Cinta Yang Dulu,Datang Kembali

Cinta Yang Dulu,Datang Kembali
Eps 52


__ADS_3

"Ibu ini aneh." Kata pak Hasyim.


"Aneh gimana Pak. Ibu berharap Asil segera pulang dan berkumpul seperti dulu, itu saja mau ibu." Kata Bu Siti menjauhkan diri dari Asil.


"Iya, iya Bu. Bapak hari ini yang mengalah." Seru pak Hasyim dengan tersenyum sambil memeluk bahu Bu Siti.


"Memang dari dulu bapak ini tetap sabar." Kata Bu Siti merayu sambil tersenyum.


"Maaf, pak Hasyim dan Bu Siti saya mau pergi keluar sebentar." Kata Bi Ima sambil membuka pintu dan tersenyum.


"Iya bi!" Jawab Bu Siti dengan wajah memerah.


"Kenapa wajah ibu memerah begitu?" Tanya pak Hasyim menggoda dengan tertawa kecil.


"Hanya panas di wajah saja." Jawab Bu Siti dengan tenang.


Tak tertahan tawa pak Hasyim sedikit keras melihat tingkah Bu Siti yang unik.


**Flashback to Arga.


Drrt... Drrt...


Bunyi ponsel Arga dan Rio berdering beberapa kali secara bergantian.


Arga dan Sekretaris Rio tidak dapat mendengar suara ponselnya yang berada di laci meja kerja masing-masing.


Saat itu Arga dan Sekretaris Rio sedang berada di ruang meeting bersama rekan kerja yang sedang mengadakan investasi.


Perasaan Arga yang beberapa hari ini terasa sangat tidak nyaman dan kepikiran keadaan Asil membuat pikiran Arga kosong.


"Pak Arga... Pak Arga...!" Panggil Sekretaris Rio sambil melambaikan tangan tepat di depan wajah Arga.


"Pak..." Panggil Sekretaris Rio dengan sedikit keras dan menepuk bahu Arga dengan pelan.


"Eh... Iya!" Seru Arga kaget dan membuyarkan lamunannya.


"Bapak tidak enak badan hari ini?" Tanya Sekretaris Rio.


"Tidak, saya baik-baik saja." Jawab Arga sambil memijit pelipisnya.


"Kalau bapak sedang tidak enak badan, tidak apa-apa kita undur saja meeting hari ini. Menunggu bapak sudah membaik." Kata rekan kerja sama itu.

__ADS_1


"Saya tidak apa-apa. Kita lanjutkan lagi." Jawab Arga menyuruh melanjutkan meeting dan investasinya.


Setelah selesai meetingnya, Arga meminta Rio untuk menelpon ke dokter pribadinya Asil. Menanyakan keadaan Asil.


Saat Rio membuka ponselnya, terdapat panggilan masuk dari pak Hendra. Dengan sigap Rio menerima panggilan itu.


"**Halo pak Hendra, ada yang bisa saya bantu?" Kata sekretaris Rio.


"Jemput saya di bandara besok sore, Yo. Kamu sama Arga darimana saja tidak menerima panggilan dari saya. Apa kamu sama Arga sesibuk itu?" Tanya pak Hendra dengan geram.


"Mohon maaf pak, tadi saya ada meeting investasi bersama rekan kerja disini." Jawab Rio dari Amsterdam.


"Jangan lupa besok sore jemput saya di BAN-DA-RA." Kata pak Hendra mengakhiri panggilan.


"Iya...." Kata Sekretaris Rio melihat ponselnya**.


Dasar anak dan bapaknya sama-sama menyebalkan...


Gumam pelan Rio sambil Videocall dokter pribadi Asil.


"**Halo, dok. Bagaimana keadaan nona Asil?" Tanya Sekretaris Rio.


"Iya, halo Yo. Sudah membaik besok pagi sudah di perbolehkan pulang." Jawab dokter itu dari Indonesia.


"Ha-ha-ha... Iya, iya. Aku mau menitipkan pesan untuk bos mu yang dingin itu, apakah aku bisa segera di pindahkan ke rumah sakit yang dulu setelah selesai menangani calon istrinya itu?" Kata dokter itu.


"Akan saya sampaikan, tenang saja." Seru Sekretaris Rio sambil tersenyum.


"Btw, calon istrinya Arga cantik dan manis juga ya." Kata dokter itu.


