
"Saya sudah menjelaskan pada bapak kan. Kenapa lagi? Apa salah saya lagi, Pak?" Jawab Asil kesal dan wajah merahnya.
"Jelaskan semuanya atau kamu mau saya hukum." Tanya Arga menjauh dari Asil, duduk di sofa ruang tamu.
"Pria ini teman kamu?" Tanya Arga dengan melempar foto ke atas meja, tepat di hadapan Arga.
Asil mendekatkan diri dan mengambil foto tersebut. Melihatnya tanpa berkata apa-apa, dan mengingat kembali saat Asil sedang berbelanja dan bertemu Angga di supermarket.
"Iya, dia teman saya pak." Jawab Asil dengan menatap ke arah Arga.
"Apa kamu lupa dengan persyaratan kita. Hah?" Arga membentak Asil, meluapkan segala emosi dan kecemburuan yang di tahannya.
"Tidak. Karena itu persyaratan dalam pernikahan tidak di dasari oleh cinta dan suka." Kata Asil dengan kesal pada Arga.
"Maksud kamu?" Tanya Arga berjalan mendekatkan tubuhnya ke Asil dengan tatapan tajam. Asil diam membisu dan menggigit bibir bawahnya, dalam hati Asil sangat takut dengan murkanya Arga padanya.
"Untuk apa aku mau menerima perjodohan denganmu? Untuk apa aku mau menikah denganmu?" Kata Arga dengan menatap tajam dan kesal pada Asil dan mencengkeram kedua bahu Asil.
"Apa kamu tahu semuanya. Hah?"
Semakin Arga marah, Asil semakin diam membisu tanpa bicara satu kata pun dan menggigit bibir bawahnya sampai berdarah. Tak terasa air yang membendung di kedua mata Asil jatuh dengan perlahan.
Bagaimana bisa, aku menyukai seorang pria yang begitu kejam padaku. Ini bukan masalah besar, hanya masalah kecil yang seujung kuku. Yang bisa di bicarakan dengan baik-baik. Aku tidak pernah sedikitpun untuk pergi atau bermain di belakangmu. Aku menyukaimu tapi aku takut dengan pernyataan ku. Aku takut melukai hatiku sendiri kalau kamu menyukaiku hanya sesaat.
Gumam di batin Asil, ia dengan memegang dadanya yang terasa sakit seperti di hantam oleh benda berat. Asil yang masih menatap kedua mata Arga sesegera menundukkan wajahnya.
"Jawab. Kamu tahu semuanya itu?" Kata Arga dengan tegas, yang mendekatkan wajah dan bibirnya di telinga Asil. Membisikkan kata-kata yang menyentuh hati Asil. Agar tahu perasaan sesungguhnya pada Asil.
"Kamu tidak bisa menjawab atau tidak tahu. Hah?" Tanya Arga dengan tegas dan keras.
Desahan Asil merasa sakit di bahunya karena Arga masih mencengkeram kedua bahu Asil, Arga melepas cengkeraman itu dan sedikit menjauh dari tubuh Asil.
"Apa kamu ingin aku memberi tahukan semuanya?" Kata Arga menjauh dari Asil dan kembali duduk di sofa.
__ADS_1
"Akan aku jelaskan semuanya. Duduklah di sini." Pinta Arga pada Asil untuk duduk disebelahnya sambil menepuk sofa sebelah kanan Arga.
"I-iya Pak." Kata Asil mendekat, duduk di sebelah Arga dan menghadap ke arahnya.
"Untuk apa aku menerima perjodohan dan pernikahan yang akan dilaksanakan kurang lebih 1 tahun yang akan datang."
"Untuk melindungimu, menjagamu, membahagiakanmu. Apa perasaan ini masih kurang jelas?" tanya Arga pada Asil yang mengusap air mata yang jatuh di pipi Asil.
"Tidak." Jawab Asil pelan.
Aku takut cinta ini hanya sementara karena perjodohan. Batin Asil berbicara dalam hati.
