
**Deg...
Suami Tante Jihan**...
Asil tersentak kaget mendengar jawaban pak Hendra seketika ia mengingat Tante Jihan nya.
Uhh...
"Kepala ku sakit sekali!" Seru Asil memegang kepalanya.
"Asil, kamu tidak apa-apa! Saya cuma ingin mengatakan dengan jujur, Nak." Kata pak Hendra mendekat dan merasa bersalah atas jawabannya pada Asil.
"Saya hanya ingin membantu kamu mengingat semua dengan perlahan dan tidak ada maksud lain, nak Asil." Tambah pak Hendra.
"Saya minta maaf, nak Asil. Istirahat lah, semoga cepat sembuh!" Kata pak Hendra lalu keluar dari kamar Asil.
"Sakit... Rasanya ingin muntah dan sangat pusing." Rintih Asil pelan.
"Nona, maafkan pak Hendra ya. Maksud pak Hendra baik, tidak ada maksud lain." Kata bi Ima menenangkan Asil.
"Tidak apa-apa Bu. Saya mengingat pernah melihat orang itu dan ternyata suami Tante Jihan." Kata Asil dengan pelan.
"Apa nona mau saya panggilkan dokter?" Tanya bi Ima pada Asil.
"Tidak, tidak perlu. Saya mau minum obatnya saja." Jawab Asil pelan dan masih merasa sakit.
"Iya, non. Saya bantu ya!" Kata bi Ima sambil menyiapkan obat dan air minum.
"Hm. Bu kemana ibu dan bapak tadi?" Tanya Asil pada Bi Ima setelah minum obatnya.
"Pak Hasyim sama Bu Siti ya non, sedang keluar mencari makan." Jawab Bi Ima sambil menaruh gelas.
"Mereka benar orang tua saya, Bu? Aku tidak bisa mengingat semua masa lalu ku." Tanya Asil dengan pelan lalu ia meneteskan air matanya yang perlahan membasahi pipinya.
"Non, jangan menangis. Nanti bibi juga ikut sedih. Iya, benar mereka adalah orang tua nona. Nanti bibi bantu agar mengingat semua dengan pelan-pelan. Sudah ya non, nanti bibi ikut sedih juga." Jawab bibi Ima yang akan menangis juga.
"Iya, Bu. Bantu aku agar mengingat semuanya." Kata Asil sambil menoleh ke bibi Ima dan memegang tangannya.
"Iya, non. Bibi akan bantu nona Asil agar mengingat semuanya. Tapi, nona Asil panggilnya bibi saja ya, jangan "Bu"." Seru bibi Ima sambil tersenyum dan membalas menggenggam tangan Asil.
"Iya, Bi. Bibi, saya mau tanya, kemana suami Tante Jihan kok langsung pergi tadi?" Tanya Asil.
"Oh... Pak Hendra tadi terburu-buru karena akan pergi ke Amsterdam, non. Menyusul anaknya di sana karena pesawatnya akan berangkat jam sekarang." Jawab bibi Ima.
"Oh..." Jawab Asil dengan mengangguk pelan.
Saat berbincang dengan bibi Ima, terdengar suara yang berjalan mendekat pada pintu kamar Asil.
Tap...Tap... Tap...
Ceklek....
Suara membuka pintu...
__ADS_1
"Asil... Apa kamu sudah lebih baik nak?" Tanya bu Siti sambil berjalan masuk bersama pak Hasyim.
"Eh, sudah bu." Jawab Asil pelan.
"Syukurlah nak, ibu mau pergi sebentar dulu." Kata Bu Siti yang akan beranjak pergi.
"Tunggu Bu. Mau kemana ibu, baru masuk kok mau keluar lagi?" Tanya pak Hasyim yang memberhentikan langkah Bu Siti.
"Mau ke dokter, pak." Jawab Bu Siti.
"Mau ngapain Bu?" Tanya pak Hasyim.
"Mau tanya apa sudah boleh pulang, pak. Ibu tidak sabar ingin Asil segera pulang ke rumah. Dan Adel juga menunggu kakaknya cepat pulang." Jawab Bu Siti antusias.
"Ibu... Asil ini baru sadar kenapa mau cepat pulang." Kata pak Hasyim sambil menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah Pak, siapa tahu boleh pulang kan." Seru Bu Siti melanjutkan langkahnya.
Blam...
Menutup pintu...
