
Aku dan Mbak Dea masuk dengan menunduk lalu asisten pun keluar melihat tatapan Sekretaris Rio yang mengisyaratkan untuk pergi melanjutkan pekerjaannya.
Apa yang terjadi di dalam ruangan Pak Arga? Lalu hukuman apa yang di berikan Pak Arga pada Asil dan *****Dea*****?
Aku dan Mbak Dea berjalan mendekat ke Pak Arga dengan menunduk, tidak berani melihat ke arah wajah Pak Arga.
"Kalian tahu kesalahan kalian apa?" Tanya Sekretaris Rio pada ku dan Mbak Dea.
"Tahu, Pak." jawab ku dan Mbak Dea.
"Kamu, Dea sebagai senior memberi contoh yang baik pada junior kamu." sungut Pak Arga kepada Dea dengan tegas dan tatapan sangat dingin.
"Maaf, Pak. Bukan maksud saya memberi contoh buruk pada junior tapi..." balas Dea namun di potong oleh Pak Arga.
"Bisa-bisanya kamu masih bisa menjawab perkataan saya." Bentak Arga pada Dea sambil menggebrak meja.
*****Brak*****...
Aku dan Mbak Dea tersentak, rasanya jantung ku seakan ingin lepas.
"Apa kamu tahu hukuman apa yang pantas untuk mereka berdua?" Tanya Pak Arga pada Sekretaris Rio.
Sekretaris Rio belum menjawab sudah di sahut oleh Asil dan Dea.
"Tidak, Pak." Sahut ku dan Mbak Dea dengan bersamaan.
"Siapa yang bertanya pada kalian?" bentak Pak Arga pada ku dan Dea.
Eeeeeh... Salah jawab aku... Tamatlah riwayat ku. Batin Dea.
*A**duh, Mbak Dea... Kenapa kita yang* *****jawab*****?
Batin ku seraya melirik Pak Arga. Dia melihat ke arah ku dan Mbak Dea dengan tatapan marah dan kesal.
"Lanjutkan!" ketus Pak Arga dengan kesal. Mereka berdua diam membeku tak bisa berkutik.
"Selesaikan semua laporan keuangan yang ada di karyawan lain sekarang. Tidak ada yang boleh pulang sebelum laporan ini selesai hari ini." perintah Sekretaris Rio dengan tegas dan sangat ringannya mengatakan hukuman itu.
Aku dan Mbak Dea seakan mendongakkan wajah kita namun tidak berani walau hukuman itu berat bagi anak baru seperti ku yang artinya harus lembur.
*B**aru pertama masuk kerja udah di suruh lembur. Sudah nasib aku*, *****Ibu*****!
Batin ku menjerit ingin menangis, dengan hati yang sedih mau tidak mau harus di kerjakan.
"Suruh Doni dan Faris membantu kalian berdua untuk selesaikan laporan itu. Jika tidak selesai hari ini kalian berempat tidak aka mendapatkan gaji bulan depan." pekik Pak Arga tersenyum sinis dan memicingkan bola matanya ke arah kami berdua.
"Baik, Pak." ucap ku dan Mbak Dea bersamaan.
Lalu aku dan Mbak Dea keluar dari ruangan Pak Arga. Aku dan Mbak Dea menemui Doni dan Faris untuk memberi tahu hukuman dari Pak Arga yaitu menyelesaikan laporan keuangan dan laporan di bagian lain.
Berkas laporan keuangan dan laporan bagian lain sudah terkumpul semua seperti tumpukan jerami yang harus di selesaikan hari ini juga.
"What?" tangkas Doni tersentak.
"Sebanyak ini laporannya. Mulai kapan ini kok banyak banget?" tambah Doni dengan geram.
__ADS_1
"Sudahlah jangan kesal gitu. Mending kita selesakan laporan ini daripada kita di nggak dapat gaji," ujarnya, "Iya kan, Dea." imbuh Faris seraya menepuk bahu Dea.
"Jangan banyak omong deh kalian berdua. Cepat selesai cepat pulang. Kasihan tuh si Asil, baru pertama kerja udah di suruh lembur." sambung Dea memandang ku kasihan.
Aku hanya membalas dengan senyuman tapi dalam hati ku ingin ku ulek tuh Pak Arga.
Sore pun tiba para karyawan lain sudah meninggalkan kantor tinggal kita berempat yang ada di ruangan tersebut.
Tak terasa hari sudah malam menunjukkan pukul 7 malam. Mereka masih sibuk dengan kertas laporan yang di pegang masing-masing di tangan mereka.
"Kamu gak lapar nih prend (friends)?" Tanya Doni pada kami bertiga.
"Lapar sih tapi tinggal dikit nih selesai." sahut Dea masih fokus depan komputer.
"Gimana kalau selesai laporan ini kita makan bareng." Ajak Faris seraya tersenyum pada kami bertiga.
"Mau apa tidak, Asil?" tanya Faris padaku.