"Apa kamu butuh sebuah penjelasan yang lebih. Kamu ingin apa dariku." Tanya Arga dengan hangat pada Asil.
"Aku ingin....." Jawaban Asil yang belum selesai, terpotong oleh kedatangan Sekretaris Rio yang membuka pintu dengan keras dan napas terengah-engah.
"Pak Arga. Apa yang terjadi dengan anda dan nona Asil?" Tanya Sekretaris Rio yang memandang kedua orang yang sedang duduk itu.
Asil dengan sigap menoleh ke arah Sekretaris Rio. Sedangkan Arga sedikit geram pada Sekretarisnya itu.
"Baik Pak." Jawab Rio yang hendak pergi dari kamar apartemen Arga dan Asil.
"Tidak perlu delivery, Pak Rio. Biar saya yang memasak untuk makan malam pak Arga." Kata Asil sedikit menjauh dari duduknya.
Sekretaris Rio memandang ke arah Arga dan belum menjawab, menunggu jawaban dari bos besarnya.
Arga mengangguk pelan menandakan "Iya" pada Sekretaris Rio. Ia lalu pamit untuk kembali ke kamar apartemennya.
"Baik pak, saya permisi dulu." Kata Sekretaris Rio menutup pintu.
Asil berlalu pergi ke dapur untuk memasak makan malam tanpa melanjutkan satu katapun dari mulutnya. Arga hanya melihat punggung Asil menjauh lali melihat kedua tangannya.
Kenapa aku bisa mencengkeram bahu Asil dengan keras. Sampai desahan dari mulut Asil terdengar begitu sangat sakit sehingga aku mendengarnya langsung melepaskan kedua tanganku sendiri. Gumam dalam hati Arga.
__ADS_1
Selesai makan aku akan melihat bekas cengkeraman tanganku di bahunya. Gumam Arga pelan sambil menunggu Asil selesai memasak.
...****...
Sekretaris Rio kembali dengan rasa was-was.
"Tadi itu jelas-jelas mereka sedang bertengkar. Saat amarahnya meluap akan melukai orang yang membuatnya Arga marah. Tapi aku datang melihatnya kenapa mereka duduk berdua tanpa ada apa-apa di antara mereka." Kata Sekretaris Rio pelan. Ia melanjutkan istirahat dan tidur.
Karena besok pagi Sekretaris Rio pergi keluar kota untuk urusan kantor.
Pagi hari itu tidak seperti biasanya, hujan rintik-rintik mengguyur jalanan. Asil yang masih terlelap dalam tidurnya terbangun karena Arga membangunkan Asil.
"Hei, putri tidur. Mau sampai jam berapa kamu tidur terus?" seru Arga yang sudah duduk di tepi ranjang.
"Hoaaaaam." Asil menguap lalu membenarkan tubuhnya untuk duduk.
"Ini masih pagi sekali. Kenapa bapak sudah disini?" Tanya Asil masih memejamkan kedua matanya.
"Ini jam 8. Kamu mau libur kerja." Kata Arga sedikit tersenyum dan memandang wajah Asil.
"Benarkah." Tersentak kaget Asil yang membulatkan kedua matanya dan beranjak pergi ke kamar mandi sambil berlari.
"Dasar putri tidur. Seenaknya sendiri masuk kerja, apa perusahaan ini milik nenek moyangmu." Tawa Arga melihat Asil yang kelabakan pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Asil masih memakai handuk keluar dari kamar mandi. Melihat Arga yang masih duduk di kasur dengan segera Asil kembali lagi masuk ke kamar mandi dan menutup pintu yang terdengar oleh telinga Arga.
Kenapa Arga masih di kamar Asil ya?
Ada kejadian apa nih?
Penasaran....
Lanjut ke cerita ya....
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan klik favorit kalian para Readers tercinta๐๐๐ dan tersayang.
Dengan dukungan kalian, Author lebih semangat untuk berkarya.