
Tangan Asil langsung menggenggam erat baju Arga " Saya sangat.... Takut...." kata Asil menangis histeris.
" Jangan menangis lagi, saya akan menjagamu." kata Arga menenangkan Asil lalu memeluk dan mengelus rambut Asil.
( Seperti anak kucing πΏyang kehilangan induknya ).
Kata Author.
" Tenangkan dirimu saja dan jangan lanjutkan cerita kamu." kata Arga dingin.
" Tidak Pak, saya harus menceritakan ini semua. Saya merasa tidak bisa menahan beban kejadian ini." Asil bersih keras untuk tetap menceritakan kejadian itu.
" Iya baiklah. Jangan menangis lagi dan ceritakan semua." kata Arga lembut walau dalam batinnya Arga sangat marah pada orang yang telah menusuk mamanya.
Flash back to Mama Arga.
Asil dan Tante Jihan berada di rumah Pak Hendra. Mereka sedang bermain di taman belakang. Ada seorang laki-laki yang bertamu ke rumah Tante Jihan.
" Asil tunggulah Tante disini ya, sayang." kata Tante Jihan.
" Iya Tante." jawab Asil.
Lalu Tante Jihan menemui laki-laki itu. Mereka berbincang-bincang dengan serius.
Mulailah perdebatan antara Tante Jihan dan laki-laki itu.
Asil melihat semua kejadian itu berteriak memanggil " Tante Jihan " dengan kencang dan berlari mendekat ke Tante Jihan.
Seorang laki-laki itu mendekatkan barang tajam itu ke depan muka Asil " Rahasiakan ini semua kalau kamu ingin selamat."
Laki-laki itu berlalu pergi.
" Tante sadarlah, ku mohon." kata Asil sambil menangis.
" Asil .... mau .... berjanji pada ..... Tante." kata Tante Jihan dengan terbata-bata menahan sakit.
" Iya Tante, apa ?" tanya Asil. Hiks
" Jadilah ..... bagian ..... keluarga ini." kata Tante Jihan.
Asil belum menjawab pak Hendra datang dengan berlari melihat istrinya yang tergeletak di lantai dengan bercucuran darah.
Pak Hendra segera membawa ke rumah sakit.
Asil pun juga ikut ke rumah sakit bersama pak Hasyim.
Beberapa menit....
Bu Jihan berada di ruang gawat darurat.
Asil yang masih menangis " Pak, apa Tante Jihan bisa selamat ?" tanya pada Pak Hasyim.
" Iya nak, Tante pasti akan selamat dan segera sehat." jawab Pak Hasyim menenangkan.
Arga berlari dan menanyakan pada papanya.
" Ini kenapa pa ?" tanya Arga yang mulai meneteskan air matanya.
" Tidak ada apa-apa Arga. Mama hanya harus dirawat karena penyakitnya." jawab Pak Hendra menutupi semua kejadian yang menimpa istrinya.
Flash back off.
__ADS_1
Asil yang sedari tadi bercerita tersadar dari pelukan Arga. Lalu melepas pelukan itu.
" Saya sedikit lega telah bercerita pada anda." kata Asil yang mengusap air matanya.
" Apa bapak tidak apa-apa ?" tanya Asil.
" Tidak, saya hanya ingin tau jawaban kamu untuk mama saya." kata Arga melepas pelukannya.
" Apa harus sekarang ?" tanya Asil lagi.
" Hm." Arga mengangguk menandakan " Iya."
" Lain waktu saja ya, Pak." pinta Asil.
" Baiklah. Apa masih terasa pusing ?" tanya Arga.
" Sedikit Pak." jawab Asil dengan wajah pias dan pucat.
" Istirahatlah." kata Arga lalu pergi dari kamar.
Asil tak kunjung istirahat, melihat ponselnya pesan masuk dan panggilan tak terjawab beberapa kali dari Dea dan Novi.
" Oh My God. Novi sama Mbak Dea udah di depan pintu apartemen." gumam Asil berlari keluar untuk membuka pintu.
Arga melihat Asil yang berlari π bingung " Katanya sedikit pusing, kok bisa lari sekencang itu !" kata Arga sambil mengikuti di belakang Asil.
Click ......
" Mbak Dea, Novi dan ..... Sekretaris Rio." seru Asil kaget melihat wajah mereka berdua sedang kesal dan wajah Sekretaris Rio yang tetap dingin.
