Cinta Yang Dulu,Datang Kembali

Cinta Yang Dulu,Datang Kembali
Eps 66


__ADS_3

Asil menoleh ke arah tangan Dea dan melepaskannya sambil menghembuskan nafasnya.


Huft...


"Mbak Dea, kita mau nunggu siapa? Ini sudah larut malam." Seru Asil dengan malas.


Aku merasa ada yang aneh. Sekretaris Rio datang kesini dan baru pulang dari Amsterdam. Terus kenapa mas Arga tidak menghubungi ku dan tidak ada kabar sama sekali.


Batin Asil sambil duduk.


"Sekretaris Rio pulang sama pak Arga juga kan?" Tanya Asil dengan serius.


"Iya, nona." Jawab sekretaris Rio dengan santai.


Tanpa bertanya lagi, Asil mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Arga namun tidak bisa di hubungi. Asil mencoba menghubungi kembali namun tidak ada jawaban.


Kemana dia? Apa yang terjadi sama dia.


Aku semakin khawatir dengannya.


Gumam batin Asil dengan sedikit kebingungan.


"Hei... Asil!" Panggil Dea melambaikan tangannya pelan.


"Eh... Apa sih mbak Dea? Ngapain juga tangannya ini?" Seru Asil langsung memegang telapak tangan Dea.


"Sepertinya kamu tidak sabaran." Kata Dea lalu menarik tangannya.


Sekretaris Rio hanya tersenyum, lalu mengambil ponselnya dan melihat ponsel seperti ada pesan masuk. Dengan wajah menunduk, sekretaris Rio mengatakan bahwa pak Arga tidak bisa datang ke kedai itu.


"Apa yang terjadi? kenapa tidak bisa?" Tanya Asil antusias dan khawatir.


"Ada sesuatu yang penting, nona." Jawab sekretaris Rio.


"Kenapa begitu kesal sekali? Kamu tidak perhatian padaku?" Tanya Dea sambil memegang tangan Asil.


"Tidak, tidak. Bukan begitu. Aku tahu kalau kalian itu berpacaran. Jadi aku ucapin selamat buat kalian berdua." Jawab Asil dengan melambaikan kedua tangannya.


"Sudahlah, kamu masih kesal karena pak Arga yang dingin itu kan." Kata Dea.


"Tidak kok, mbak Dea. Aku baik-baik saja." Jawab Asil lalu tersenyum.

__ADS_1


Aku melihat kalian berdua membuat aku iri saja.


Batin Asil dengan tersenyum.


Sekretaris Rio sesekali menarik baju lengan Dea dan melirik ke arah ponselnya. Dia memberi kode untuk melihat ponsel milik sekretaris Rio.


Dea dengan sigap mengambil ponsel Rio.


"Kita foto bersama yuk." Sahut Dea sambil tersenyum.


S**mile**...


Setelah mengambil foto, Dea mengirim pesan pada pak Arga. "Oh, iya. Kita ke toko sebentar ya. Ada sesuatu yang tertinggal disana." Ajak Dea sambil tersenyum dan berdiri.


Asil dan sekretaris Rio secara bersamaan berkata, "Apanya yang tertinggal?"


"Charger ponselku yang tertinggal. Ayo!" Kata Dea menarik lengan Rio dan tanganku.


"Jangan lupa mie Ramyun yang ku pesan di bawa juga." Tambah Dea.


"Eh... Eh... Tunggu." Seru Asil meraih tas dan kantong plastik berisi mie ramyun.


Sekretaris Rio hanya diam dan menurut dengan wajah bingung.


Seketika perasaan ku mulai senang dan kesal padanya. Raut wajahku yang sedari tadi takut berubah menjadi tersenyum dan tak terasa aku meneteskan bulir air mata.


"Mas Arga." Seru ku pelan sambil tersenyum dan kesal.


Arga melentangkan kedua tangannya sambil tersenyum dan berjalan mendekat.


"Asil." Panggil Arga dengan wajah yang bukan dingin melainkan wajah hangatnya padaku.


Aku terisak dengan tersenyum dan kesal yang bercampur aduk. Aku memeluknya dengan erat sampai air mataku yang ku coba untuk ku bendung namun meluap tanpa sadar.


"Maaf, tidak bisa memberi kabar padamu. Aku ingin memberikan kejutan padaku." Kata Arga membalas pelukan hangat dan mengusap rambut ku.


Aku merasakan betapa hangatnya pelukan kerinduan darinya. Rasanya aku tidak mau melepaskan pelukan itu.


Ehm... Ehm...


"Aku juga mau seperti itu." Kata Dea dengan keras sambil melirik sekretaris Rio.

__ADS_1


"Sini, sayang. Pelukan hangat dariku." Seru sekretaris Rio tertawa kecil yang membuat aku sadar dimana saat ini berada.


Aku melepas pelukan itu dan menatap wajah cool dari orang yang hatinya hangat. Mas Arga mengusap air mata yang membasahi pipi ku saat ini.


"Kenapa menangis. Ehm?" Tanya Arga sambil tersenyum.


"Kalau kangen dan rindu bisa menghubungiku kapan saja." Tambah Arga tersenyum lebar.


"Jahat." Kata Asil sambil tersenyum.


"Siapa yang di maksud jahat?" Tanya Arga menggoda.


"Kamu." Jawab Asil mencubit pinggang Arga.


Arga hanya tersenyum dan mengabaikan cubitan ku yang sebenarnya sakit menurut ku.


"Sekretaris Rio, kamu boleh pulang!" Suruh Arga pada Rio.


"Maaf, pak. Apa kita di suruh enyah dari sini?" Tanya Dea sambil tertawa.


"Kami sudah tahu maksudku kan." Jawab Arga dengan dingin.


"Siap. Kami pergi dulu." Jawab sekretaris Rio menarik lengan Dea.


"Eh. Tunggu dulu mie ramennya yang satu di bawa Asil." Seru Dea melepas tangannya Rio berlari padaku.


"Hei, tidak perlu." Teriak Rio.


"Hati-hati, nanti malam kamu akan habis di mangsanya." Kata Dea membisikkan pelan padaku.


"Hus. Jangan asal." Teriak Asil tersentak.


"Selamat tinggal." Teriak Dea menjauh dariku sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Goodbye be careful on the road." Teriak Asil balas senyuman.


"Waktunya kita sekarang." Kata Arga merangkul pundak ku dan masuk ke toko. Kami berjalan menaiki tangga dan sampai di depan ruangan ku.


Arga membukakan pintu untukku dan menyuruhku duduk di sofa.


Dia menaruh tas dan sebungkus mie Ramyun lalu duduk di sampingku. Aku hanya bisa diam memaku diri. Arga mengambil tanganku dan menggenggam nya dan berkata, "Aku sangat minta maaf padamu. Tidak memberi tahu kabar padamu kalau hari ini aku kembali."

__ADS_1


"Apa kamu mau menerima maafku?" Tanya Arga sambil memelas dan tersenyum.


Aku membalas jawaban maafnya dengan mengangguk. Rasanya berdebar dan sangat berdebar jantungku saat ini. Perasaan yang dulu pernah hilang karena hilang ingatan yang sementara dan kini kembali lagi. Pertemuan kami yang ke dua kali membuat ku merasa rasa sukaku padanya utuh lagi.


__ADS_2