yang memberikan support untuk Asillya.
Dengan mengusap air matanya, ia duduk di kursi kerjanya yang berada di ruangan Arga. Merenung karena apa yang dia lakukan selalu salah di depan atau di dekat atasannya. Merasa sakit hati itu pasti, namun ia belajar untuk menghargai Pak Hendra, 'mungkin penjelasan barusan memang benar adanya, aku harus lebih sabar lagi' senyum murung masih terlihat.
****
Sekretaris Rio datang dengan wajah piasnya, "Rio, kemana Arga pergi?" Tanya Pak Hendra menyela di depannya.
"Dia pergi ke taman dekat kantor, Pak." Jawab Rio senyum kalemnya yang khas itu tanpa tahu perasaan sedang tak karuan atau baik. Dia sangat pandai menyimpan semua rahasianya.
"Baiklah, biarkan dia merenungkan dirinya sendiri," ujarnya, "Rio, kamu lanjutkan pekerjaanmu dan Nak Asil kamu tenangkan diri kamu." sambungnya berlalu pergi.
__ADS_1
Balas Asil mengangguk menandakan "iya" sedangkan Sekretaris Rio melanjutkan pekerjaannya untuk meeting siang nanti.
"Silahkan beristirahat dulu, tenangkan pikiran anda. Saya permisi untuk mempersiapkan meeting dulu." lanjutnya berlalu pergi ke ruang meeting room.
Asil hanya mengangguk lesu. '*Aku b**enar-benar menyesal masuk di perusahaan ini dan menerima perjodohan ini*, dan ternyata calonnya adalah si sialan itu, terus aku harus gimana?
Hiks... Hiks... Hiks...
Pasrah saja. Tidak... Tidak boleh.
Apa kabur saja ya, tapi kalau kabur pergi jauh cuan (uang) aku masih sangat-sangat kurang.
Pecah tangis Asil.
Aku ingin hidupku bahagia hanya sekali saja'
Asil yang meracau serambi menangis 😕 bingung dan mencoret-coret kertas yang ada di meja kerjanya. 'Aku harus bagaimana dengan hidupku agar bahagia'
*Fl**ash Back to Arga*.
Arga duduk termenung di bangku taman, amat sangat marah dengan papanya yang ingin menjodohkan dengan Asillya yang ternyata karyawan barunya yang menyebalkan.
"Aaaaarrrgggh!!! " Arga dengan mengacak-acak rambutnya dan berdiri menendang bangku di taman. Dari kejauhan seseorang mengamati apa yang dilakukan oleh Arga.
Orang itu menghampiri Arga mendekatinya "Arga, Papa mau bicara sama kamu ini tentang pesan mamamu." cetus Pak Hendra dari arah samping dan menyuruh putranya berhenti marah serta kesal.
Arga masih tetap berdiri menatap Pak Hendra dengan wajah datarnya menahan amukan yang bergejolak di batinnya, "Papa mau bicara apa? Hah." Tanya Arga dengan menghembuskan nafas kasar, "tentang Mama! Apa pesan mama sebelum meninggal? Kenapa tidak memberitahuku?" Teriak Arga marah sampai wajah dinginnya berubah merah padam.
"Mamamu pernah berpesan pada Papa, saat itu ketika kamu sudah dewasa kamu harus menikah dengan Asillya putri Pak Hasyim. Mendiang Mamamu sangat menyayangi Asil seperti putrinya sendiri. Dia cantik, rendah hati pada semua orang." Pak Hendra menceritakan pesan mendiang istrinya yang harus di sampaikan pada putranya saat sudah dewasa dan sudah waktunya untuk menikah.
Pak Hendra meminta tolong Arga mau menikah dengan Asil agar istrinya tenang di sana.
Lalu Arga mengambil keputusan yang diambil tanpa pikir panjang karena pesan terakhir Mama itu yang ia yakin dan mengiyakan.
Pak Hendra terlihat senang, 'mungkin dengan ini Papa dan mendiang Mama bisa bahagia dan tenang, hanya satu-satunya jalan yang bisa membuatmu berubah lebih baik serta tidak sendiri' memeluk Arga dan menepuk bahunya. Lalu Arga dan Pak Hendra kembali.