" Masuklah !!!! " suruh Arga masuk.
" Barusan, cepat suruh teman kamu masuk." kata Arga.
" Silahkan masuk semua." suruh Asil masuk.
Mereka duduk di ruang tengah di ikuti Arga dan Sekretaris Rio.
Asil, Dea dan Novi melihat Arga dan Sekretarisnya yang ikut duduk seperti ingin menginterogasi.
" Kenapa semua melihat ke arah sini ?" tanya Sekretaris Rio dengan tegas.
" Apa para lelaki ingin ikut per GHIBAH an ? tanya Dea dengan ketus.
" Ternyata bawahan berani dengan atasan ya !!! " jawab Sekretaris Rio dengan wajah kesal.
" Sudahlah, jangan seperti ini. Saya merasa pusingnya bertambah." kata Asil yang melerai peraduan Dea dan Rio sambil memijat dahinya.
" Asil bawalah teman kamu ke kamar. Sekalian beristirahat dan rebahkan tubuhmu." kata Arga yang melihat Asil memijat dahinya.
" Baik, Pak." Asil mengajak Dea dan Novi ke kamar.
Novi duduk di kursi samping ranjang, Dea duduk di hadapan Asil dan Asil bersandar di tempat tidur.
" Bagaimana keadaanmu, Asil ?" tanya Dea.
" Sudah mulai membaik, mbak Dea." jawab Asil.
" Aku bawa makanan kesukaan kamu, Asil." imbuh Novi.
" Tapi tidak semua yang aku bawa, hanya sebagian saja." kata Novi.
__ADS_1
" Terimakasih ya. " Asil
Kemudian mereka bertiga berbincang-bincang dan bercanda.
Di ruang tengah Arga dan Sekretaris Rio berbincang masalah mama Arga meninggal karena penyakit atau pembunuhan.
Arga menyuruh untuk menyelidiki kasus ini.
" Kenapa papa bisa menyembunyikan kejadian ini semua." Arga heran dengan sikap papanya.
" Menunggu waktu yang tepat, Arga." jawab Rio.
" Yang bercerita ini Asil dan membuat beban Asil, Rio. Dia di ancam tidak boleh melaporkan kejadian ini mengakibatkan Asil menderita sampai mempunyai sakit Demam Psikogenik." jelas Arga dengan wajah kesal dan marah.
Arga mulai mengepalkan tangannya marah pada papanya dan pak Hasyim.
Rio melihat Arga yang begitu marah segera meredamkan emosi Arga " Sudah, Arga. Jangan kamu marah disini. Ingatlah Asil masih sakit."
" Aku tahu, Rio. Tapi kenapa semua merahasiakan ini semua sampai-sampai aku tidak boleh tahu kejadian ini." seru Arga menitikkan air matanya mengingat mamanya.
Malam pun tiba....
Asil merasa lapar karena siang tadi belum makan.
" Kita makan malam disini ya. Maaf kemarin tidak bisa datang karena akunya mendadak sakit." kata Asil memegang tangan Novi dan Dea.
" It's oke. Tapi apa boleh kita makan malam disini ?" tanya Dea.
" Aku yang ngomong sama pak Arga dulu ya." jawab Asil.
Lalu Asil pergi menghampiri Arga.
Arga masih di ruang tengah dengan melihat laptopnya.
" Pak, saya merasa lapar. Apa boleh teman saya juga ikut makan malam disini ?" tanya Asil dengan canggung dan mendekat ke Arga.
" Langsung to the points ya kalau meminta." jawab Arga dengan tersenyum.
" Apa tidak boleh seperti itu ?"
" Apa saya harus merengek seperti anak kecil ?"
" Seperti ini, boleh ya .... bolehkan ....."kata Asil mempraktekkan seperti anak kecil.
Arga seketika tertawa " Baiklah. Akan saya pesankan makanan untuk makan malam." dengan mengambil ponsel dan menghubungi restauran miliknya.
" Saya ingin menu utama yang spesial untuk di kirim ke apartemen saya, SE-KA-RANG ." perintah dari sang pemilik.
Jangan lupa vote, klik favoritβ₯οΈβ₯οΈβ₯οΈβ₯οΈ, like, komentar, populerkan agar banyak yang read yaaa.....
Love you para readers β₯οΈβ₯οΈβ₯οΈβ₯οΈππππ
#ayo support author...
#salam semangat...
#para readers....
#ππππ....
#.πππππ...
__ADS_1