"Mau, Pak." balas ku masih tetap fokus pada layar komputer. Mereka melanjutkan pekerjaan masing-masing.
"Akhirnya, selesai juga nih." Seru Dea sambil meregangkan otot tubuhnya.
"Kamu udah selesai, Asil." Tanya Dea.
"Sudah, Mbak." balasku.
Setelah selesai semua, mereka berempat pulang dan mencari cafe serta makan bersama dengan berbincang-bincang bercanda bersama.
*Flash Ba**ck to Arga*.
Setelah Pak Arga memberi hukuman pada mereka berempat. Pak Arga melanjutkan pekerjaan menandatangi berkas-berkas yang di berikan oleh Sekretaris Rio. Ponsel miliknya berdering panggilan masuk dari papanya. Dia hanya menengok dan menghiraukan panggilan itu. Seketika panggilan mati berdering lagi sampai beberapa panggilan masuk lagi masih tetap di hiraukan olehnya.
Tak lama kemudian ponsel Sekretaris Rioberdering.
Drrrt... Drrrt... Drrrt...
Sekretaris Rio mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan menerima panggilan.
"Suruh dia menerima panggilan dari saya, Yo!" Perintah Pak Hendra (papanya Arga) dari ponsel.
"Baik, Pak." Jawab Sekretaris Rio. Lalu mengakhiri panggilan.
"Siapa?" Tanya Pak Arga pada Sekretarisnya.
"Papa anda meminta anda untuk mengangkat telfon darinya." Jawab Sekretarisnya.
Ponsel Pak Arga berdering lagi panggilan masuk dari papanya. Dia langsung menerima panggilan itu.
"Ada apa lagi, Pa?" Tanya Arga dengan kesal menjawab panggilan dari papanya karena tahu pasti yang di bahas masalah perjodohan.
"Cepatlah pulang ke rumah papa, ada urusan penting yang harus kita bicarakan." Pinta Pak Hendra menutup telfon sebelum tahu jawaban dari anaknya.
"Pa... Arga..." *b**e**lum sempat menjawab sudah di matikan sama papa*.
Batin Arga kesal sambil menaruh ponsel setengah di banting.
__ADS_1
"Sudahlah, Pak. Turuti saja apa mau Pak Hendra mungkin papa anda sudah tidak sabar menginginkan cucu dari anak tunggalnya." seru Sekretaris Rio sambil tertawa kencang.
"Aaaaarrrrhhhhggg!" Raung Pak Arga sambil mengacak-acak rambutnya.
"Dasar Sekretaris gillaaaaaa." teriak Pak Arga dalam ruangan. Sekretaris Rio pun tertawa sambil keluar dari ruangan Arga.
*Fla**sh back off*.
Mereka berempat pulang setelah makan di cafe.
Asil baru sampai rumah jam 11 lewat.
*To**k... Tok... Tok*...
"Assalamualaikum!" salam ku seraya mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalamsalam!" Jawab Bu Siti dari dalam lalu membukakan pintu.
"Pulang kerja kok malam banget, Nak? Ibu khawatir takut terjadi apa-apa." Tanya Bu siti.
"Iya, Bu. Tadi lembur padahal hari pertama masuk kerja." balas ku seraya mencium punggung tangan Bu Siti.
"Ibu siapin makan ya, Nak?" kata Bu Siti berjalan ke dapur.
"Asil sudah makan di luar sama temen." Jawab ku menutup pintu. Lalu ibu mengurungkan niatnya.
"Asil, ada yang mau diomongin sama kamu..." kata Bu Siti yang terpotong sama Pak Hasyim.
"Biar istirahat saja, Bu. Kasian baru pulang kerja." ucap Pak Hasyim seraya menyenggol lengan ibu.
"Iya, Pak. Tapi mandilah dulu lalu istirahatlah, besok saja kita bicarakan." perintah Bu Siti.
Bu Siti yang melihat Asil lelah menyuruh mandi dan tidur. Sebenarnya ada yang ingin di bicarakan pada Asil lalu mengurungkan niatnya.
Bu Siti dan Pak Hasyim kembali ke kamar tidur.
Selesai mandi air hangat, Asil segera menuju ke kamar dan tidur sambil merebahkan tubuhnya.
Sepertinya ibu mau bicara apa ya? Ada yang serius.
Ah. Sudahlah yang penting sekarang aku tidur besok kerja lagi. Batin ku seraya memeluk guling yang ada di sebelah.
Apa Bu Siti memberitahu kalau Asil akan di jodohkan dengan seorang laki laki tampan atau laki laki buruk rupa?
Dan betapa kagetnya Asil yang akan di jodohkan?
Author
Maaf ya para readers 🙏
Author baru bisa update hari ini dikarenakan anak Author yang kecil belum kunjung sembuh.
Tapi Author berusaha update terus dan semoga karya Author semakin banyak pembacanya.
Terimakasih.
__ADS_1
Jangan lupa vote readers tercinta tersayang.😍😍😘😘
Dan juga klik favorit ♥️♥️♥️♥️ readers***.