
Ah...
Benar-benar sakit kepalaku...
Kata Asil sambil memegang kepalanya.
"Siapa dia itu?" Gumam Asil yang sekilas terlihat wajah samar Arga.
"Apa aku pernah mengenalnya?" Gumam Asil.
Lalu Asil keluar kamar dan pergi ke dapur untuk minum.
Di ruang tengah pak Hasyim, Bu Siti, dan Adel melihat Asil keluar dari kamar dengan senteoran.
"Bu, lihat Asil kenapa dia. Ibu samperin sana, segera bu!" Suruh pak Hasyim khawatir.
"Iya, Pak!" Jawab Bu Siti yang menghampiri Asil.
"Asil..." Panggil Bu Siti dari belakang tubuh Asil.
Argh...
Teriak Asil kaget dan gelas yang sudah di minum jatuh dari tangan Asil.
"Awas, mbak!" Teriak Adel menarik tubuh Asil ke samping.
Ha...
Ha...
Ha...
Dengan napas terengah-engah, Asil seketika tubuhnya lemas tak berdaya karena kaget. Lamunannya membuat ia teringat saat kejadian kecelakaan itu.
Lalu Asil duduk bersimpuh dekat meja makan.
"Kenapa ini... Ada apa ini..." Kata Asil lirih mulai terisak-isak akan menangis.
"Mbak Asil... Mbak Asil gak papa kan?" Tanya Adel yang ikut bersimpuh di dekat Asil.
"Nak... Asil... Kamu baik-baik saja kan. Ceritakan pada ibu kenapa? Apa kamu sedikit mengingat sesuatu?" Tanya Bu Siti khawatir dan mengusap rambut Asil.
"Apa yang... Terjadi? Aku mengingat... Mengingat kecelakaan... Hari itu." Jawab Asil sambil menangis histeris.
"Lupakan... Lupakan saja nak. Suatu saat akan mengingat semua dengan perlahan." Kata Bu Siti menghibur.
"Ada apa Bu? Apa yang terjadi pada asil?" Tanya pak Hasyim yang menghampiri mereka bertiga.
Melihat Asil menangis, pak Hasyim tidak sanggup dan menyuruh Bu Siti dan Adel mengantarkan Asil ke kamarnya.
Sampai kamar, Asil duduk termenung dengan wajah pucat.
"Nak, buat istirahat saja dulu!" Suruh pak Hasyim yang mengikuti mereka bertiga dari belakang.
"Mau ibu temani nak?" Tanya Bu Siti.
__ADS_1
"Iya, Bu." Jawab Asil lirih.
"Adel, ibu minta tolong bersihkan gelas yang pecah tadi ya nak." Kata Bu Siti menyuruh Adel.
"Iya, bu." Jawab Adel mengangguk.
Asil membaringkan tubuhnya di ranjang dengan wajah pucat, entah apa yang dirasakannya saat ini dengan keringat dingin serta bekas air mata di pipinya.
"Bu, kita bantu Asil pelan-pelan ya dan jangan khawatir itu pesan dari dokter. Jadi kita harus optimis ya." Kata pak Hasyim membisikkan di telinga Bu Siti.
"Iya, pak. Bapak istirahat saja besok bapak akan ke rumah utama pak Hendra kan." Jawab Bu Siti pelan.
"Iya, Bu. Selamat beristirahat juga." Kata pak Hasyim tersenyum lalu keluar pintu kamar Asil.
Hari demi hari berlalu, Asil mulai mengingat sedikit memori tentangnya. Dokter pribadi yang setiap hari mengecek kondisi Asil yang berangsur membaik, ia mulai merasa jenuh di rumah saja dan berinisiatif kembali bekerja.
Asil meminta ijin pada Bu Siti dan pak Hasyim untuk bekerja.
"Bu, pak. Asil mau kembali bekerja apa boleh?" Tanya Asil berharap di perbolehkan.
"Mau kerja. Kerja dimana?" Tanya pak Hasyim pada Asil di ruang keluarga yang saat itu sedang bersantai bersama.
"Ehm... Di perusahaan besar ritel pak." Kata Asil sambil tersenyum.
"Oh... Di tempat kerja Novi dan Dea ya." Sahut Bu Siti.
"Iya, Bu. Boleh ya... Aku kangen sama mereka pengen kerja sama mereka juga." Kata Asil memelas.
"Boleh." Jawab Bu Siti dan pak Hasyim bersamaan.