*Fla**sh Back off*.
*M**eeting Room*.
Sekretaris Rio mewakili Pak Arga di ruang meeting menjelaskan pada karyawan.
"Perkembangan Perusahaan Ritel ini naik dengan sangat pesat." terang Rio lalu memberikan applause.
Struktur organisasi yang di buat Asil pun juga di jelaskan saat meeting, "pemasaran produk pada Market Place harus kita tingkatkan lagi." Sembari menunjuk pada video conference di depan Rio.
"Untuk tim bagian administrasi dan manajemen keuangan kirimkan laporannya lewat email saja." titahnya pada bagian masing-masing.
"Meeting hari ini selesai. Terimakasih atas kerjasama kalian." Seru Rio sembari mengambil ponsel dan laptopnya.
__ADS_1
Para karyawan selesai meeting undur diri keluar dari ruangan. Saat para karyawan keluar berpapasan dengan Pak Hendra dan Arga yang akan masuk ke ruang meeting. Secara bersamaan memberikan bow, "Selamat siang, Pak." Sapa para karyawan.
"Siang juga." Jawab Pak Hendra ramah dan Arga hanya diam berlalu masuk duduk di kursi utama ruang meeting.
Pak Hendra segera menyusul masuk dan duduk di sebelah Arga, "pekan depan kita adakan acara pertemuan kecil di rumah Asillya sambil menunggu Pak Hasyim pulang dari luar kota, kamu urus semua keperluannya, Rio." Suruh Pak Hendra menegaskan pada Rio.
"Baik, Pak." Jawab Rio mengangguk.
Lalu Pak Hendra, Arga, dan Rio melanjutkan percakapan bisnis sambil menunggu klien.
Ruang CEO ( Arga ).
Asil dengan wajah 😕 bingungnya mengambil ponsel menghubungi Novi dan Dea untuk makan siang bersama. 'sangat dan sangat buruk hari ini' gumam di hatinya yang tidak betah berada di ruangan itu. Asil berjalan menuju cafe, di sana sudah ada Novi yang duduk di tengah-tengah cafe dan Dea, Faris, Doni duduk di dekat pintu keluar karena sudah janjian sebelum pertemuan para karyawan yang gokil.
Asil menghampiri Dea untuk berpindah ke meja Novi, "Mbak Dea, ikut aku sebentar!" pinta Asil seraya menarik lengan Dea.
"Kamu lagi kenapa sih, tidak seperti biasanya?" Tanya Dea penasaran.
"Aku juga boleh ikut pindah, Asil?" tanya Doni menggoda.
"Ini urusan para kaum hawa, Pak." Sewot Asil dengan lirikan tajam dan tidak enak.
"Kamu mau jadi kaum hawa juga, Bro." sahut Faris tertawa.
"Ngawur kamu." Jawab Doni menyenggol lengan temannya.
"Sudahlah... Makan saja dulu, gak usah ikut para kaum hawa yang kadang lagi mendung, yang terkadang terang bersinar." Seru Faris sembari menyuapkan sesendok makanan.
"Kamu tahu aja ya, mood para kaum hawa." sahut Doni seraya tertawa pias.
Asil dan Dea sudah menjauh dari meja kedua cowok gokil, lalu mereka berdua duduk di mejanya Novi, "kamu sudah pesan makanan, Asil?" Tanya Dea bersebelahan dengan Novi.
"Aku lagi males makan..." lirihnya sedih dan prihatin.
"Kamu kenapa Asil wajahmu terlihat sedih gitu?" Tanya Novi antusias tak rela sahabatnya ini sedih dan sakit.
"Apa karena kamu beneran mau nikah sama...?"
Reaksi Dea seperti apakah ini?
...😭😭😭😭
Klik like setiap bab ya readers.
Semoga cerita Author menjadi favorit ♥️ ♥️♥️♥️ para readers ya Hiks... Hiks... Hiks...
Dan jangan lupa komentar para readers.
Karena komentar para readers sangat berharga buat Author lebih semangat buat melanjutkan cerita " Cinta Yang Dulu Datang Kembali."
__ADS_1
Sarangheo 💕💕💕💕