"Rasanya pusing mikirin ibu ini... Yang mau nostalgia masa muda... Yang mau itu, yang mau ini dan sekarang mau apa lagi." Gumam pak Hasyim yang terdengar di telinga Asil dan bibi.
Bibi Ima dan Asil tersenyum melihat tingkah Bu Siti dan pak Hasyim.
Flashback to Bu Siti.
Kenapa tidak ada sahutan dari dalam...
Gumam Bu Siti.
"Ada yang bisa saya bantu ibu?" Tanya perawat itu yang mengagetkan Bu Siti.
Aaargh....
Tiiittttttttt.... (sensor)
He-he-he... Perawat itu tertawa pelan.
"Ibu mau mencari dokter ya?" Tanya perawat itu.
"Iya, Mbak. Tapi mbak perawat ini apa tidak bisa mengagetkan saya. Saya kalau kaget bisa bicara yang tidak baik dan aneh." Jawab Bu Siti sambil malu.
"He-he-he... Tidak kok Bu. Pak dokter sedang memeriksa pasien di ruang lain. Ibu bisa menunggu sebentar disini." Kata perawat itu.
"Iya, mbak." Jawab Bu Siti.
Beberapa menit kemudian dokter datang.
"Oh, ibu Siti. Ada perlu apa kesini?" Tanya dokter itu.
"Silahkan masuk." Tambah dokter sambil membuka pintu ruangnya.
__ADS_1
"Iya, dok." Jawab Bu Siti sambil masuk.
"Silahkan duduk, Bu Siti." Kata dokter menyuruh Bu Siti.
"Dokter, apa anak saya sudah boleh pulang?" Tanya Bu Siti.
"Saya lihat dulu kondisinya, kalau sudah membaik boleh pulang. Kenapa ibu ingin pasien segera pulang?" Tanya dokter penasaran.
"Saya mau merawat anak saya di rumah, dok. Agar ingatannya kembali seperti semula." Jawab Bu Siti dengan santai.
"Hehe... Disini juga bisa merawatnya, Bu. Untuk masalah ingatannya perlahan akan sembuh dan mengingat semuanya." Kata dokter.
"Beda dok, di rumah lebih efisien untuk membantu ingatannya dok." Seru Bu Siti.
"Iya, Bu Siti. Nanti saya lihat dulu kondisinya."
Kata dokter.
"Tolong di usahakan ya dok." Pinta Bu Siti sambil berdiri dan pamit pergi.
Ibu mertua Arga ini lucu sekali. Lebih efisien di rumahnya. Gumam dokter sambil tertawa pelan.
"Halo, Sekretaris Rio!" Kata dokter itu menelpon sekretaris Rio.
"Iya, ada perlu apa?" Tanya Sekretaris Rio.
"Apa bisa di sambungkan ke Tuan Arga?" Jawab dokter itu.
"Katakan!" Kata Arga dengan dingin.
"Tuan Arga, barusan ibu Siti meminta untuk pasien di perbolehkan pulang, apa tuan memperbolehkan pasien pulang dalam keadaan belum stabil?" Tanya dokter itu dengan hati-hati.
"Bagaimana kamu mengecek kondisi calon istri saya? Kenapa kamu bertanya pada saya? Apa kamu sebagai dokter harus menunggu keputusan dari saya yang bukan seorang dokter?" Jawab Arga dengan kesal.
"Uh... Bukan, begitu tuan. Anda bilang saya harus selalu memberi informasi pada tuan tentang keadaan pasien." Jawab dokter itu dengan bergetar.
"Tidak boleh... Tut... Tut..." Kata Arga singkat dan mengakhiri panggilan.
"Dasar Arga gila... Pengen gue nikahin saja itu istrinya biar tahu sakit hati gue." Gumam dokter itu dengan kesal.
Flashback off.
"Asil, ibu tadi sudah meminta ke dokter agar kamu bisa segera pulang." Kata Bu Siti dengan senang.
"Iya, Bu. Aku ingin istirahat dulu!" Kata Asil pelan.
"Iya, nak. Banyaklah istirahat agar cepat pulang." Seru Bu Siti sambil membantu Asil berbaring.
"Ibu ini aneh." Kata pak Hasyim.
Jangan lupa like setiap baca perbabnya, view, kritik, dan saran readers, klik favoritnya💓💓💓 dan follow Author ya. Jangan lupa memberi vote ya...
Terimakasih banyak🙏***
__ADS_1