Cinta Yang Dulu,Datang Kembali

Cinta Yang Dulu,Datang Kembali
Eps 64


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, Arga dan pak Hendra bersiap berangkat ke bandara bersama sekretaris Rio.


Keberangkatan mereka sangat pagi yang membutuhkan waktu sekitar 15 jam. Saat berada di pesawat Arga sedikit tidak tenang. Lalu sekretaris Rio memberikan segelas air putih padanya.


"Arga, minumlah. Agar menghilangkan rasa resahmu." Kata sekretaris Rio sambil tersenyum lebar.


Tanpa menjawab Arga meminum air putih itu. Lalu menyerahkan gelas itu pada sekretarisnya yang duduk di sampingnya.


"Ga, apa kamu sudah memberitahu pada Asil kalau kamu akan kembali ke Indonesia?" Tanya pak Hendra pada Arga.


"Sudah!" Jawab Arga sambil melihat pemandangan dari atas.


"Kenapa kamu secemas itu kalau sudah memberitahunya?" Tanya lagi pak Hendra sambil tersenyum.


"Aku tidak cemas pa, hanya saja..." Jawab Arga yang tidak melanjutkan kata-katanya.


"Hanya saja apa?" Kata pak Hendra dari depan tempat duduk Arga.


Arga tidak menjawab pertanyaan Paka Hendra dan menghiraukannya. Dipikiran Arga hanya ada satu rasa cemas dan khawatir pada Asil yang dekat lagi dengan Angga.


Semoga tidak ada kejadian yang terulang kembali.


Gumam di hati Arga yang mengingat Angga dan Clarissa sudah kabur dan lepas dari genggamannya.


Flashback Asil


Hari ini Asil pergi ke tempat perusahaan Arga untuk mengambil beberapa berkas yang dikirimkan ke Asil sebagai kerja sama atau bantuan bagi toko Asil.


Saat tiba di sana, Asil segera naik ke ruang Arga. Lalu Asil masuk ke ruang Arga, dia mendapati sebuah berkas di atas meja kerja Arga dan laci di meja itu terbuka.


Tanpa rasa penasaran Asil menutup laci itu seperti semula dan terjatuh secarik kertas bertuliskan " *****Aku akan membunuh Asil***** " dengan warna merah seperti darah.


Asil membacanya dengan gemetar dan menaruh kembali pada laci itu. Lalu Asil dengan tergesa keluar dari ruangan Arga dan membawa berkas yang sudah disiapkan oleh asisten Arga.


Saat Asil berjalan dengan cepat, asisten itu sempat bertanya padanya. Namun Asil hanya menjawab tidak apa-apa.

__ADS_1


Asil segera masuk ke mobil dengan napas tersengal-sengal.


"Apa yang terjadi Bu Asil?" Tanya sekretaris Aris sambil melihat dari rear-vision mirror.


"Tidak... Tidak apa... Apa! Jawab Asil dengan napas tidak beraturan. Sekretaris Aris hanya mengangguk tanpa bertanya lagi dan Asil menyuruh kembali ke kantornya.


Tiba di depan toko Asil langsung turun dari mobil menuju ke ruang kerjanya. Dia duduk setelah menaruh berkas itu.


Di pikiran Asil siapa yang akan membunuhnya.


Rasa cemas khawatir pada dirinya membuatnya gemetar takut. Sekretaris Aris yang mulai curiga mengikuti Asil dan mengetuk pintunya.


"Maaf Bu Asil. Apa yang terjadi di kantor pak Arga?" Tanya sekretaris Aris dengan khawatir.


"Tidak ada apa-apa, Ris!" Jawab Asil mengalihkan topik pembicaraan.


"Kalau ada sesuatu yang membuat Bu Asil cemas silahkan panggil saya." Kata sekretaris Aris yang melihat tangan Asil gemetar.


"Iya." Jawab Asil sambil membuka berkas itu.


"Apa sekretaris Rio masih di pesawat?" Gumam pelan sekretaris Aris yang terdengar oleh Dea.


"Maaf, sekretaris Aris anda bergumam apa? Saya mendengarnya." Sahut Dea dari belakang sekretaris Aris sambil tersenyum dan mengangkat satu alisnya.


"Oh. Apa anda tahu sekretaris Rio tidak bisa di hubungi?" Tanya sekretaris Aris pada Dea.


"Tahu. Dia kan sedang di dalam pesawat dan akan mendarat nanti malam." Jawab Dea lalu mengetuk pintu ruang Asil.


Dea mengetuk pintu berulang kali tanpa ada sahutan dari dalam. Sekretaris Aris pun mulai curiga dan khawatir sedangkan Dea menanyakan apa ada sesuatu yang terjadi dan sekretaris Aris tidak mengetahuinya.


Tanpa berpikir panjang Dea sekretaris Aris masuk dan melihat Asil sudah ketakutan yang duduk bersimpuh di dekat mejanya sambil menangis dan mencengkeram roknya.


"Asil..." Teriak Dea sambil berlari mendekat.


"Apa yang terjadi?" Tanya Dea memeluk Asil.

__ADS_1


Asil hanya menggelengkan kepala dan ketakutan. Sekretaris Aris mencoba menenangkan pikiran Asil dan melihat kertas yang berserakan dan bertuliskan mengancam Asil.


Sekretaris Aris memungut semua kertas itu dan membacanya.


"JANGAN MEREBUT DARIKU."


"NYAWAMU SEKARANG TERANCAM."


"AKU AKAN MEMBUNUHMU."


"DENGAN TANGANKU SENDIRI."


"JANGAN PERNAH MEREBUT DARIKU."


"ENYAHLAH DARI ARGA DAN KEHIDUPANKU."


Sekretaris Aris melihat itu sangat kesal melihat Bu Asil yang di ancam seperti. Dalam pikiran sekretaris Aris itu sudah pasti ulah dari Clarissa yang kabur dari genggaman pak Arga. Sekretaris Aris segera keluar dan memerintahkan bawahan sekretaris Rio untuk segera mencari informasi dan menangkap Clarisa dan Angga.


Dea pun terus menenangkan Asil.


"Asil, tidak apa-apa. Ada banyak orang yang akan melindungi mu." Kata Dea memeluk erat Asil


"Aku... Takut... Terjadi lagi." Jawab Asil dengan suara serak dan tangisannya.


"Sudah, tidak apa-apa. Apa kamu tahu, nanti aku akan memberikan surprise padamu dan Novi. Nanti malam kita makan di kedai favorit ya." Kata Dea sambil tersenyum dan mengusap airmata yang jatuh di pipi Asil.


"**Iya, mbak Dea." Jawab Asil lirih dan di bantu berdiri oleh Dea.


"Mbak..." Seru Asil.


"Iya ada apa?" Jawab Dea.


"Nanti malam surprise nya apa?" Tanya Asil sambil tersenyum.


"Sebenernya kamu ini masih takut apa nggak sih? Yang namanya surprise itu ya rahasia." Jawab Dea dengan kesal.

__ADS_1


Lalu Asil tertawa kecil**.


__ADS_2