
Lalu Arga menutup telepon seluler.
" Bapak sangat dingin dan tegas pada semua orang ya." kata Asil berbicara di telinga Arga dan berlari kembali ke kamarnya.
Arga tersentak kaget begitu beraninya Asil mulai bersikap aneh pada Arga.
Di dalam kamar Novi dan Dea menunggu kabar dari Asil. " Bagaimana, bolehkah." tanya Novi.a
" Hem ..... Boleh." kata Asil tertawa kecil.
" Apakah kita sudah siap untuk memulai makan malamnya ?" tanya Novi.
" Tunggulah sebentar saja, Nov." kata Asil sambil tersenyum.
" Oke. Siap." jawab Novi.
Dea yang sedari tadi melihat Asil yang sering tersenyum bahagia merasa bingung. Karena tidak seperti biasanya.
" Ada bunga yang bermekaran nih, merekah seperti bunga di taman." sindir Dea pada Asil dengan tertawa kecil.
" Siapa yang bermekaran ?" tanya Asil yang tidak mengerti sindiran Dea.
Novi yang mengerti maksud Dea, langsung menjawab.
" Siapa lagi kalau bukan kamu, Asil." jawab Novi sambil tersenyum manis pada Asil.
Dea dan Novi melihat Asil yang dilanda dengan kebingungan tertawa.
Beberapa menit kemudian,
Bel pintu apartemen berbunyi, Arga membuka pintu ternyata makanan delivery dari restauran miliknya telah tiba.
Arga langsung membawa ke meja makan dan menata semua makanan. Lalu Arga memanggil Asil di kamarnya.
" Asil, makanannya sudah dat..." kata Arga yang memanggil Asil namun belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Arga terdiam dan terpaku melihat Asil yang tertawa bahagia bersama Dea dan Novi.
Aku pernah melihat tawanya saat dia masih kecil. Batin Arga.
Lalu Arga segera menghampiri mereka bertiga,
" Makanannya sudah datang, apa masih mau bergurau disini ?" tanya Arga dengan tegas.
Mereka bertiga seketika diam mendengar suara Arga.
" Iya, Pak." jawab Asil lalu mengajak Dea dan Novi untuk makan malam bersama.
Arga berlalu keluar kamar di ikuti Asil, Dea, dan Novi ke meja makan.
Asil, Dea dan Novi terdiam melihat meja makan yang penuh dengan makanan lezat.
Sungguh lezatnya makanan di rumah Pak Arga. Batin Novi terkesan.
Sungguh orang kaya sejagat raya nih Pak Arga.
__ADS_1
Batin Dea terkesan juga.
Wah!!! Semalam aku bermimpi apa?
Sampai dapat makanan sebanyak ini. Apa Pak Arga merasa kasian padaku hingga memberikan makanan sebanyak ini karena aku habis sakit.
Gumam Asil dengan pelan dan merasa ini terlalu berlebihan.
" Kenapa kalian diam disitu?"
" Apa makanan ini lebih enak di pandang daripada di makan?" kata Arga yang membuyarkan lamunan mereka bertiga.
" Iya, Pak. Kita akan segera makan." jawab Dea dan Novi bersamaan. Lalu mereka duduk diikuti Asil.
Tanpa ada rasa canggung mereka segera makan malam bersama.
Asil yang hanya melihat makanan sebanyak itu merasa sudah kenyang.
" Apa kamu tidak makan, Asil?" tanya Arga yang sedari tadi melihat Asil yang tak kunjung mengambil makanan.
" Temanmu saja makan dengan lahap." sindir Arga pada Novi dan Dea.
Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...
Novi dan Dea tersedak mendengar sindiran Arga. Dea dan Novi segera mengambil air putih di hadapannya. Dan mereka berhenti makan.
" Maaf, Pak. Sikap saya dan Dea kurang mengenakkan makan malam anda." kata Novi.
" Oh. Tidak begitu. Silahkan lanjutkan makan kalian." kata Arga yang dingin.