"Loh. Ngapain ngelamar pekerjaan lagi. Kan kamu belum resign nak." Seru Bu Siti yang membuat Asil berhenti dan membalikkan tubuhnya.
"Seingat ku sudah deh Bu." Jawab Asil sambil mengingat kembali.
"Jangan sekarang nak. Nanti bapak cari informasi dulu ke teman bapak yang juga kerja di perusahaan besar ritel itu." Kata pak Hasyim melarang Asil.
"Tidak usah pak. Biar aku tanya saja ke mbak Dea atau Novi." Jawab Asil tersenyum.
"Jangan nak..." Larang pak Hasyim lalu pergi ke taman belakang.
"Iya, pak." Jawab Asil pelan dan lesu.
Asil dan Bu Siti mulai menonton tv bersama sambil berbincang-bincang.
**Flashback Pak Hasyim.
Tut... Tut... Tut...
"Halo, nak Arga sedang sibuk?" Tanya pak Hasyim dari ponselnya.
"Tidak, pak. Apa Asil tidak apa-apa, sudah membaik?" Tanya Arga antusias.
"Baik, nak Arga. Ini... Asil mau bekerja di perusahaan kamu." Kata pak Hasyim dengan pelan agar Asil tidak mendengar pembicaraannya dengan Arga ketahuan.
"Suruh menghubungi saya sendiri, pak!" Kata Arga pada pak Hasyim dengan tersenyum dari seberang.
__ADS_1
"Nanti akan di kirim pesan oleh sekretaris saya nomor yang baru." Tambah Arga.
"Iya sudah kalau begitu. Bapak tutup telfonnya." Kata pak Hasyim mengakhiri panggilan.
"Iya, pak!" Jawab Arga juga mengakhiri panggilan.
Flashback off.
"Bu, bapak punya orang dalam di perusahaan itu?" Tanya Asil penasaran.
"Sepertinya iya, sil." Jawab Bu Siti.
"Oh..." Seru Asil pelan dan acuh.
Tak lama kemudian pak Hasyim datang dan memberikan nomor ponsel dari ponsel pak Hasyim.
"Asil, ini nomor teman bapak di perusahaan itu." Kata pak Hasyim menyerahkan ponselnya pada Asil. Asil menerima ponsel pak Hasyim dan memindahkan ke ponselnya.
"Teman bapak bilang kamu di suruh menghubunginya sendiri." Imbuh pak Hasyim sambil duduk di samping Bu Siti.
"Baiklah, pak. Kalau begitu apa aku bisa menghubunginya sekarang?" Tanya Asil dengan melihat nomor ponsel itu.
"Iya... Sil. Langsung menghubunginya lebih baik." Jawab pak Hasyim tersenyum.
"Aku pergi ke taman belakang ya pak bu." Kata Asil beranjak pergi ke taman dengan wajah bahagia.
Asil tidak tahu teman pak Hasyim itu siapa. Dengan wajah bahagianya ia berharap bisa kembali bekerja seperti dulu dan bertemu dengan Dea Novi.
"Bentar... Ini nomor luar negeri kan. Kalau aku menelpon pasti biayanya banyak." Gumam Asil yang sudah sampai taman belakang rumah.
"Bapak...." Teriak Asil dengan kencang sampai terdengar di dalam rumah.
Pak Hasyim dan Bu Siti mendengar suara teriakan Asil segera pergi ke taman.
"Ada apa sil?" Tanya pak Hasyim khawatir.
"Apa yang terjadi, kamu tidak apa-apa?" Tanya Bu Siti sambil melihat tubuh Asil.
"He-he-he..." Tawa Asil pelan.
"Tidak terjadi apa-apa!" Jawab Asil dengan tersenyum.
"Pak kalau Asil menghubungi teman bapak, biayanya tagihannya banyak pak." Seru Asil.
"Tidak apa-apa sil, nanti bapak yang bayar tagihannya." Jawab pak Hasyim.
"Kamu ini bikin khawatir semua orang. Ibu pikir kamu kenapa?" Kata Bu Siti sedikit kesal.
"Hanya ada perlu sedikit saja?" Jawab Asil dengan tersenyum.
"Sudah hubungi teman bapak, dia menunggu panggilan kamu." Seru pak Hasyim beranjak masuk ke rumah.
"Teman bapakmu ini orangnya sibuk jadi tidak banyak waktu menunggu." Tambah Bu Siti sambil tersenyum.
"Iya, pak bu." Jawab Asil.
__ADS_1