"Seorang CEO yang dingin dan cuek itu bisa bertemu dengan wanita sepertinya." Tambah dokter itu.


"Itu namanya su..." Jawab Sekretaris Rio yang berhenti melanjutkan kata-katanya.


Ehem... Hem...


Suara deheman dari belakang Sekretaris Rio nampak seorang pria yang berdiri tegap dan menatap ponsel Rio.


"Kalian sedang ghibahin siapa? Sepertinya kalian sudah melupakan pekerjaan kalian yang sedang menumpuk seperti jerami." Sahut Arga yang membuat dokter itu dan Sekretaris Rio diam membeku.


Tanpa permisi Arga mengambil alih ponsel itu dan melihat siapa yang berada di Videocall itu.

__ADS_1


"Dokter, apa kamu sudah berani mengatakan calon istri seorang CEO dingin dan cuek itu cantik dan manis? Apa kamu tidak takut posisi kamu yang terambang dengan ke waspadaan?" Tanya Arga dengan tatapan tajam dan dingin.


"Oh... Tidak... Maksudnya... Seperti ini... Aku hanya bertanya dapat dari mana calon istri seperti dirinya?" Kata dokter itu dengan terbata-bata dan gugup.


"Kamu kira calon istriku itu barang, itu semua sudah jodoh dari lahir." Jawab Arga dengan membentak.


"Laksanakan perintah, agar kamu segera kembali ke habitatmu." Seru Arga dengan kesal.


"Iya, baik. Anda memang seperti malaikat 👼 bagiku. Ha... Ha... Ha..." Jawab dokter itu dan mengucapkan selamat tinggal.


"Dan kamu Sekretaris Rio, bergumam apa kamu tadi setelah menerima panggilan dari pak Hendra." Tanya Arga sambil melempar ponsel Rio ke arah Rio.


Sekretaris Rio menangkap ponselnya dengan tepat di kedua tangannya.


"Saya tidak bergumam apa-apa, Pak!" Jawab Sekretaris Rio sambil tersenyum paksa.


"Berhati-hati lah kalau tidak ingin di buang ke Segitiga Bermuda." Kata Arga membisikkan di samping telinga Rio sambil berjalan ke kantor utama.


"Iya, pak!" Jawab Rio lalu mengikuti Arga dari belakang.


Tiba di kantor utama Arga duduk dengan bersandar di kursi kerjanya. Lelah menghadapi semua pekerjaan dan memikirkan kondisi Asil.


"Bagaimana kabar dari dokter pribadi Asil?" Tanya Arga pada Sekretaris Rio.


"Nona Asil sudah membaik dan besok pagi sudah di perbolehkan pulang waktu Indonesia. Dan kondisi nona Asil setelah sadar, ia mengalami hilang ingatan sementara." Jelas Sekretaris Rio yang berhenti memilah kertas yang akan dibukukan.


Brak...


Tangan Arga menggebrak meja kerjanya, dengan wajah kesal dan marah ia meremas rambut di kepalanya.


"Apa dokter itu tidak bisa bekerja dengan lebih maksimal." Kata Arga dengan marah.


"Untuk apa aku membayarnya kalau pekerjaannya hanya setengah-setengah." Tambah Arga dengan amarah yang meluap.


"Tenang, Ga. Tenang... Semua sudah bekerja dengan maksimal. Setelah benturan keras itu dokter melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawa calon istrimu. Dan juga semua orang berusaha untuk kesembuhan Asil, Ga." Kata Rio menenangkan hati Arga sambil berjalan dan menarik tangan Arga dari rambutnya.


"Tidak ada gunanya kamu marah dan kesal seperti itu. Pasti Asil akan segera mengingat semuanya dengan perlahan." Tambah sekretaris Rio.


"Kenapa ini bisa terjadi. Hah."


"Apa yang harus aku lakukan saat ini?"

__ADS_1


"Sewaktu Asil masih koma, aku masih melihatnya berada disampingnya walau hanya sebentar. Waktu istirahat ku, aku pergi ke sana dan menjaganya. Dan sekarang setelah dia sadar, dia mengalami hilang ingatan. Apa dia masih bisa di sebut seorang dokter." Kata Arga merasa kecewa, tidak puas, kesal, dan hati yang remuk mendengar berita itu.


"Tenang, Ga... Tenang saja dulu!" Kata Sekretaris Rio**.


__ADS_2