" Asil, makanlah. Setelah itu ke kamar." perintah Arga yang meninggalkan meja makan.
" Baik, Pak." jawab Asil lalu melanjutkan makan.
Dea dan Novi juga melanjutkan makan malam mereka. Yang sebenarnya Dea merasa sangat tidak nyaman makan bersama Pak Arga.
Tapi apa daya yang sedari tadi belum makan.
" Asil, setelah ini kita pamit pulang ya. tak enak kalau kita berlama-lamaan disini. Walaupun niat kita menjenguk kamu, Asil." kata Dea.
" Iya, aku ngerti kok, Mbak Dea." kata Asil.
Setelah makan Dea dan Novi pamit untuk pulang.
" Aku pulang ya, Asil. Cepatlah masuk kerja kalau sudah baikan." kata Novi.
" Iya, Nov. kalian hati-hati ya." kata Asil sambil tersenyum.
Lalu Asil pergi ke kamar. Arga sudah menunggu disana. Asil segera mendekat di depan Arga.
" Ada yang ingin dibicarakan, Pak?" tanya Asil.
" Duduklah !" kata Arga menaruh ponselnya dan menyuruh Asil duduk.
__ADS_1
" Apa kamu sudah selesai makan?" tanya Arga.
" Sudah, Pak. Mbak Dea dan Novi juga sudah pulang. Mereka langsung pulang tidak pamit dulu sama bapak. Karena mereka merasa sangat sungkan dan berterima kasih untuk makan malamnya." jawab Asil yang mengetahui maksud pertanyaan Arga.
" Hemm. " kata Arga yang hanya berdehem.
" Bapak mau tanya apa lagi?" tanya Asil ingin tahu.
" Apa kamu menerima perjodohan ini ?" tanya Arga dengan rasa sangat ingin tahu.
Kenapa Pak Arga menanyakan ini sih.
Jawabku harus apa?
Ini antara jujur dan tidak. Batin Asil yang bingung harus menjawab apa karena takut menyakiti hati Pak Arga.
" Jawablah kalau kamu merasa sudah mendapat jawaban." kata Arga yang melihat Asil seperti bingung untuk menjawab.
" Iya, Pak. Apa bapak ada yang harus di bicarakan ?" tanya Asil.
" Tidak ada. Saya tidak akan memaksa orang sakit untuk menjawab semua pertanyaan saya." jawab Arga yang mulai menjengkelkan dan beranjak pergi dari kamar.
Ish. Dasar Raja Hutan. Menjengkelkan sekali dia. Gumam Asil dengan kesal.
" Satu lagi kalimat saya, hati ini saya akan pindah di apartemen saya sendiri. Jadi, jagalah tubuhmu!" kata Arga berbalik keluar kamar dengan senyum yang tidak terlihat dari mata Asil.
" Dengan senang hati, Pak." teriak Asil menjawab dan kesal.
Saat Arga mengambil ponsel di ruang tengah. Arga mendengar suara orang makan dari meja makan. Ia segera ke meja makan untuk melihat siapa yang makan. Ternyata Sekretaris Rio yang sedang makan dengan lahap.
" Haih. Sedang apa kamu ?" tanya Arga yang berada di depan Rio.
" Sedang makan, Ga." jawab Rio tetap makan dengan lahap.
" Tak tersedak juga kamu." kata Arga lalu duduk di meja makan.
" Kalau aku kaget akan tersedak, Ga." jawab Rio sambil makan.
" Telanlah dulu yang ada di dalam mulutmu itu." kata Arga sinis.
Jangan lupa vote, klik favorit♥️♥️♥️♥️, like, komentar, populerkan agar banyak yang read yaaa.....
Love you para readers ♥️♥️♥️♥️💕💕💕💕
#Ayo support author...
#Salam semangat...
#Para readers....
#😘😘😘😘....
#.😍😍😍😍😍...
__ADS_1